Minggu, 16 Januari 2011

Keegoisan Semakin Subur di Kalangan Remaja

Manusia adalah makhluk ciptaan yang paling sempurna daripada makhluk lainnya. Manusia memiliki perasaan dan akal pikiran yang membuatnya dapat memikirkan dan memilih mana yang terbaik atau tidak, baik untuk dirinya maupun orang lain.
Manusia tidak dapat hidup sendiri, karena semua kegiatan dan kebutuhan memerlukan peran orang lain. Tidak ada satu orang pun yang mampu hidup sendiri, kecuali orang yang mengingkari kodratnya sebagai makhluk sosial. Namun, sekarang ini banyak orang yang memiliki kelebihan dari orang lain, sehingga membuatnya merasa tinggi hati dan meng-anggap dirinya dapat melakukan sesuatu hal tanpa bantuan orang lain. Misalnya saja orang yang memiliki kedudukan tinggi, ia akan berpikir mengenai kesenangan dan kebahagiaan dengan kedudukan dan melupakan orang-orang kecil yang juga berperan dalam kesuksesannya itu.
Hal yang demikian itu merupakan salah satu kegiatan egoisasi yang dilakukan kebanyakan orang untuk membanggakan atau menyenangkan dirinya, meskipun melukai dan menyakiti orang lain. Yang saya teliti adalah mengenai sifat keegoisan di kalangan remaja yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bergaul, remaja cenderung akan membentuk sebuah kelompok atau gank, terutama remaja putri yang terbiasa merumpi dan curhat. Di dalam kelompok yang dianggap sebagai tempat berekspresi dan bercurah cerita, kadang terjadi juga beberapa pertengkaran kecil, perbedaan pendapat, atau bahkan salah faham.
Topik yang selalu hangat dan tidak pernah bosan dibicarakan adalah mengenai pacar. Seolah-olah ada kewajiban untuk membicarakan sosok yang bagaikan sempurna tanpa cela itu. Di setiap ada kesempatan, selalu membicarakan hal yang pernah dan sering dibicarakan, sampai pendengar pun seperti hafal dengan teks cerita. Hal yang sama diceritakan berulang-uang kali.
Selama berpredikat sebagai remaja, keegoisan adalah hal yang sering dijumpai dalam pergaulan, baik dilakukan dengan sadar maupun tidak. Di antaranya:
1. Handphone
Alat komunikasi. Siapa remaja yang tidak memegang Hp? Hampir semua orang, terutama remaja, bahkan anak kecil pun pasti memiliki alat komunikasi telepon genggam. Alasan yang paling pertama dan utama yaitu untuk sebagai alat komunikasi agar memudahkan dalam berinteraksi dengan orang yang tak direntangkan jarak dan waktu. Namun, apakah semua orang dapat memanfaatkan benda itu dengan baik?
Selain keluarga, handphone digunakan juga untuk kebutuhan di luar, seperti untuk menghubungi teman dan pacar. Bahkan, waktu untuk keluarga lebih terkurangi de-ngan kehadiran ruang lingkup remaja yang kian meluas dengan pergaulannya.
Segi psikologi remaja pun berbeda dengan jenjang usia lainnya. Remaja lebih cenderung penasaran dengan hal-hal yang belum pernah diketahui dan dirasakan. Remaja adalah usia yang rawan dan sangat perlu pengawasan dari orang-orang terdekat, terutama kedua orangtua. Dengan usia yang semakin beranjak, hal-hal yang sensitif dengan kehidupan remaja merupakan hal yang seharusnya dikontrol agar tidak terjadi kecelakaan-kecelakaan di luar keadaan normal.
Dalam pergaulan remaja, keegoisan yang sering muncul adalah ketika meng-gunakan Hp, ia seolah melupakan keadaan sekitar. Orang yang tengah berbicara dengannya pun bagai angin sepoi yang menyanyikan alunan syair Melayu. Padahal, sebagai pendengar yang baik itu harus memperhatikan dan tidak menyinggung orang yang berbicara.
Kejadian yang seperti itu banyak terjadi, apalagi ketika sedang berkomuniikasi dengan pacar. Dengan alasan pertautan jarak yang begitu jauh, malah mengorbankan perasaan teman yang sedang mengajak berbicara. Bukan perbuatan sopan jika ada orang yang berbicara, ia malah asyik dengan dunia sendiri. Sadar, Kawan! Pacar itu belum pasti akan membahagiakan, ia bukan segala-galanya untuk dijadikan harapan kesetiaan. Sedangkan sahabat adalah orang yang mengerti, meskipun tidak di-tampakkan dengan perbuatan nyata di matamu.
2. Tugas kuliah/sekolah
Remaja yang baik adalah yang memikirkan mengenai kemajuan masa depan, salah satu jalan yang ditempuh adalah lewat pendidikan. Masa sekolah adalah masa perkenalan anak dengan dunia pendidikan yang akan dijadikan sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan nyata yang akan lebih membutuhkan segala kecakapan hidup.
Berbeda dengan masa kuliah. Masa di mana jenjang pendidikan lebih tinggi yang juga lebih membutuhkan kepekaan terhadap hal-hal yang membawa dampak bagi pola pikir remaja, baik pola pikir positif maupun negatif.
Setiap pekerjaan memiliki tugas yang harus diselesaikan dengan penuh tanggung jawab. Kecenderungan orang ingin mendapat nilai keberhasilan akan tinggi ketika mengetahui ada orang yang mendapat nilai lebih tinggi (saingan). Hal itu sudah biasa terjadi dalam kehidupan masyarakat, karena manusia memiliki sifat optimisme yang begitu kuat ketika telah mendapat rangsangan berupa rasa saing, walaupun antara teman.
Begitu juga dengan sekolah dan kuliah, ada tugas yang harus diselesaikan dengan optimal agar mendapat nilai keberhasilan yang sesuai dengan yang ditargetkan. Dalam masalah ini, siswa yang bergank cenderung akan mengerjakan tugas-tugas sekolah/kuliah secara bersama-sama. Pikiran kompak dan akan mendapat nilai sama menggelayut dalam pikiran.
Lain halnya ketika ada anak yang mendapat nilai paling tinggi dan disanjung-sanjung semua orang, anak yang awalnya bergank dan meyakinkan akan kompak dalam hal apa pun, akan merubah pola pikir menjadi keserakahan yang membuat orang lain gerah dengan sikap yang ditampilkan.
Memang bagus iri dengan keberhasilan orang untuk merubah diri menjadi lebih baik. Tapi jika keberhasilannya itu dihasilkan dengan cara menyinggung perasaan orang lain, tidak akan ada artinya semua nilai tinggi dan perjuangannya mencapai keberhasilan. Misalnya, ada teman yang bertanya mengenai tugas (bukan menanyakan jawaban, melainkan mengenai cara mengerjakan), anak yang terlalu ambisius dengan nilai tinggi tidak akan memberikan jawaban dari pertanyaan temannya dengan berbagai macam alasan, padahal yang bertanya itu adalah teman satu gank yang dulu menganut faham kebersamaan.
Keberhasilan orang tidak dilihat dari tingginya nilai yang didapat, tetapi dari perjuangan optimal dengan jalan yang baik untuk menuju nilai kepuasan dengan hasil yang sesuai dengan kemampuan.
3. Kesenangan pribadi
Tidak ada orang yang mau diganggu kesenangannya, ungkapan yang pasti akan menyambungkannya dengan keegoisan yang identik dengan manusia. Sifat egois akan terbawa sampai anak membaur dengan kehidupan yang lebih luas, yaitu kehidupan masyarakat.
Manusia memiliki rasa kesenangan terhadap sesuatu dan menjadikannya sebagai identitas diri. Namun, sangat tidak etis jika kesenangan terhadap sesuatu itu dijadikan sebagai media untuk mengembangkan keegoisan. Egois memiliki makna memen-tingkan diri sendiri, bukan berarti semua tindak keegoisan itu adalah tidak baik (buruk). Ada juga sikap egois yang tidak termasuk perbuatan buruk, seperti ketika terjadi bencana, orang yang lari menyelamatkan diri itu bukan termasuk perbuatan egois, karena secara kodrati manusia memang harus menjaga keselamatan dirinya. Jadi, tidak semua sifat egois itu tidak baik, malinkan tergantung pada keadaan dan situasi yang terjadi.
Berbeda halnya dengan orang yang tidak suka kesenangannya diganggu. Ia akan marah dan akan membela hal pribadi yang merupakan kesenangannya itu. Dengan pembelaan yang berlebih itulah yang membuat ia dikatakan egois.
4. Gangguan dengan tawa
“Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang!”, memang bukan ungkapan yang salah. Tertawa adalah olahraga yang menyehatkan dan paling murah, semua orang bisa melakukannya dengan sesuka hati. Tetapi, hal itu juga perlu melihat keadaan situasi dan tempat di mana aksi tertawa itu akan dilakukan. Mungkin ada orang yang tidak nyaman dengan tawa kita yang berlebih.
Tertawa yang baik bukanlah tawa yang mengeluarkan segala tenaga, apalagi bagi kaum hawa yang harus menjaga kebaikan sikap. Remaja yang masih berada dalam masa transisi akan berekspresi, salah satunya dengan media tawa. Tidak semua orang faham dan bisa menerima keadaan demikian. Maka, etika tertawa pun harus diterapkan dalam pergaulan.
Saya pernah menyaksikan remaja putri yang tertawa lepas sehingga mem-bangunkan orang yang sedang tidur, yang merupakan penghuni dari tempat ia (orang yang tertawa) bertamu. Ternyata keegoisan bisa juga terjadi dalam kegiatan yang menyenagkan, seperti tertawa tersebut. Ironis, remaja yang seharusnya menunjukkan kesopanan malah melakukan hal-hal yang mencoreng image remaja masa kini.
5. Candaan yang berlebihan
Tidak jauh berbeda dengan poin nomor empat, tidak semua orang bisa menerima perlakuan orang yang seenaknya, apalagi perlakuan yang menyakitkan. Tak sedikit orang yang suka bercanda dalam kesehariannya untuk menghilangkan stres atau mengisi waktu luang.
Namun, banyak juga keegoisan yang terjadi dalam candaan yang berlebihan ter-sebut. Sifat egois itu dikarenakan tidak adanya kepekaan yang terhadap keadaan orang. Jika candaan itu terlalu berlebihan dan menyakitkan, akan membuat orang lain merasa tersinggung dan akan memecah hubungan baik antara teman yang satu dan teman yang lainnya.
Orang yang bercanda berlebihan itu tidak memiliki rasa kebersamaan yang hanya memikirkan kesenangannya sendiri, meskipun menyakiti perasaan orang lain. Sifat-sifat keegoisan itulah yang akan membuat persahabatan dan hubungan baik akan hancur sehingga harus menghindari hal-hal yang demikian.
6. Gaya hidup
Remaja lekat sekali dengan gaya hidup yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman (mode). Mulai dari pakaian, gaya rambut, cara berbicara, serta perilaku, kebanyakan remaja akan mengikuti mode yang semakin berkembang. Dengan gaya hidup yang demikian, remaja akan lebih mengutamakan dirinya untuk menjadi pusat perhatian dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru. Tak jarang mereka mencoba sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan. Contohnya seperti akibat kurangnya pendidikan pengetahuan tentang sex dan kurangnya pendekatan agama kepada anak maka anak akan terjerumus ke pergaulan bebas.

Rabu, 12 Januari 2011

Kehebohan di Tahun Baru Masehi

TAHUN BARU M LEBIH HEBOH DARIPADA TAHUN BARU H

Tiga puluh satu adalah angka yang fenomenal bagi kebanyakan orang, apalagi ketika di bulan terakhir dalam tahun. Menuju pergantian hari, menanti malam seolah menunggu antrian masuk surga.
Apa artinya tahun baru Masehi? Tanggal 31 Desember yang dinanti akhirnya datang. Berbagai acara direncanakan untuk nanti malam. Harus mengadakan acara penyambutan tangggal baru, harus memeriahkan satu malam yang hanya datang satu kali dalam kurun tahun. Ya, HARUS!
Tapi apakah mereka (kebanyakan orang muslim) tidak sadar bahwa menyalakan kembang api, petasan, menuip terompet, semuanya itu adalah perbuatan nonmuslim? Apa untungnya menyambut malam biasa itu? Lain kejadian dengan malam tahun baru Hijriah, tiap rumah dan tempat-tempat lengang bagai tak ada kehidupan. Jika dibandingkan, kedua malam itu sangat bertolak belakang.
Penyambutan terhadap tahun baru Masehi tak menguntungkan apa pun, hanya janji kesenangan palsu para syaitan yang beroperasi di malam tahun baru Masehi. Sedangkan pada malam tahun baru Hijriah, kita dapat mengevaluasi amal perbuatan selama setahun belakang. Malam itu baiknya kita isi dengan bertawadlu kepada Yang Maha Menciptakan, yang akan menambah tebal catatan di tangan malaikat Rokib.
Bukan kemakluman, adalah suatu kefahaman jika mereka tetap bergerilya. Kemenangan sejati bukan dilihat dari keceriaan yang ia tampakkan dalam kepalsuan luar, melainkan suatu yang hakiki yang hanya dapat dirasakan dengan pendalaman mata hati untuk tetap berusaha menjadi insan pilihan.
Tak aneh jika banyak orang mengeluhkan kepenatan di jalan-Nya. Mereka telah berlari di jalan yang baginya suram, padahal terang bagi orang yang hanya berjalan tapi diiringi senyum ikhlas yang meneduhkan setiap mata memandang. Subhanallah....! Ayolah, Kawan! Jangan sampai kita terpedaya dengan keindahan sementara. Alangkah lebih nimat jika keindahan itu dapat kita petik di surga-Nya. Amin....

Ibu Bukan Ubi

IBU, BUKAN UBI
Prak… sore itu terdengar suara gelas kaca pecah seperti dibanting.
“Ima…” mamanya menjerit memanggil.
Sering terjadi keributan di rumah yang tidak terlalu megah itu. Ima, anak ke dua dari pasangan Pak Ibrahim dengan Bu Lis sejak kecil memang dikenal nakal. Ia bertingkah sesuai dengan apa yang ia inginkan. Itulah yang membuat mamanya sering mengelus dada jika Ima mulai mengamuk, berbagai macam sebabnya. Ayah Ima tidak tinggal bersama keluarga, ia berada di luar kota karena sedang tugas dinas.
“Ima, kamu kenapa lagi? Sudah berapa gelas yang kamu pecahkan? Mama bisa mati berdiri kalau kamu terus begini.”
Dari dalam kamar Ima tidak terdengar suara jawaban sedikit pun. Tak berapa lama terdengar kembali suara gelas dibanting sekira tiga buah. Mama hanya bisa mematung di depan pintu kamar putri bungsunya.
“Assalamu’alaikum….” Suara Ami, kakak Ima yang baru pulang dari kantor tempat kerjanya. Tidak ada suara yang menjawabnya. Ami masuk ke rumah sembari mencari-cari mama.
“Ma… Ma… Ami pulang,” tetap tidak ada jawaban sehuruf pun.
Ami seolah tahu apa yang sedang terjadi di rumahnya. Dengan mantap ia melangkahkan kaki. Dari jarak beberapa langkah, Ami melihat mama sedang berdiri diam tak bergerak di depan pintu kamar Ima. Perlahan ia menghampri mama.
“Ma…” mama menoleh, sadar bahwa Ami telah ada di sampingnya.
“Kamu sudah pulang, Mi?”
“Iya. Ada apa, Ma? Ima mengamuk lagi?”
Mama mengangguk, berjalan diikuti Ami menuju ruang depan. Nampak raut mama yang lelah menghadapi kelakuan Ima. Sedangkan di dalam kamar yang terkunci, dengan muka geram Ima sedang berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon.
“Iya, aku akan ke sana secepatnya.”
Mama dan Ami sedang duduk termenung di ruang makan. Lelah dengan keheningan yang terjadi sedari tadi, Ami pun membuka perbincangan.
“Ma, Ami baru putus dengan Dani.”
“Apa mama tidak salah mendengar? Ada masalah apa?”
Ami tidak menjawab. Mama memandang wajah Ami, nampaknya seperti ada suatu masalah yang mungkin canggung untuk Ami mengatakannya.
“Bukannya kamu sudah sangat cocok dengan Dani? Setahu mama kalian saling menyayangi, bukan begitu?”
“Ada satu masalah yang tidak bisa diselesaikan lagi, Ma. Hubungan Ami dengan Dani tidak mungkin bisa diteruskan.”
“Itu adalah hak kamu, Nak. Tapi mama ingin sekali segera menimang cucu. Padahal Dani adalah calon menantu impian mama. Tapi ya sudahlah, mungkin ini memang sudah jalannya."
"Ma, Ima pergi dulu ya…?” tiba-tiba Ima muncul dan langsung pergi setelah pamit pada mama.
“Mau ke mana, Ima? Jangan pulang malam-malam!”
“Tenang saja, Ma, Ima cuma sebentar. Pecahan gelasnya juga sudah Ima beresin,” jawab Ima dengan terus melangkah keluar.
Gelengan kepala mama dan tatapan Ami mengiringi langkah Ima. Baru saja anak itu mengamuk, sekarang sudah kembali normal dan ceria lagi.
ѾѾѾ
Dalam keheningan malam didukung oleh hembusan angin yang menusuk relung, Ami melamun di dekat jendela kamarnya. Matanya menatap ke satu titik di luar, namun tatapan itu kosong. Dalam kesendiriannya itu Ami sedikit menitikkan air mata. Bayangan dirinya dengan Dani terulang kembali dalam ingatannya.
“Kenapa malah jadi seperti ini? Dani, aku sayang kamu. Semua kepercayaan sudah aku berikan untuk kamu. Tapi kenapa penghianatan yang aku terima? Kebohongan yang sangat menyakitkan buat aku. Entah apakah aku kuat menerima kenyataan ini. Pertama kamu bilang cuma aku yang ada di hatimu, tapi semuanya bohong. Ternyata kamu mendua di belakang aku. Tidak mungkin hal ini aku katakan pada mama.”
Ami mengusap air mata di pipi. Sejenak terdiam.
“Begitu juga dengan mama, sudah meyakinkan sepenuhnya bahwa kamu adalah lelaki yang terbaik buat aku. Kamu jahat, Dani… aku benci sama kamu."
“Kak Ami…”
Di sela kesedihan yang begitu mendalam, Ima memanggilnya dengan nada bingung dan setengah menjerit. Ami dibuatnya kaget dan langsung keluar kamar tanpa lupa mengusap air mata yang agak membanjiri pipinya.
Ternyata mama jatuh pingsan di lantai. Ima melihatnya ketika baru membuka pintu rumah. Mama sudah jatuh di lantai sebelum Ima datang. Mama segera dibawa ke rumah sakit terdekat.
Malam itu seakan sunyi bagi Ima dan Ami. Orang yang paling mereka sayangi tengah terbujur tak berdaya di ranjang rumah sakit. Jam di tangan Ima menunjukkan angka 21.15. dokter yang memeriksa Bu Lis belum keluar juga, semakin bertambah khawatir kedua gadis itu.
Beberapa menit kemudian keluar dokter dari kamar Bu Lis diiringi seorang suster. Dokter itu menghampiri Ami dan Ima yang sedang duduk dengan wajah tegang.
“Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?” tanya Ami.
Sejenak dokter terdiam, lalu menjawab.
“Ibu Anda mengidap penyakit jantung tapi masih dalam taraf ringan.”
“Apa? Jantung? Tapi mama saya tidak mempunyai penyakit yang membahayakan seperti itu, Dok,” Ima geram mendengarnya.
“Tapi memang itu kenyataannya. Mungkin ibu Anda sudah mengetahui hal ini, tapi merahasiakannya. Untuk sementara, saya sudah memberi obat untuk pasien dan jangan ganggu istirahatnya. Kalau begitu, saya permisi,” jawab dokter.
“Iya, Dok,” jawab Ami lemas.
“Kak, tidak mungkin sekali mama punya penyakit jantung. Selama ini mama sehat-sehat saja, tidak ada keluhan sedikit pun.”
“Memangnya kamu peduli sama mama? Apa selama ini kamu tahu mama senang atau menangis? Mama sakit karena kamu. Banyak pikiran yang mengganggu mama, makanya jiwa mama terguncang karena tingkah kamu yang sering membuat mama sedih. Mama terlalu banyak memendam perasaan karena kamu. Dasar anak tidak tahu diuntung.”
Kata-kata Ami membuat telinga Ima panas, namun ia hanya bisa diam. Ia tidak bisa membantah orang, apalagi kakak satu-satunya. Ami pergi entah ke mana meninggalkan Ima yang masih duduk di kursi depan kamar mama.
Merenungi kata-kata Ami, Ima seolah sadar dan ikut setuju dengan Ami bahwa penyebab mama sakit adalah dirinya. Tak mau lama-lama melamun, Ima masuk ke kamar mama untuk menemani dan menjaganya. Ia duduk di kursi sebelah ranjang mama, memegang tangan mama dan menatap wajahnya.
“Ima bukan anak yang baik buat mama. Mama sudah baik sama Ima, tapi Ima selalu membuat mama menangis sampai masuk rumah sakit seperti ini. Ima minta maaf, Ma. Ima sayang mama. Ima ingin mama cepat sembuh,” Ima mencium kening mama yang masih tertidur karena pengaruh obat.
Ima memang dikenal nakal oleh keluarganya. Akan tetapi, sebenarnya ia adalah anak yang lembut dan penyayang. Ima anak yang lemah dan mudah terbawa perasaan. Semua kenakalannya itu karena ia tidak bisa mengungkapkan rasa kesal atau kecewanya. Ia memendam semua sendiri, tidak pernah mengatakannya pada orang lain. Aktifitas memecahkan gelas pun hanya untuk perwujudan kekesalannya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Jika sudah puas membanting gelas, Ima akan kembali seperti semula.
Malam itu Ima tak memejamkan mata sekali pun, matanya hanya tertuju pada mama. Sedangkan Ami entah ke mana tak kembali setelah mengatakan Ima penyebab mama sakit. Paginya Ima sudah tak lagi di dekat mama karena hari itu ada ujian salah satu matakuliahnya. Lagipula, Ami sudah pulang ke rumah sakit menunggu mama yang masih belum sadar.
Di kampus Ima tak bisa fokus ke soal ujian. Yang ada dalam bayangannya hanya mama, bagaimana keadaan mama sekarang. Apa mama sudah sadar? Ima mengerjakan soal pun dengan tergesa-gesa agar cepat selesai dan kembali ke rumah sakit.
“Ima, kamu buru-buru sekali. Ada apa?” tanya Rafi ketika keluar kelas. Rafi adalah teman yang paling dekat dengan Ima. Ya, mereka pacaran.
“Mamaku masuk rumah sakit tadi malam. Aku harus segera pulang ke sana.”
“Aku ikut.”
Akhirnya Rafi ikut dengan Ima ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan Ima tidak berbicara sedikit pun, Rafi pun mengerti keadaan Ima. Sekira dua puluh menit perjalanan, sampailah Ima dan Rafi di tempat tujuan.
Ketika masuk kamar mama dirawat, Ima melihat mama sudah sadar dan sedang bercanda dengan Ami. Ia dan Rafi masuk, berdiri di sebelah mama setelah menyalami tangan mama. Mama melihat Rafi, karena selama ini belum tahu Ima punya teman seperti Rafi.
“Selamat siang, Tante!” Rafi menyapa mama.
“Selamat siang. Teman kampus Ima?”
“Em…” Rafi bingung. Ia ingin mengatakan kalau ia adalah pacar Ima, tapi Ima memberi isyarat jangan memberi tahu mama.
“Iya, Tante. Saya teman Ima di kampus. Nama saya Rafi, satu kelas sama Ima.”
“Kamu terlihat santun dan baik. Andai Tante punya anak seperti kamu, pasti Tante sangat bahagia.”
“Makasih, Tante. Saya jadi tersipu mendengarnya. Oh iya, bagaimana keadaan Tante sekarang? Kata Ima, Tante sedang sakit. Makanya saya ikut menjenguk ke sini. Tapi maaf, saya tidak membawa apa- apa buat Tante.”
“Tante sudah mendingan, terimakasih. Oh iya, ini Ami, kakaknya Ima. Ayo kenalan!”
Ami dan Rafi saling berpandangan dan saling menjabat tangan. Pertemuan mereka ternyata membekaskan rona bahagia di hati Ami. Dalam kesan pertamanya terhadap Rafi, ia adalah lelaki yang membuat hatinya bergetar. Tatap mata, senyum, serta perlakuan Rafi yang sopan mampu membius Ami. Dalam hatinya yakin bahwa ia telah mencintai Rafi.
“Ima, kenapa kamu baru mengenalkan Rafi ke mama?” tanya mama ketika Rafi sudah pamit pulang.
“Rafi cuma teman Ima, Ma. Buat apa Ima kenalin ke mama?”
“Loh, bukannya kamu sering membawa teman ke rumah? Lagipula, mama juga ingin kenal teman-teman kamu juga.”
“Iya, Ma.”
Malam itu terasa berbeda buat Ima, suasana hatinya kelam bersama malam yang semakin gelap. Mama dan Ami sedari tadi selalu membicarakan Rafi. Tiba-tiba, mama memanggil Ima yang masih di dekat jendela kamar rawat mama.
“Ima, mama mau tanya. Apa kamu setuju kalau Ami menikah dengan Rafi? Mama sudah ingin sekali menimang cucu, sedangkan mama tidak tahu sampai kapan mama masih kuat. Mama merasa Rafi adalah calon yang baik buat Ami. Bagaimana menurut kamu, Ima? Kamu juga pasti mau punya saudara laki-laki yang baik seperti Rafi, bukan?”
Pertanyaan mama seperti petir di malam hari. Menggelegar, menyambar hati Ima yang semakin kalut. Bola mata Ima terasa memanas ingin mengeluarkan cairan bening yang menghujan, tapi ditahannya demi mama.
Ima masih terdiam, bingung entah jawaban apa yang harus ia katakan pada mama. Di satu sisi, ia sangat menyayangi Rafi, mereka sudah cukup lama pacaran. Tapi di sisi lain, yang meminta adalah mama, berat hati Ima menolaknya memberikannya.
“Ima, kenapa diam? Kamu mau kan mengatakan hal ini pada Rafi? Mama yakin Rafi akan mempertimbangkannya, karena kalian adalah teman. Lagipula, Rafi akan menikah dengan kakak kamu. Jadi, Rafi bisa tetap menjadi teman kamu.”
“Itu yang membuat Ima bimbang, Ma. Rafi akan menikah dengan kak Ami, kakak Ima sendiri. Ima sayang sama mama, apa pun akan Ima kasih buat mama. Tapi Ima juga sangat mencintai Rafi,” Ima berkata dalam hati.
“Iya, Ma. Ima akan mengatakannya pada Rafi besok. Ima akan berusaha,” berat hati Ima mengatakannya. Sakit menyayat hati Ima, manakah yang akan dipilihnya?
ѾѾѾ
“Apa? Itu sangat tidak mungkin. Ima, kamu tahu aku sayang sama kamu. Aku cuma cinta sama kamu. Tidak mungkin aku menjalin hubungan dengan orang lain, apalagi menikah, dan itu dengan kakak kamu. Aku tidak sanggup,” seperti yang dibayangkan Ima, pasti Rafi akan menolak permintaannya.
“Aku tahu itu, aku percaya cinta kamu. Tapi kamu tahu, tidak mungkin juga aku menolak keinginan mama. Mama sedang sakit,” air mata Ima mulai jatuh.
“Tapi itu bukan alasan buat aku untuk menikah dengan Ami.”
“Kalau begitu, anggap saja ini permintaan terakhirku. Aku tidak mau meninggalkan kalian dengan keadaan seperti ini. Aku ingin membahagiakan mama. Mungkin ini adalah jalannya, Fi.”
Rafi diam, menunduk. Ingin juga ia menjerit sekencang-kencangnya. Tak tahan air matanya pun bercucuran.
“Aku ingin kamu yang jadi istri aku.”
“Aku takut tak sampai waktunya. Kalau kamu benar sayang, lakukan dan kabulkan permohonanku.”
“Kenapa tidak kamu katakan saja pada mama atau Ami tentang hubungan kita?”
“Itu sangat tidak mungkin, Rafi. Mama sudah sangat yakin dengan keputusannya.”
“Lalu bagaimana dengan kamu? Aku tidak mau menyakiti hati kamu, malaikatku.”
“Biarkan aku membawa kepahitan di dunia, tapi kebahagiaan mengiringiku ke alam sana. Setiap hari aku akan tersenyum untuk kalian. Aku ingin pergi dengan tenang. Aku ingin menyelesaikan tugasku, yaitu membahagiakan mama.”
Kedua manusia itu terpaku di tempat duduk masing-masing, sibuk dengan pikiran dan kegalauannya. Rafi menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Ima hanya diam dengan air mata yang telah membasahi seluruh lapisan pipinya.
“Aku minta maaf, Fi. Aku tidak bisa mewujudkan keinginan kita membangun istana cinta. Waktuku tidak banyak untuk membangunnya, walau hanya sebatas fondasi.”
“Semua percuma. Istana itu sudah menjadi puing-puing yang tidak bisa lagi diperbaiki. Keindahannya memudar bersama kepergian sang permaisuri. Biarkan reruntuhan itu hanyut disapu air hujan yang datang. Aku menyerah, aku akan dicarikan permaisuri yang lain. Membawanya ke dalam istana yang tak akan seindah dan semegah istana pertamaku dengan belahan jiwa yang singgasananya tidak akan pernah terganti di hatiku.”
Ima dan Rafi saling memandang.
“Mulai detik ini, kamu adalah calon kakak iparku.”
“Benar, calon adik iparku sayang. Aku akan tinggal serumah dengan istri dan adik ipar yang sangat berarti dalam kehidupan pertamaku. Walaupun di kehidupan pertama aku tidak bisa mengarungi samudera bersamanya, tapi aku berharap kami akan dipersatukan lagi di nafas ke dua.”
ѾѾѾ
Hari itu langit tak sejalan dengan Ima. Cuacanya sangat cerah, tak seperti hati Ima yang harus menerima kenyataan pahit. Hari itu rumah Ima tak seperti biasanya, dari halaman depan sampai belakang terlihat ramai. Ima harus meluaskan hatinya melihat Ami dan Rafi duduk bersanding. Mereka kini telah benar menjadi satu keluarga.
Tamu yang datang memberi selamat pada kedua mempelai. Dari jauh Ima tak hentinya memandang kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ami, apalagi mama. Tak ada sesal yang ia rasakan, karena ia merasa telah mengabulkan permintaan mama. Mama sembuh dan kembali tersenyum pun sudah menjadi kebahagiaan yang tak terhingga bagi Ima.
Tak lama kemudian Ami memanggilnya.
“Ima, kenapa kamu di situ terus? Ayo sini, kita foto keluarga bersama.”
Ima menghampiri kursi pengantin yang telah dihias dengan indah itu. Ia berdiri di antara mama dan papa. Namun, sang fotografer menyuruhnya untuk berdiri di samping Rafi. Awalnya Ima menolak, tapi tak ada alasan baginya untuk melakukan hal itu.
“Ima, bukankah kita telah menjadi saudara? Kamu jangan canggung lagi, tak ada alasan kamu menghindari aku. Tidak ada kecanggungan di antara teman.”
“Rafi benar, Ima. Kan di sebelah sini sudah ada mama sama papa. Jadi kamu di sebelah situ saja supaya ada pendamping di samping kanan dan kiri,” mama menambahkan.
“Iya, Ma.”
Rafi hendak menggandeng tangan Ima, tapi ia menolaknya. Karena Ima melihat tangan Ami merangkul tangan Rafi dengan mesra, ia agak menjauh dari posisi Rafi.
“Tidak akan ada wanita lain yang akan mengisi ruang di hatiku. Hanya kamu, dan selalu hanya kamu, Ima. Aku janji. Walaupun bumi sudah tidak lagi mengizinkan kamu bernafas, tapi cinta ini hanya kupersembahkan untuk kamu,” dalam hati Rafi yakin kekuatan cintanya pada Ima, begitu juga sebaliknya.
“Bukan aku menyesalkan keadaan ini yang terjadi. Yang aku sesalkan, kenapa aku tidak bisa menahan air mata? Aku bahagia melihat kebahagiaan semua orang, mama, , papa, Kak Ami, dan kamu. Tapi aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Aku yang menginginkan pernikahan ini, tapi rasanya aku juga ingin menghentikannya. Aku tidak sanggup, Fi. Pangeran berkuda putihku telah bersanding dengan putri pilihanku sendiri,” Ima membatin.
ѾѾѾ
Acara resepsi pernikahan Ami dan Rafi telah berlangsung, papa kembali ke Surabaya untuk tugas dinasnya dan Rafi kini tinggal serumah dengan keluarga Ima. Malam itu Ima sedang termenung di taman depan kamarnya. Melamun, entah apa yang dilamuninya. Pikirannya kosong, tatapan matanya pun kosong.
Dari arah belakang Rafi datang menghampiri. Ia duduk di samping Ima, membuat Ima melepaskan semua lamunannya.
“Kenapa kamu ke sini? Aku takut Kak Ami melihat kita berdua di sini.”
“Memang kenapa kalau Ami melihat kita? Itu yang aku inginkan. Malam-malam begini kamu harusnya di dalam. Angin malam tidak baik untuk kamu.”
“Peduli apa kamu soal itu? Aku baik-baik saja. Harusnya kamu mengurusi kak Ami, bukan aku.”
“Ima, kamu harus memperhatikan kesehatan kamu sendiri.”
“Aku ingin segera meninggalkan dunia ini. Dunia yang menawarkan aku dalam dua pilihan yang sulit buat aku untuk menentukan.”
Rafi sontak kaget mendengar kalimat Ima. Ima yang dikenalnya adalah gadis yang tegar walaupun menanggung beban yang tak ringan. Namun, selama ini Rafi tidak pernah mendengar Ima menyerah dengan penyakit yang dideritanya selama kurang lebih satu tahun itu.
“Apa yang kamu katakan itu, Ima?”
“Entahlah. Kenapa ngomong seperti itu, aku juga tidak tahu. Allah yang menuntunku mengatakan itu.”
Angin malam semakin dingin. Ima sudah melipatkan tangannya ke dada. Mukanya pucat, bibirnya terlihat agak biru. Bibirnya pun bergetar, matanya sayu.
“Ima, kamu masuk saja. Lihat, wajah kamu sudah pucat.”
Bukan jawaban yang terlontar dari Ima, tapi ia malah jatuh pingsan. Rafi segera membopong Ima ke dalam rumah. Mama yang melihatnya kaget dan langsung menyuruh Rafi membawa Ima ke kamar.
“Ima kenapa, Rafi?” tanya mama.
“Entahlah, Ma. Tadi kami sedang mengobrol di halaman depan. Tiba-tiba Ima jatuh pingsan, mungkin karena ia kedinginan.”
“Kalian mengobrol di halaman depan? Kenapa aku tidak tahu?” terlihat kecemburuan pada nada Ami.
“Kami cuma ngobrol biasa. Lagipula, kami sudah biasa bercanda dan menikmati malam….” Rafi kelepasan ngomong, membuat Ami semakin curiga.
“Em… maksud aku, kami sering bercanda di malam hari bareng sama teman-teman yang lain juga. Kami sering praktek kuliah sampai malam. Tadi pun kami sedang membicarakan masalah kuliah,” Rafi berusaha menjelaskannya.
“Sudahlah, Ami, mereka hanya berbincang biasa. Yang penting sekarang adalah kesehatan Ima. Adikmu pingsan, ia pasti sakit. Tidak biasanya Ima sampai jatuh pingsan. Kalau benar-benar sakit atau kelelahan, paling ia istirahat langsung sembuh,” mama mengusap-usap kening Ima, panas badannya tinggi, membuat mama takut.
Sekian lama Ima tak sadar, semua orang di rumah itu menjadi panik. Ima dilarikan ke rumah sakit terdekat, yang merupakan tempat mama pernah dirawat juga. Mama merasa heran sekali, Ima bisa pingsan dan separah itu.
“Boleh saya berbicara empat mata dengan ibu?” tanya dokter ketika keluar setelah memeriksa Ima.
“Iya, Dok.”
Rafi gelisah melihatnya, seolah ia takut sesuatu yang ia rahasiakan akan terungkap sekarang.
Di dalam ruangan dokter, mama sangat gelisah takut terjadi apa-apa terhadap Ima. Bagaimana pun, Ima adalah anaknya, anak yang lahir dari rahim dan dibesarkannya dengan balutan kasih sayang.
“Anak saya kenapa, Dok? Tidak biasanya Ima sakit sampai pingsan seperti ini.”
“Apa ibu tidak tahu penyakit yang diderita anak ibu? Ima menderita penyakit leukemia.”
Bagai tertimbun runtuhan langit, merontokkan tulang dan persendian. Jantung mama serasa ingin lepas dari tempatnya bertengger.
“Leukemia? Apa Dokter yakin? Soalnya, Ima tidak pernah mengeluh sakit pada saya. Ia adalah anak yang kuat, tidak mungkin ia mengidap penyakit yang seganas itu.”
“Karena ia kuat, maka Ima mampu bertahan sampai sekarang. Kalau Ima lemah, mungkin sekarang Ima hanya tinggal nama.”
Mama diam. Air matanya mulai mengucur bak air mancur. Ima yang selama ini tidak pernah mengeluh, bahkan waktu kecil berdarah ketika jatuh pun, ia tidak menangis.
“Ima mengidap penyakit ini sudah lama, mungkin sekira satu tahun lebih. Apa ia tidak mengatakan apa pun pada Ibu?” tanya dokter melanjutkan.
“Lalu bagaimana, Dok? Pasti ada jalan untuk menyembuhkan Ima, bukan?”
“Kemungkinannya kecil, Bu. Penyakit ini sudah lama diderita Ima tanpa pengobatan yang signifikan. Kami hanya bisa melakukan yang terbaik, sedangkan hasilnya hanya Allah yang menentukan.”
Mama keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang terbanjiri air mata, yang dipikirkannya hanya Ima. Mama duduk di antara Ami dan Rafi.
“Mama kenapa? Kenapa mama menangis?” tanya Ami sambil tangannya mengelus-elus pundak mama, menenangkan isak mama.
“Rafi, mama mau tanya sama kamu. Mama minta kamu jawab yang jujur, mama tidak mau ada sesuatu yang ditutupi dari mama lagi.”
Rafi tertunduk. Ia tahu apa yang ingin dibicarakan mama. Rafi pun merasa bersalah. Andai ia tidak menyembunyikan rahasia itu, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Tapi itu adalah permintaan Ima, ia tidak mau membuat orang sekelilingnya menjadi hawatir dan ia menjadi beban buat mereka.
“Apa kamu tahu tentang penyakit Ima? Apa kamu tahu Ima menderita penyakit leukemia? Jawab mama, Rafi. Mama sangat menyayangi Ima, mama tidak mau terjadi hal-hal yang buruk terjadi pada Ima. Kalau perlu, mama akan merelakan nyawa mama untuk menyembuhkan Ima. Jalan Ima masih panjang, mama tidak mau hal buruk itu terjadi. Mama takut…”
“Mama bicara apa? Memangnya tadi dokter bicara apa?” Ami bingung dengan sikap dan pertanyaan mama pada Rafi.
“Maaf, Ma. Ini adalah salahku, aku tidak jujur pada mama. Ima yang meminta untuk tidak mengatakan pada siapa pun, termasuk mama.”
“Tapi saya adalah mamanya, ibu yang satu darah dan pernah menjadi satu tubuh dengan dia. Mama bisa merasakan sakit yang ia rasakan. Sekarang pun, hati mama seperti dicabik-cabik pisau tajam bergerigi. Kamu tidak mengerti perasaan mama.”
“Ima tidak mau merepotkan mama, tidak mau membuat mama sedih.”
“Tapi hal ini lebih menyakitkan buat mama. Kenapa kalian merahsiakan ini pada mama? Ini bukan masalah sepele, ini menyangkut hidup Ima. Mama tidak sanggup kalau harus kehilangan darah daging mama.”
Semua terdiam, sedangkan mama masih menangis. Rasa sesal terlintas dalam benaknya. Selama ini mama lebih fokus pada Ami, melupakan keberadaan Ima yang sesungguhnya lebih memerlukan kasih sayang dan perhatian lebih dari mama.
Tiba-tiba terdengar suara suster yang merawat Ima berteriak memanggil dokter, sedangkan suster lainnya setengah berlari memanggil dokter di ruangannya. Mama, Rafi, dan Ami beranjak lari dan masuk ke kamar Ima. Di dalam kamar Ima terlihat masih tertidur dengan wajah yang berseri. Bibirnya mengulas senyum tipis, seperti sebentar lagi hendak bangun dan menyambut matahari esok pagi.
Dokter segera datang dan memeriksa Ima. Semua jantung di ruangan itu berdebar menanti hasil. Tak terkecuali mama, dalam hatinya tak henti meminta yang terbaik untuk Ima.
Dokter selesai memeriksa Ima. Dari raut wajahnya, dokter ingin meminta maaf karena telah mengalami kegagalan yang juga mengecewakan keluarga pasien. Alat peraga denyut jantung pun menayangkan garis lurus, tanda tak ada lagi denyut jantung dari Ima.
“Ima…..” mama menjerit dan langsung memeluk tubuh Ima yang masih terasa hangat. Pandangan mama terlihat kabur, sekelilingnya gelap dan berputar-putar. Karena tidak kuat menahan kesedihan, mama pun pingsan.
ѾѾѾ
Tiga hari sudah peristiwa kelam itu terjadi. Mama masih dirundung kesedihan yang mendalam. Mama sedih karena tidak bisa menemani Ima di saat ia sangat membutuhkan motivasi dan dukungan dari orang-orang tercinta. Pada hari itu, mama ke kamar Ima karena ingin mengenang putri kecilnya.
Mama mengamati tempat tidur, lemari, boneka, sampai meja Ima. Mama membuka laci meja Ima, di situ mama menemukan dua buah surat. Surat yang satu bertuliskan “to mama”, dan yang satu bertuliskan “to Rafi”. Mama mengamati kedua surat itu. Melihat tulisannya, mama tahu itu adalah tulisan tangan Ima.
Surat yang bertuliskan “to mama” dimasukkan ke dalam saku mama, sedangkan surat satunya diberikan kepada Rafi. Di kamar mama memperhatikan surat tersebut. Perlahan mama membuka dan membacanya.
Dear Mama,
Ima minta maaf, Ma. Mungkin mama kecewa dengan sikap Ima yang pasti sangat menyakitkan mama. Ima tahu, Ima belum bisa menjadi anak yang baik untuk mama dan papa. Tapi, Ima yakin kasih sayang mama tidak akan pernah luntur pada Imadsan Kak Ami.
Ketika mama membaca surat ini, mungkin Ima sudah tidak bisa menatap mata mama, senyum mama, dan semua yang ada di tubuh mama. Di sana Ima pasti akan merindukan mama.
Ma, Ima minta mama jangan sedih. Ima tidak mau mama menangisi takdir yang telah digariskan. Oh iya, Ma. Ima juga minta maaf. Ima mau membuat satu pernyataan. Waktu kelas dua SD, pulang sekolah Ima mengambil ubi mama di atas meja. Ima tidak mau mama menjadi bau karena makan ubi. Ubi kan cuma akan menimbulkan kentut yang bau. Ima mau mama selalu wangi seperti bunga di taman depan kamar Ima.
Ima juga ingin mengucapkan terimakasih yang mungkin tidak sempat Ima ucapkan secara langsung, memeluk mama, bermanja-manja dengan mama. Terimakasih untuk kasih sayang yang tidak ada matinya bagi Ima. Walaupun Ima tidak bisa merasakannya di sini, tapi Ima akan mendapatkan aliran kasih mama di sana. Ima akan merasakannya, Ma.
Waktu itu Ima pulang telat karena Ima main dulu ke rumah teman. Mama menunggu sampai tertidur di ruang depan. Ima kasian sama mama, Ima ambil selimut dan memakaikannya untuk mama. Terimakasih, Ma. Terimakasih untuk cinta yang tak pernah habis ini. Ima bangga menjadi anak mama.
Permintaan terakhir Ima, tolong kubur rambut Ima yang rontok di depan kamar mama agar Ima tetap berada di dekat mama. Ketika bangun pun, Ima akan melihat dan menyapa mama.
Luv U, Mom….
Mama tertegun membaca surat terakhir Ima. Dalam bayangannya, mama tidak menyangka Ima akan mempunyai pikiran seperti itu, apalagi alasan Ima waktu kecil mengambil ubi mama.
Tak beda dari mama, Rafi pun membaca surat terakhir Ima. Di taman tempat ia sering berdua dengan Ima, Rafi mulai membuka dan membacanya.
Pangeranku, cinta dan perhatianmu seperti ujung kuku, selalu tumbuh walaupun sering dipotong. Tapi aku tidak bisa menjadi daging untuk kautumbuhi. Aku yakin Kak Ami adalah yang terbaik untukmu. Ia adalah gadis yang cantik, baik, dan setia. Yang paling penting, Kak Ami sangat mencintai kamu.
Terimakasih kamu telah memenuhi permintaanku, tidak mengatakan pada orang lain tentang penyakitku. Maukah kau mewujudkan satu lagi permintaanku? Jangan katakan pada siapa pun tentang hubungan yang pernah kita jalani. Biarkan kisah itu aku bawa bersama ragaku. Jalani kehidupanmu seperti biasa. Namun, aku juga tidak mau kaulupakan. Walaupun ragamu telah bersama bidadari lain, tapi aku ingin hatimu masih menyimpan cintaku.
“Aku janji, Ima. Aku akan menjaga cinta yang tak mempunyai waktu untuk bersatu ini. Hubungan kita pun tak akan pernah aku katakan pada orang lain, termasuk mama dan Ami. Aku akan belajar mencintai Ami, meski pasti tidak akan sempurna cintaku padanya, tak seperti cintaku padamu.”
Di taman itu banyak kenangan bersama Ima. Bayangan demi bayangan seolah kembali terulang dalam pikiran Rafi. Mulai saat ini, taman itu kehilangan salah seorang pengunjung setianya. Namun, ada satu hal yang tidak melunturkan kenangan Rafi bersama Ima. Di taman itu ada seorang pedagang yang menjual ubi bakar dan rebus. Setiap melihatnya, Ima ingin segera membeli agar mama tak dapat membelinya. Karena ubi adalah makanan kesukaan mama, sedangkan Ima tidak mau mama sama seperti ubi yang memberi aroma tidak sedap. Ima ingin mama menyebarkan keharuman untuk sekelilingnya.

Makna Cinta

BUAT SIAPA CINTA KITA?

Indahnya Punya Cinta
Apa jawabanmu jika ditanya tentang satu kata? Apa yang akan kamu bayangkan jika mendengar kata yang tak asing lagi di telinga? Ya, inilah dunia remaja. Dunia penuh taman dengan semerbak bunga yang menyebarkan wanginya ke seluruh hati dan jiwa para korban yang dilekatinya. Dapatkah disebut sebagai parasit? Parasit yang identik dengan hal-hal yang merugikan. Siapa yang merasa dirugikan dengan kehadirannya? Ialah yang menyalahgunakan satu kata itu tanpa melibatkan hati dan pikiran. Tak ayal mereka yang hanya mendominasi nafsu dalam satu hal ini banyak yang terjerembab dalam akibat yang seharusnya tidak mereka alami jika ingat teori-teori dalam menggunakannya. Satu kata yang bisa menjadikan remaja tersenyum sepanjang waktu, atau sebaliknya. Ia juga dapat membuat mata menjadi bengkak sehingga disebut mata kodok. Kasihan mereka yang tak mengerti penempatan dan penggunaannya.
Cinta. Dapatkah kau menjelaskannya secara pasti? Ada yang mengatakan cinta adalah rasa yang membuat kita senang. Jika ia selalu menyenangkan hati, mengapa banyak yang air matanya kering gara-gara satu marga itu? Jika cinta diartikan sebagai rasa kagum, lalu apabila seorang fans menyukai idolanya, apakah itu bisa disebut sebagai cinta? Mungkin iya, tapi tak sekuat dengan arti “cinta” yang sebenarnya. Rasa kagum itu takberlaku hakiki, hanya bersifat sementara.
Aku pun tak tahu. Yang aku tahu cinta adalah lima huruf yang dirangkai dengan tak terlalu cantik, namun sangat berharga dan tak ternilai bagi yang diberi kesempatan merasakannya. Oh, Siapa yang bisa menerangkan seberapa indahnya bila kita jatuh cinta? Paling yang ditampilkan hanyalah senyum lebar sampai gigi kering, tapi tetap tak keluar sepatah kata pun dari bibir. Kepada siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, kita bisa merasakan adanya cinta itu. Ia memang tak pernah memberitahukan kehadirannya, namun kita dapat mengintip kedatangannya.
Ingatkah kamu ketika sedang jalan dengan sang pujaan hati, sepasang bola matamu menemukan seorang pengemis tua yang menanti keikhlasan hati orang yang melewatinya. Dengan mata yang cekung, pakaian yang ala kadarnya. Sesabar mungkin ia mengharapkan receh demi receh tertumpuk di atas kaleng. Dalam keadaan seperti itu, dapatkah kamu membayangkan kalau yang tengah duduk di pinggir jalan itu bukan orang tua yang lusuh, tapi dirimu yang berjalan tegap dengan pakaian serba modis, make up yang takmau ketinggalan model dan merk. Kau menadahkan tangan ke depan orang yang lewat di depanmu tanpa membungkukkan badan sedikit pun. Alangkah sedihnya hati yang menjerit itu. Namun apalah daya, hanya itu yang dapat dilakukan. Dalam keadaan mata memandang si pengemis, tumbuh dalam hatimu ingin membagi rezeki di saku, mungkin hanya sekedar untuk dia membeli sebutir beras.
Ingin sekali tanganmu menyodorkan uang itu sendiri. Namun ketika melihat keadaan sekitar yang terlanjur banyak orang memperhatikanmu dengan gaya yang aduhai, niat mulia itu pun terkubur dengan langkah kakimu yang meninggalkannya. Kau taktahu setelah langkah kakimu menjauh, ia menghela nafas panjang untuk merangsang kesabarannya. Di manakah perwujudan rasa cinta kasih yang selama ini kau gembor-gemborkan untuk menarik empati orang? Omong kosong belaka.
Cinta… duhai cintaku… di manakah cinta sejatiku? Satu hal yang sering kita lupakan, bahwa cinta yang sebenarnya ada di dalam hati insan yang sungguh-sungguh menjaga kesuciannya karena ia berasal dari yang menciptakan. Tuhan Yang Esa, Maha Adil sehingga menjadikan semua kehidupan makhluk-Nya penuh dengan rasa cinta. Bayangkan jika tidak ada cinta di dunia ini, semua orang akan melakukan sesuatu dengan emosi. Ada seseorang yang tidak menyukai orang lain. Kalau tidak ada cinta di dunia ini, ia akan menghadapinya dengan kepala panas. Karena adanya cinta di hati setiap insan, semua masalah pun dapat terselesaikan dengan baik tanpa memicu timbulnya masalah baru.
Seandainya pemerintah dan pejabat menyelesaikan permasalahan negara dengan kepala dingin dan mengeluarkan jurus cintanya, kemungkinan besar bahkan nilainya cumload tidak akan ada lagi perdebatan di mana-mana. Apalagi pergulatan di arena yang seharusnya tidak ada adu mulut antarpeserta. Siapa yang mau dipersalahkan? Aku rasa tidak ada. Karena itulah sifat manusia, selalu merasa benar dan takmau dipersalahkan, entah dia salah atau tidak.


Cinta ADI
Apa yang ada dalam benak pikiranmu mendengar kata ADI? Ia bukanlah Adi Nugroho si presenter yang muda, cakep, tinggi, dan…. Ia juga bukan Adi NAFF yang melantunkan lagu “Menanti Sebuah Jawaban”. Lalu siapa sia ADI? Ialah Ibu dan Ayah. Orang yang selalu ada dan mendukung segala apa yang dilakukan buah hatinya. Walau kadang ada tingkah mereka yang membuat kita gerah. Apalagi bagi yang tidak pernah merasakan menjadi anak tunggal alias punya saudara, banyak di antaranya akan merasa tidak diperlakukan dengan adil sehingga timbul rasa dan anggapan bahwa orangtuanya tidak memberi kedilan. Padahal, apakah ia pernah berpikir kalau orangtuanya berusaha dengan sepenuh tenaga agar memberi kasih sayangnya yang seadil-adilnya, sama rata dan sama rasa. Pernahkah dalam benaknya ia membayangkan upaya orangtua yang mencari semua kebutuhan anak-anaknya walaupun taksemua keinginan itu dapat dipenuhi.
ADI. Siapakah yang mendapat gelar yang sangat berharga itu? Ingin dalam hati ini mendengar dipanggil “Ibu…”. Jauh hari aku mimpikan hal demikian, tapi mungkin Allah masih membimbingku agar menyelesaikan pendidikan dulu, walaupun pendidikan itu takterbatas oleh apa pun. Bahagianya mereka yang telah memiliki harta dengan panggilan “ibu”, “ayah”, “mama”, “papa”, “umi”, “abi”… tapi sebenarnya sangat mahalnya air mata mereka ketika keluar hanya karena takmenerima kenyataan bahwa buah hati yang selama ini didambakannya malah memungkiri semua yang ia berikan. Istighfar!
Siapakah yang tidak pernah menyakiti hati ibu sedikit pun? Adakah di antara kita? Mungkin di kalangan infotainment hal itu wajar dan sering terjadi. Tahukah kau kenapa? Karena mereka yang berperan sebagai melankolis dalam melakukan acting-nya selalu menghormati orangtuanya. Rasanya sangat sulit. Sekecil apa pun kesalahan itu, pasti kita pernah melakukannya, karena kita hanya sebagai manusia biasa yang penuh dengan kehidupan tanpa bersyukur. Maaf, bagi yang mempunyai seorang ibu yang sudah tua dan takmempunyai harta berlebih. Adakah yang dengan berani mengakui ia adalah ibunya? Ada. Meski hanya beberapa persen dari penduduk Indonesia, namun setidaknya masih ada yang mempunyai hati kecil yang takmau menjadi anak durhaka.
Ada pula yang hari-harinya dipenuhi dengan memikirkan orangtuanya yang sudah tua dan takut jika dipanggil oleh yang menciptakannya. Tahukah kamu, sebenarnya mereka takmau melihat kamu menangis, mereka hanya ingin kamu tersenyum. Tak usah pikirkan kami! Itulah yang sering mereka katakan ketika melihat kita dengan wajah murung saat menatapnya. Dalam hatinya ia harus kuat, untuk melihat kehidupan anak-anaknya lebik lama. Sungguh mulia jasa mereka.
Sekali-sekali lihatlah video tentang proses kelahiran. Dari seorang ibu yang mengerahkan seluruh tenaga untuk menyelamatkan anaknya agar dapat menikmati kehidupan dunia yang semakin maju. Kemudian, kepala bayi keluar dengan diikuti badan yang merah penuh darah. Takterbayang jika ketika bayi keluar sampai leher dan ibu takkuat mengeluarkannya. Namun dengan penuh keyakinan dan kecintaannya terhadap sang buah hati, ibu bekerja keras untuk tetap melahirkan anaknya secara sehat. Itulah bentuk cinta seorang ibu kepada anaknya. Walaupun kita belum memberinya apa pun, tapi ia tetap memberi kasih yang takakan terganti oleh apa jua.
Mata, telinga, hidung, mulut, apa lagi yang takdiberikannya untukmu? Merenunglah sejenak, Kawan, seberapa besar pembalasan kita terhadap perjuangan mereka? Penghargaan apa yang telah kita berikan kepadanya?
Apa kau puas dengan mendapat peringkat tiap semester di sekolah yang hanya enam bulan sekali? Jika dibandingkan dengan terbangunnya ia tiap malam ketika kita masih bayi karena menangis, apalah artinya peringkat dengan angka-angka itu. Ataukah dengan memberikan sebagian uang gajimu yang hanya sebulan sekali untuknya? Lalu, jika dibandingkan dengan dengan terbakarnya kulit yang takterlalu putih itu, tiap hari ia mencari kehidupan, bukan untuk dirinya, tapi buat sesosok anak manusia yang menanti kepulangannya dengan wajah tersenyum.
Sering kita marah dan takmau menerima yang telah diberikan ibu. Menyesal hati ini dulu sering membuatnya mengeluarkan butir-butir bening dari mata. Andai waktu dapat kuulang, aku ingin kembali ke masa itu. Aku akan selalu melakukan apa yang membuatnya tersenyum tanpa adanya pengelusan dada menahan sabar. Ibu… I love you… I’m sorry….
Serasa takada batas bila kita membicarakan kesalahan kepada ADI. Laksana pasir di pantai, butirnya halus tapi jika tertepa angin ia akan menyakitkan mata. Begitu juga dengan kita. Pasti dalam hati semua anak mempunyai rasa sayang kepada orangtua, terutama ibu. Akan tetapi, jika kita sedang tidak pada pendirian, alangkah kejamnya mulut kita membantah dan menggertak ibu yang tanpa sengaja melakukan kesalahan. Kita sendiri takmau disalahkan, tapi…
Sesak rasanya kalau melihat ibu terdiam mendengar hardikan kita. Ia terpukul, dalam hatinya menjerit dan menanyakan salahnya. Tapi mulutnya hanya terkunci rapat, takada sedikit pun kata cercaan balasan teralamatkan untuk kita. Terbuat dari apa hati ibu, aku taktahu. Kacamataku mengatakan hatinya terbuat dari baja. Seberapa pun kita takmenurutinya, dengan tangan yang menengadah ke atas dan berlinang air mata, ibu tetap berdoa untuk anaknya. Malu badan ini hanya membuatnya lelah tanpa memberi secuil cahaya. Kata-kata puisi pun takkan mampu mewakilinya.
Takada batas waktu pula jikalau kita sedang membicarakan ADI. Entah itu kenangan bersamanya, pengabdian kita terhadapnya, atau bahkan pembantahan kita kepadanya, takpernah takmenangis bila kuingat sosok ibu. Seorang wanita tua yang dengan tanpa segan selalu mencari kebahagiaan dan ketenangan untuk anaknya. IBU adalah ciptaan Allah yang paling indah di mataku. Apa pun yang orang katakan tentangnya, dalam benakku selalu ia yang bertahta. Dibandingkan dengan raja yang memakai jubah mewah dan beralaskan permadani, ibuku yang paling menguasai singgasana hatiku.
Percaya atau tidak dengan kata-kata yang kusebut tadi? Bisa kaurasakan jika hatimu masih berfungsi. Jahatnya anak yang takmerasa terhanyut ketika membicarakan ibu. Mendengar namanya saja, hati dan otak ini sudah ingin menyuruh mata untuk mengeluarkan butiran beningnya. Andai kuingat saat aku memaksa untuk keluar dari mulut vaginanya, andai kulihat pertama kali tangannya menggendong tubuh kecilku, andai kudapat rasakan ketika kuminum pertama kali sebagian dari darah yang keluar dari kedua putingnya berupa cairan putih yang amis, tapi itu semua takbermakna bagiku.
Tahukah kau mengapa? Karena aku takdapat ingat semua yang terjadi ketika pertemuan pertamaku dengannya. Karena aku ragu, apakah sudah kuucapkan terimakasih kepadanya atau belum sama sekali hingga saat ini?
Ibu… ibuku… ibu sayang… Maafkanlah anak yang pernah hidup dalam rahimmu, menyatu dengan darahmu, memakan makananmu. Jangan biarkan langkahku terlalu jauh darimu…
Subhanallah. Tanpa dapat kulihat proses terbentuknya aku, tapi dapat kurasa betapa dahsyatnya segala yang terjadi. Dari atas rambut hingga ujung kaki yang kupijakkan di atas tanah, semua sempurna. Ya, Allah… bahagiakan selalu bagi kaum ibu, baik yang sudah dipanggil “ibu” maupun calon-calon yang akan dipanggil “ibu”.


Cinta Sahabat
Kupunya banyak teman, tapi kuhanya mempunyai seorang sahabat. Sahabat yang secara umum dikategorikan sebagai teman yang sungguh-sungguh menjadi tempat kita berbagi di samping keluarga. Sahabat yang termasuk orang pilihan untuk kita menumpahkan segala yang dirasa, entah itu kabar baik atau sebalikya. Seribu teman mudah untuk dicari, namun untuk mencari seorang sahabat sangat sulit untuk ditemukan. Kita dapat mendapat teman di mana saja, namun untuk mencari seorang sahabat taksemudah membalikkan telapak tangan. Di jalan pun kita dapat menemukan teman, tak terhitung jumlahnya. Namun, cinta seorang sahabat belum tentu kaudapat.
Siapakah sahabat itu? Ia adalah orang yang merasa sakit apabila kita sakit, merasa senang apabila kita mendapat kesenangan. Ia bukan orang yang sedih melihat kita tersenyum, bukan orang yang cuek kala kita mengeluarkan air mata. Jika temanmu belum menampakkan seperti itu, berarti ia belum menjadi sahabatmu. Ketika marah, sahabat akan meredamnya dengan kenangan persahabatan yang tidak akan pernah terlupakan. Seberapa hebatnya kamu sayang dan menganggap ia baik, itu hanya analogi yang tidak akurat kebenarannya. Sadarlah Kawan, kita membutuhkan kehadiran sahabat.
Aku ingin berbagi secuil kisahku dengan orang yang selama lebih kurang dua tahun hidup bersamanya. Awalnya aku takmau berkawan dengannya, karena dalam pandanganku ia taksejalan dengan pemikiran dan prinsip-prinsipku yang keras dan takmau digantikan dengan prinsip orang lain. Suaranya yang sangat mengganggu apabila menyanyi, apalagi di malam hari, omongannya yang sering menyakitkan orang, tertawanya yang memekakkan telinga, itu adalah sebagian kecil sifatnya yang tidak kusukai.
Awalnya kita hanya tetangga kamar kost. Tapi karena teman sekamarku pindah dan ia kamarnya sendirian, aku pun pindah ke kamarnya. Dari awal aku takyakin akan kuat dengannya. Aku merasa mentang-mentang ia yang pertama di kamar itu, seolah aku hanya menumpang di kamar. Aku selalu mencoba menguatkan diri, pokoknya aku harus kuat.
Pernah suatu malam penyakit usus buntunya kumat. Ia menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. Aku dan temanku yang satu bingung harus bagaimana. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk mencari makanan apa adanya, setidaknya untuk menjanggal rasa sakit perutnya itu. Kami membelikannya sebungkus soto ayam di pasar malam yang kebetulan di samping kostku. Alhamdulillah, sakitnya mereda walaupun tidak hilang sepenuhnya. Dari saat itulah ia merasa bahwa aku dan temanku yang satu sangat perhatian padanya. Tapi saat itu, jujur aku belum merasa adanya persahabatan yang terjalin antara kami berdua. Namun seiring berjalannya waktu, aku pun menemukan sosok yang mungkin selama ini belum pernah aku temui dalam diri teman-temanku yang lain.
Awalnya aku sakit. Takpernah terbayangkan dia malah ikut sakit. Entah dari mana asalnya kami selalu mengalami kejadian yang sama. Dari kami makan, tidur, pergi sekolah, pulang sekolah, sampai masa-masa perempuan pun kami bareng, hanya berbeda berapa jam. Sungguh di luar dugaan dan sangkaan. Dari mana dan sejak kapan ia menjadi sahabatku, aku pun tidak tahu.
Tulisan ini kuharapkan dibacanya, agar ia tahu bahwa ada seseorang yang telah menganggapnya sebagai sahabat. Tiap aku mengalami sesuatu, pasti ia yang paling tahu tentang aku, melebihi keluargaku yang jauh di rumah.

unsur-unsur intrinsik novel Perempuan Berkalung Sorban

ANALISIS UNSUR-UNSUR INTRINSIK NOVEL “PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN” KARYA ABIDAH EL KHALIEQY
1. Tema
Novel Perempuan Berkalung Sorban ini mengangkat tema tentang sosial yang menceritakan seorang perempuan yang dibedakan dengan laki-laki dalam kehidupan sosialnya, baik dari segi pendidikan, hak, dan sebagainya. Selain tema sosial, di dalam novel ini pun terdapat nila-nilai religi yang dapat memberi pelajaran dan hikmah bagi para pembacanya.
Nilai sosial yang terdapat dalam novel ini tergambar dari cerita yang menjelaskan kedudukan dan derajat perempuan di bawah laki-laki, sehingga hak dan perlakuan perempuan sangat berbeda dengan laki-laki. Wanita tidak diwajibkan sekolah tinggi, berbeda dengan laki-laki yang terus menuntut ilmu setinggi-tingginya. Prinsip lama masih dianut, yaitu perempuan hanya akan berkutat dengan dapur dan urusan rumah tangga. Jadi, tidak perlu sekolah tinggi dan atau mempunyai gelar.
Dalam berpendapat pun, perempuan dugambarkan lebih lemah dan tidak berani mengungkapkan pendapatnya di muka umum. Hal tersebut mungkin karena menganut prinsip perempuan hanya bersifat sabar dan menunggu.
Novel ini berlatar agama Islam. Nilai-nilai agama yang terkandung di dalamnya, yaitu penceritaan yang menggunakan latar pondok pesantren yang kental dengan aturan-aturan agama. Santri belajar agama dan dididik untuk menjadi muslimah yang berguna.
Banyak juga pelajaran tentang agama yang dapat diambil dari novel ini, seperti ilmu tajwid, kisah-kisah perjuangan wanita pada zaman peperangan dulu, dan bahasa Arab. Di dalam novel ini ada beberapa dialog yang menggunakan bahasa Arab yang bisa dijadikan sebagai bahan belajar.
Perjuangan dan pergolakan yang dilakukan Anisa menggambarkan betapa timpangnya masalah sosial yang terdapat di dalam novel tersebut. Pemberontakan Anisa itu menimbulkan sedikit perubahan pada pola pikir wanita yang tidak mempunyai keberanian dalam menghadapi tantangan hidup.


2. Alur
Alur yang terdapat di dalam novel ini yaitu alur mundur, di mana cerita disampaikan dari waktu yang telah terjadi (lampau). Tokoh Anisa yang merupakan tokoh sentral dalam novel ini berperan sebagai orang yang serba tahu tentang inti cerita yang ia sampaikan kepada pembaca. Di dalam novel, cerita berawal dari kenangan masa lalu Anisa yang kemudian berlangsung sampai suaminya meninggal.
Cerita yang demikian disebut dengan menggunakan alur mundur. Berbeda dengan alur maju. Alur maju adalah cerita yang berjalan mulai dari awal sampai akhir cerita yang waktu dan tempat sedang terjadi, sedangkan alur mundur adalah cerita yang mengulas kembali masa, kenangan, atau cerita yang telah pernah terjadi dan kemudian diceritakan kembali.

3. Sinopsis
Anisa Nuhaiyyah adalah seorang anak kiai dari sebuah pondok pesantren di Jawa Timur. Nama yang memiliki arti perempuan yang berakal, yang berpandangan luas. Sejak kecil Anisa ingin sekali belajar naik kuda. Ia ingin menjadi seperti Hindun binti Athaba yang mahir naik kuda dan menderap kian ke mari di padang pertempuran. Selain Hindun, ia juga ingin menjadi seperti putri Budur yang memimpin pasukan Raja Kamaruzzaman, sedangkan para lelaki perkasa seperti anak ayam di belakang ekor induknya.
Anisa mempunyai paman bernama Khudori. Dengannya Anisa belajar naik kuda dan memperoleh kisah-kisah perjuangan wanita, meskipun ia dilarang belajar naik kuda oleh ayahnya dengan alasan naik kuda hanya boleh dilakukan oleh laki-laki. Diam-diam Anisa mengagumi sosok pamannya itu. Begitu juga dengan Khudori, menyukai Anisa yang terpaut usia jauh dengannya. Setamat mondok di Gontor, Khudori cuti setahun dan melanjutkan beasiswanya di Al-Azhar, Kairo. Kepergian sementara Khudori itu menyisakan kerinduan dan kekosongan hari-hari Anisa. Selama ini Khudori tinggal di rumah Anisa sehingga sangat dekat dengan keluarga itu, terutama Anisa sendiri.
Pondok Pesantren Putri yang didirikan oleh ayah Anisa, KH. Hanan Abdul Malik, memang memiliki cita-cita dan harapan untuk mendidik dan menjadikan para remaja putri agar menjadi kaum muslimah yang berguna bagi negara dan bangsa. Namun, pada prakteknya selalu menekankan pendidikan akhlak bagi perempuan, khususnya akhlak perempuan dalam bermasyarakat dan berumah tangga.
Anisa selalu disuruh berkutat dengan pekerjaan wanita, seperti urusan dapur. Tidak seperti kedua kakaknya, Rizal dan Wildan, yang bebas melakukan hal kesukaan mereka. Hal tersebut membuat Anisa merasa kedua orangtuanya tidak adil dengan perlakuan yang berbeda kepada anak laki-laki dan perempuannya.
Ia mendapatkan materi di pondok yang mengatakan wanita lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki, baik dari segi amal agama, pendidikan, dan sebagainya. Hal tersebut membuat Anisa bertanya-tanya mengapa wanita dibedakan dengan laki-laki, padahal mereka sama-sama makhluk ciptaan Allah dan juga mendorongnya untuk merombak perlakuan yang membedakan wanita dengan laki-laki itu.
Pada suatu waktu ada keluarga yang melamar Anisa untuk anaknya, Samsudin. Awalnya, orangtua Anisa menolak karena Anisa masih terlalu kecil dan belum mengerti apa-apa. Namun, ayah Samsudin yang merupakan teman karib Kiai Hanan ketika mondok mengatakan akan menunggu Nisa sampai waktunya. Sampai pada saat Anisa baligh dan Samsudin diwisuda, pernikahan tanpa cinta itu pun dilangsungkan.
Selama menikah dengan Samsudin, Anisa tidak pernah mendapat kebahagiaan dan perlakuan yang baik, ia mendapat perlakuan kasar yang tidak manusiawi dari suaminya. Malah karena Anisa dianggap mandul, Samsudin menikah lagi dengan seorang janda yang bernama Kalsum dan mempunyai anak yang dinamai Fadilah. Kisah pahitnya itu Anisa ceritakan pada Khudori lewat surat. Ia ingin menceritakan kepada ibunya, tapi takut ibunya tidak akan percaya dan menyuruhnya bersabar karena kodrat wanita adalah tetap bersabar dalam keadaan apapun.
Selang beberapa waktu kemudian Khudori pulang dari Kairo. Dengan bantuan Khudori, Anisa menceritakan kehidupannya selama menikah dengan Samsudin kepada ibunya, Hj. Mutma’inah. Betapa terkejutnya ia mendengar cerita Anisa. Begitu pun dengan ayahnya, hingga terserang darah tinggi saat mendengar kabar tersebut. Meskipun sakit, ayahnya tetap merundingkan dengan keluarga tentang masalah yang tengah dialami Anisa dan bagaimana mencari jalan keluarnya.
Keluarga Anisa mengirim Kiai Shaleh untuk merundingkan masalah dalam pernikahan Anisa dan Samsudin dengan pihak keluarga Kiai Nasiruddin. Setelah melalui beberapa perundingan yang tidak menemui titik temu, akhirnya disepakati perceraian Anisa dengan Samsudin.
Akhirnya Anisa menyandang status janda. Ia menjadi semakin dekat dengan Khudori dan sering pergi berdua mencari angin segar. Orang-orang yang melihatnya meyangka ada hal-hal yang tidak wajar di antara Anisa dan Khudori, sampai pada akhirnya kabar itu terdengar oleh ibu Anisa. Meskipun mereka bersaudara, tapi status Anisa yang janda membuat orang-orang curiga hubungan mereka lebih dari itu. Sejak itu, Khudori pergi dari rumah Anisa dan kembali ke kampung halamannya.
Anisa yang masih menggebu menuntut ilmu, melanjutkan kuliahnya di Jogja dan mengambil jurusan filsafat. Pada suatu waktu, Khudori mengunjunginya di tempat kos dan mengajak Anisa menikah. Kemudian mereka pun direstui dan melangsungkan pernikahan yang membawa kebahagiaan bagi keduanya.
Dalam masa pernikahannya dengan Khudori, Anisa mendapat surat dari Kalsum yang mengatakan Samsudin masih menaruh dendam pada Anisa dan Khudori. Samsudin merasa Anisa telah menipu selama menikah dengannya, Anisa masih menjalin hubungan dengan Khudori. Maka dari itu, Kalsum meminta Anisa untuk berhati-hati.
Selama beberapa tahun menikah, Anisa belum juga dikaruniai momongan. Hal itu membuat berbagai gunjingan menimpa dirinya. Ia mencoba bersabar. Sampai pada suatu hari ia mendengar kabar bahwa Khudori pernah menikah di Berlin dan punya seorang anak. Dan karena Anisa mandul, Khudori berniat untuk rujuk kembali dengan istri pertamanya. Hal itu membuat Anisa dibakar rasa cemburu. Khudori yang memiliki sikap tenang mencoba menjelaskan kebenaran kabar itu, tapi Anisa terlanjur cemburu dan kecewa sehingga menutup penjelasan apa pun dari suaminya.
Pada sebuah acara konferensi perempuan muslim internasional, Anisa bertemu dengan peserta dari Yordania, bernama Loubna el Huraybi yang merupakan teman akrab Khudori ketika di Berlin. Kepadanya Anisa menanyakan perihal kebenaran kabar pernikahan Khudori. Loubna mengaku tidak pernah mengetahui pernikahan itu. Sejak itu Anisa ragu akan kebanaran kabar pernikahan suaminya, sampai ia kembali mengingat pesan Kalsum yang menyuruhnya untuk hati-hati. Ternyata itu adalah tingkah Samsudin yang menebar fitnah untuk merusak rumah tangga Anisa.
Anisa meminta maaf pada Khudori. Hubungan mereka kembali harmonis dan semakin mesra. Tak lama kemudian Anisa hamil dan melahirkan seorang anak yang mereka namai Mahbub.
Anisa dan Khudori dengan membawa Mahbub menghadiri sebuah acara pernikahan teman sekolah. Secara tidak sengaja mereka bertemu dengan Samsudin dan Kalsum yang juga membawa Fadilah. Anisa melihat masih ada dendam dari mata Samsudin. Namun, ketenangan Khudori meredam kecurigaannya.
Sampai pada suatu hari, Anisa mendapat kabar dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa Khudori mengalami kecelakaan dan sedang dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Sardjito. Khudori yang megalami kritis tidak kuat dan akhirnya meninggal dalam keadaan tersenyum dan tenang.
Anisa yang telah memiliki Mahbub awalnya sangat terpukul dan tidak percaya bahwa suaminya meninggal. Tapi kepergian jasad suaminya itu tak memutuskan kebersamaan jiwa mereka. Anisa tetap berjuang memperjuangkan nasib kaumnya yang masih dianggap lemah.

4. Latar
Latar yang terdapat dalam novel ini terdiri atas latar tempat, waktu, dan suasana.
a. Latar Tempat
1) Lereng pegunungan di dusun kecil
Semasa kecil Anisa sering bermain-main di bawah lereng pegunungan di daerah tempat tinggalnya.
Kutipan:
Gemercik air tak henti mengalir, mengisi kolam dan blumbang. Sungai-sungai kecil melengkungkan tubuhnya seperti sabit para petani yang menunggu musim panen. Sawah dan ladang berundak-undak seakan tangga untuk mendaki ke dalam istana para peri. Semilir angin selalu datang dan pergi, tak pernah bosan menghias diri di pucuk-pucuk dedaunan. Bunga-bunga liar mekar tanpa disiram, menawarkan keindahan alam di lereng pegunungan, di dusun kecil yang terpisah dari keramaian, tempat bermain masa kanakku yang tak pernah kulupakan. (Khalieqy: 1)
2) Kelas sekolah Anisa
Ketika di kelas Anisa masih memikirkan perkataan kakaknya, Rizal, ketika sarapan pagi di rumah sebelum berangkat sekolah yang mengatakan urusan laki-laki tidak perlu diketahui perempuan.
Kutipan:
Di dalam kelas, selagi aku masih merenung-renung perkataan Rizal, pak guru bahasa Indonesia menyuruhku mengulang kalimat. (Khalieqy: 10)
3) Semak perdu dan kamar mandi rumah keluarga Anisa
Ketika kecil, Anisa bermain ke blumbang dengan Rizal yang mengakibatkan Rizal pulang dengan basah kuyup. Mereka pulang dan langsung menuju kamar mandi agar tidak diketahui ayah mereka.
Kutipan:
Dengan mengendap, kami melangkah melintasi semak dan perdu. Lalu masuk ke kamar mandi dengan hati-hati. (Khalieqy: 5)
4) Ruang tengah
Di ruang tengah rumah Anisa, ia tertawa dan bercanda dengan Khudori.
Kutipan:
Karuan saja lek Khudori terbahak-bahak membuat ibu dan bapak terkejut, lalu mendatangi kami berdua yang sedang berada di ruang tengah dan menengok apa yang telah terjadi. (Khalieqy: 35)
5) Depan kamar mbak May
Ketika acara khataman, Anisa menyusup dari kerumunan tamu dan pergi menyendiri dengan dunia khayalnya.
Kutipan:
Di depan kamar mbak May, di bawah bungur yang indah, aku duduk di atas batu ceper dan mulai melantunkan beberapa irama yang telah kukuasai dengan bacaan bil-ghaib, terutama surah Nuh dan Maryam. (Khalieqy: 42)
6) Kamar Anisa
Ketika Khudori pergi ke Kairo untuk meneruskan beasiswanya, Anisa hanya merenung di dalam kamar.
Kutipan:
Setelah kepergian lek Khudori, aku sering mengurung diri di dalam kamar. (Khalieqy: 53)
7) Ruang belakang rumah
Anisa dan lek Umi berbincang-bincang membicarakan masalah yang terjadi dalam pernikahan.
Kutipan:
Lalu kami menuju ruangan belakang di mana tamu-tamu perempuan biasa dijamu oleh ibu. (Khalieqy: 262)
8) Serambi masjid
Serambi masjid adalah tempat untuk belajar kitab para santri bersama ustadz Ali.
Kutipan:
Maka, entah malam yang ke berapa ketika udara agak dingin berhembus di balik kerudung kami, ketika jadwal belajar kitab harus dilaksanakan dan bintang di langit mulai bertebaran, para santri mulai bergegas menuju serambi masjid di sebelah kiri. (Khalieqy: 78)
9) Pondok pesantren
Di pondok Anisa belajar tilawah bersama mbak May.
Kutipan:
Maka, dalam kehangatan matahari di lereng pegunungan itu, sehabis makan siang dan mencuci piring yang dipenuhi minyak sambal, kuah sayur, dan sisa makanan yang telah berganti warna, aku begegas menuju ke pondok. (Khalieqy: 19)
10) Perbatasan desa
Anisa belajar naik kuda bersama lek Khudori yang tidak diketahui oleh ayahnya.
Kutipan:
Begitulah, sampai akhrinya aku berhasil naik kuda sampai ke perbatasan desa. (Khalieqy: 25)
11) Rumah Aisyah
Anisa ingin pergi ke toko buku di kota kabupaten diantar oleh Aisyah, teman sepermainannya.
Kutipan:
Pagi-pagi sehabis membantu ibu di dapur, kuambil semua uangku yang selama ini kusimpan dalam sebuah kitab yang tidak terjangkau oleh penciuman Rizal. (Khalieqy: 58)
12) Toko buku Al-Hikmah di kota kabupaten
Anisa dan Aisyah pergi ke kota kabupaten untuk mencari buku.
Kutipan:
Kami turun dan menyeberang jalan, lalu melangkah ke toko buku “Al-Hikmah”, satu-satunya toko buku yang lengkap di kota itu. (Kahlieqy: 62)
13) Bioskop
Anisa dan Aisyah ingin mencoba menonton di bioskop setelah dari toko buku Al-Hikmah.
Kutipan:
Berdua menuju gedung bioskop, berdebar juga perasaanku. (Khalieqy: 64)
14) Indekos Jogja
Khudori mengunjungi tempat indekos Anisa yang tengah kuliah di Jogja.
Kutipan:
Maka, Nina yang kamarnya berseberangan dengan kamarku terheran-heran ketika pada suatu hari, seorang laki-laki mengetuk pintu rumah indekos dan bermaksud mencariku. (Khalieqy: 205)
15) Kafe
Khudori yang menemui Anisa di tempat indekosnya mengajak Anisa makan di sebuah kafe.
Kutipan:
Setelah menyantap kepiting goreng di sebuah kafe antik pinggir jalan, kami ke toko buku mencari terbitan terbaru dan lek Khudori membelikanku beberapa buah jurnal ilmu dan kebudayaan paling gres yang kuketahui kemudian sebagian jurnal paling bergengsi karena kualitasnya di negeri ini. (Khalieqy: 208)
16) Komisariat organisasi
Anisa dan Nina mendatangi komisariat organisasi yang diikutinya.
Kutipan:
Bersama Nina, aku pun berlalu menuju komisariat mencari mbak Maryam, ketua organisasi di mana aku setiap hari nongkrong di dalamnya. (Khalieqy: 229)
17) BKIA
Tempat Anisa melahirkan anaknya, Mahbub.
Kutipan:
Kami pulang ke rumah setelah dua hari menginap di BKIA. (Khalieqy: 297)
18) Rumah Sakit Sardjito
Anisa mendapat kabar bahwa Khudori mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit Sardjito.
Kutipan:
“Maaf, Bu. Ini dari rumah sakit. Ingin mengabarkan bahwa polisi mendapatkan suami Anda kecelakaan sekitar satu jam lalu dan kini sedang dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Sardjito.” (Khalieqy: 309)
19) Kampung
Anisa dan Khudori menghadiri pernikahan teman sekolah di kampung.
Kutipan:
Pada suatu hari di sebuah acara pernikahan serang teman sekolah di kampung, kami membawa serta Mahbub dan tak diduga sama sekali, kami bertemu dengan pasangan mbak Kalsum dan Samsudin serta putri mereka, Fadilah, yang kini berusia sekitar lima tahunan. (Khalieqy: 301)
20) Kedai yu Sri
Tempat wak Tompel berjudi dan mabuk.
Kutipan:
Padahal wak Tompel, yang setiap malam minum tuak dan berjudi di kedai yu Sri, tidak dilarang untuk tidur menggelosor di dalam masjid dan tak seorang pun berani mengatakan bahwa itu haram. (Khalieqy: 73)
b. Latar Waktu
1) Masa kanak-kanak Anisa
Dalam novel ini diceritakan kisah Anisa sejak ia masih kanak-kanak sampai dewasa.
Kutipan:
Meski sudah berlalu, jauh di belakang waktu, masa kanak itu banyak menyimpan cerita. Kadang mengasyikkan, tapi lebih banyak yang menyebalkan. (Khalieqy: 1)
2) Beranjak baligh
Anisa semakin tumbuh dan sampai pada masa balighnya.
Kutipan:
Ketika itu, usiaku telah beranjak baligh. Perutku sering mual-mual, itu tandanya aku mau menstruasi yang pertama, kata mbak May suatu hari. (Khalieqy: 25)
3) Khataman
Anisa yang telah hafal tiga pulih juz mengadakan khataman sebagai pesta kecil untuknya.
Kutipan:
Dan kini, sejak lek Khudori tinggal di sini, aku telah menyelesaikan tiga puluh juz dan ibu menyelenggarakan acara khataman. Bahkan mengundang juga Kiai Jamaluddin untuk memberi pengajian. (Khalieqy: 40)
4) Setelah kepergian Khudori ke Kairo
Setelah cuti setahun setamat mondok di Gontor, Khudori melanjutkan beasiswanya ke Al-Azhar, Kairo.
Kutipan:
Setelah kepergian lek Khudori, aku sering mengurung diri di dalam kamar. Rasanya enggan melihat dunia luar. Matahari tidak lagi menyilaukan pemandangan. Semilir angin pegunungan tak mampu lagi mendatangkan rasa nyaman. (Khalieqy: 53)
5) Penerimaan raport
Anisa menerima raport kelas lima dengan nilai yang baik.
Kutipan:
Waktu berlalu begitu cepat. Kini aku telah menerima raport dari kleas lima tanpa satu angka pun yang berwarna merah. Bahkan, rangkingku paling atas dan itu semua berkat dorongan melalui surat-surat lek Khudori yang menggemuruh penuh cita-cita. (Khalieqy: 56)
6) Hari Minggu yang cerah
Hari Minggu Anisa dan Aisyah pergi ke toko buku kota kabupaten.
Kutipan:
Besoknya, hari Minggu sangat cerah. (Khalieqy: 58)
7) Seminggu setelah ke bioskop
Sifat kebandelan Anisa yang pergi ke bioskop tanpa sepengetahuan orangtuanya akhirnya sampai juga kabar itu pada orangtuanya.
Kutipan:
Tetapi, seminggu kemudian, berita itu telah sampai pada bapak, tanpa kutahu angin puyuh dari mana yang telah mengabarkannya. (Khalieqy: 70)
8) Pelamaran
Anisa dilamar untuk Samsudin di saat ia belum siap dan memang belum saatnya menikah karena masih terlalu kecil dan belum mengerti apa-apa.
Kutipan:
“Kami juga tidak terlalu terburu. Ya, mungkin menunggu si Udin wisuda kelak. Yang penting... kita sepakat untuk saling menjaga. Mengenai kapan di-langsungkannya pernikahan, nanti kan bisa dirembug lagi.” (Khalieqy: 90)
9) Haid
Anisa beranjak ke masa balignya dengan ditandai masa menstruasi.
Kutipan:
“Sejak saat ini, kau bukan lagi anak-anak, Nisa. Darah haid pertama telah menandai batas masa kanak-kanakmu menuju usia dewasa.” (Khalieqy: 92)
10) Pada suatu malam ketika Anisa sudah menikah dengan Samsudin
Sejak menikah dengan Samsudin, Anisa sangat tersiksa dengan perlakuan kasar suaminya sehingga ia tidak pernah merasa bahagia dalam kehidupan rumah tangganya.
Kutipan:
Masih segar dalam ingatanku. Serasa gambar-gambar hitam yang bergerak di layar putih pada suatu malam. Tapi ini bukan malam. (Khalieqy: 95)
11) Kepulangan Khudori ke kampungnya
Karena bapak Anisa mengetahui bahwa Anisa yang sedang dalam masa iddah setelah bercerai dari Samsudin sering keluar dan pergi berdua dengan Khudori, Khudori disuruh pulang kembali ke kampung halamannya.
Kutipan:
Secara tidak langsung, bapakmu juga menginginkan agar aku pulang kembali ke kampung halaman atau pergi dari rumah ini secepatnya. Lebih cepat, lebih baik. (Khalieqy: 198)
12) Suatu sore
Khudori kembali ke kampung halamannya untuk menghindari gunjingan orang mengenai dirinya dengan Anisa.
Kutipan:
Dengan berat hati sore itu, kami sekeluarga, bapak, ibu, dan aku sendiri mengantar kepergian lek Khudori, seolah ia akan pergi selamanya. (Khalieqy: 201)
13) Pagi setengah siang
Anisa dan Nina mengunjungi komisariat dan menemui mbak Maryam yang menjadi tempat konsultasi.
Kutipan:
Bersyukur bahwa kedatanganku pagi setengah siang itu bertepatan dengan waktu luangnya, dan ia biasa membicarakan dagangannya dan motif-motif artistik dari batik-batik yang dijajakannya, dari motif batik klasik maupun kontemporer. (Khalieqy: 230)
14) Pukul sembilan malam
Anisa merasa kesakitan dan mau melahirkan sekitar pukul sembilan malam.
Kutipan:
Sekitar pukul sembilan malam, karena aku sudah tak tahan oleh rasa sakit, mbak Maryam memberi nasehat agar kami segera berangkat ke BKIA. (Khalieqy: 294)
15) Pukul sepuluh malam
Kelahiran anak Anisa tepat pukul sepuluh malam.
Kutipan:
Tepat pukul sepuluh malam, setelah melalui perjuangan yang luar biasa antara jiwa dan janinku, bayi yang kutunggu itu lahir dan melengking menembus kesadaranku akan makna seorang ibu. (Khalieqy: 294)
16) Pada suatu hari
Anisa dan Khudori beserta Mahbub, anaknya, menghadiri sebuah acara pernikahan teman sekolah dan secara tidak sengaja bertemu dengan Samsudin dengan Kalsum.
Kutipan:
Pada suatu hari di sebuah acara pernikahan serang teman sekolah di kampung, kami membawa serta Mahbub dan tak diduga sama sekali, kami bertemu dengan pasangan mbak Kalsum dan Samsudin serta putri mereka, Fadilah, yang kini berusia sekitar lima tahunan” (Khalieqy: 301)
c. Latar Suasana
1) Suasana tenang di pedesaan
Tempat tinggal Anisa yang terletak di bawah lereng gunung yang memberi kesan ketenangan.
Kutipan:
Gemercik air tak henti mengalir, mengisi kolam dan blumbang. Sungai-sungai kecil melengkungkan tubuhnya seperti sabit para petani yang menunggu musim panen. Sawah dan ladang berundak-undak seakan tangga untuk mendaki ke dalam istana para peri. Semilir angin selalu datang dan pergi, tak pernah bosan menghias diri di pucuk-pucuk dedaunan. Bunga-bunga liar mekar tanpa disiram, menawarkan keindahan alam di lereng pegunungan, di dusun kecil yang terpisah dari keramaian, tempat bermain masa kanakku yang tak pernah kulupakan. (Khalieqy: 1)
2) Menegangkan
Ketika pergi bermain ke blumbang dan pulang dengan pakaian kotor, Anisa dan Rizal mengendap dan menghindari ayahnya. Tapi, akhirnya mereka tertangkap basah.
Kutipan:
Ketika telinga kami menangkap suara langkah, pastilah langkah kaki bapak. Spontan kami berbalik, melirik bayangan bapak yang mulai mendekat. Bayangan itu kadang-kadang serupa malaikat, kadang juga seperti hantu yang menakutkan. Tak ada sesuatu pun yang dapat kami perbuat kecuali menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir bapakku. (Khalieqy: 6)
3) Ketakutan
Rizal terjatuh ke dalam blumbang dan Anisa merasa bingung dan takut.
Kutipan:
Mula-mula aku tertawa menyaksikannya. Begitu kuamati wajahnya, ketakutan mencengkeramku. Kuedarkan seluruh pandangan, menyapu ladang dan pematang. Tak ada seorang pun. Kesunyian menggumpal, menambah ketakutan menjadi berganda. (Khalieqy: 4)
4) Ramai, lucu
Anisa yang polos menceritakan ayah temannya ketika membahas peran wanita dan laki-laki di kelas bersama guru dan teman-temannya.
Kutipan:
Pak guru terpingkal-pingkal, demikian juga teman-temanku. Semuanya tertawa mendengar cerita bapak Dita mengucapkan kalimat itu berulang-ulang di telinga burung-burungnya, dan menggosok lidah burung-burungnya itu dengan batu berkilatan seperti beling. (Khalieqy: 12)
5) Hangat
Anisa ke kamar mbak May saat matahari memberi kehangatan.
Kutipan:
Maka, dalam kehangatan matahari di lereng pegunungan itu, sehabis makan siang dan mencuci piring yang dipenuhi minyak sambal, kuah sayur dan sisa makanan yang telah berganti warna, aku bergegas menuju ke pondok, ke kamar nomor enam, kamar mbak May. (Khalieqy: 19)
6) Syahdu
Anisa belajar tajwid dan tilawah dengan mbak May dan mempraktekannya di kamar.
Kutipan:
Dengan teliti kupraktekkan satu persatu mana ‘ikhfa, mana iqlab. Sehabis Shubuh, begitu aku mendengar alunan ustad Abdullah al Matrud, imam besar Masjidil Haram itu menggema dan menembus tebalnya kabut kemalasan, kubuka kembali pedoman tajwid yang telah diajarkan mbak May. (Khalieqy: 23)
7) Keindahan dan kenikmatan
Khudori sering membacakan puisi kepada Anisa.
Kutipan:
Aku menerawang, membayangkan semampuku isi puisi yang baru dibaca lek Khudori. Tetapi tidak juga mengerti, kecuali merasakan keindahan dan kenikmatan untuk mendengarkan atau mengucapkannya. (Khalieqy: 27)
8) Romantis
Khudori bersikap mesra pada Anisa, selalu menyanjung dan memperlakukannya dengan istimewa.
Kutipan:
Kemudian ia menggenggam tanganku dan menciumnya. Itulah kebiasaan yang sering dilakukan olehnya, mencium tanganku dengan sayang. Dan kini pun ia telah menggenggamnya untuk kemudian pelan-pelan diciumnya dengan amat sayang dan penuh perasaan. (Khalieqy: 39)
9) Ceria
Anisa dan Khudori suka bercanda dan tertawa yang membuat suasana menjadi ceria.
Kutipan:
Seolah-olah tertawa telah menjadi bagian dari kehidupan, dari kebebasan yang tidak bisa ditekan. Seperti juga yang terjadi pada malam harinya, seusai mengaji dan belajar nahwu sharaf, kami bercanda, lek Khudori tertawa pelan dan terkesan malu-malu, kontan aku nyeletuk. (Khalieqy: 35)
10) Terancam
Anisa pergi belajar naik kuda bersama lek Khudori dan diketahui oleh ayahnya sehingga mendapat hukuman.
Kutipan:
“Sekarang dengar! Mulai hari ini, kau tidak boleh keluar rumah selain sekolah dan ke pondok. Jika sekali ketahuan membangkang, Bapak akan kunci kamu di dalam kamar selama seminggu.” (Khalieqy: 34)
11) Menghayal
Anisa suka menghayal dan menyatu dengan dunia hayalnya.
Kutipan:
Duduk di atas batu seperti ini, dikitari sunyi dan derai angin, gemericik air, suara belalang dan jangkerik, aku merasa tengah duduk di atas singgasana sendiri yang telah begitu kukenal. Singgasana dalam kerajaan hayal. (Khalieqy: 43)
12) Sedih, empati
Anisa membayangkan kekejaman kaum pada masa dulu yang menguburkan anak perempuannya hidup-hidup.
Kutipan:
Tak sadar aku sesenggukan sendiri. Perasaanku berdenyut-denyut. Alangkah kejamnya mereka. Alangkah biadabnya mereka. Ras apakah namanya yang memproduksi perangai durhaka dan dzalim macam itu? (Khalieqy: 44)
13) Hampa
Setelah kepergian Khudori ke Kairo, Anisa merasa kehilangan dan kehidupannya seolah hampa.
Kutipan:
Setelah kepergian lek Khudori, aku sering mengurung diri di dalam kamar. Rasanya enggan melihat dunia luar. Matahari tidak lagi menyilaukan pemandangan. Semilir angin pegunungan tak mampu lagi mendatangkan rasa nyaman. (Khalieqy: 53)
14) Genting
Anisa dan Aisyah pergi ke bioskop tanpa sepengetahuan orangtua mereka. Kemudian, mereka bertemu dengan seesorang yang menakutkan.
Kutipan:
Sejurus aku terpana. Darah mendesir dan lidahku kelu. Keringat dingin mulai mengalir pelan menjalari tangan dan kakiku. (Khalieqy: 65)
15) Mencekam
Anisa mengatakan kepada Samsudin bahwa hanya lek Khudori yang membuatnya tenang dan hal itu membuat Samsudin geram.
Kutipan:
Ia mencabut gigi taringnya dari tubuhku, seperti harimau lapar tengah berhadapan dengan mangsanya. Lalu menggeram untuk kemudian menekan kuat-kuat wajahku di atas bantal sambil mengeluarkan sumpah serapah tujuh turunan dan kata-kata makian yang diambil dari kamus kebun binatang. (Khalieqy: 103)
16) Haru
Anisa menceritakan kehidupan rumah tangganya bersama Samsudin kepada ibunya.
Kutipan:
Ibu limbung untuk menyadari kenyataan yang terjadi. Lalu menengok ke arahku dan dengan sikap penuh penyesalan, ibu merangkulku, mengusap kepalaku, menghapus titik-titik air mata di pipiku. Kami bertangisan penuh sesal di wal pagi yang membuka pilihan takdirku ini. (Khalieqy: 164)
17) Berkabung
Khudori meninggal karena kecelakaan. Banyak pelayat yang merasa kasihan terhadapnya, karena orang sebaik ia mati dengan begitu cepat. Anisa tetap berusaha sabar dan tidak terlalu terpuruk dalam kesedihan.
Kutipan:
Di mana aku bangkit, berdiri, dan berjalan menuju ruang tengah. Tetapi apa yang kulihat? Tubuh berselimutkan kain panjang itu wajahnya begitu pucat, matanya terpejam dan diam. Aroma kapur barus itu, telah menyentakkan kesadaranku akan makna semua yang diam. Para pelayat yang terus berdatangan dan tatapan mata mereka, semuanya memberitahu arti sebuah peristiwa. (Khalieqy: 313)

5. Tokoh
1. Anisa
- perempuan yang cantik dan cerdas
Kutipan:
“Kau tidak saja cantik, tetapi juga baik dan otakmu sangat cerdas.” (Khalieqy: 38)
- memiliki keinginan yang kuat dan semangat tinggi
Kutipan:
Memangnya mengapa kalau perempuan jadi pahlawan? Tidak boleh. Bukankah Tjut Njak Dhien juga hebat. Aku juga ingin hebat seperti Ratu Balqis atau Hindun Binti Athabah. (Khalieqy: 34)
- berpikir kritis
Kutipan:
Aku ingin membaca, kira-kira apa yang sedang dipikirkan olehnya. Dan aku sebal melihat para santri lain yang menunduk-nundukkan kepala dengan malu-malu kucing, seperti kucing beneran. Menurutku, tak ada sedikit pun hal memalukan di sini. Jadi untuk apa menundukkan kepala? (Khalieqy: 81)
- penyayang
Kutipan:
“Tetapi aku kasihan! Lek Khudori juga bilang, jangan ganggu yang sedang kesulitan, bisa kuwalat!” (Khalieqy: 3)
2. Khudori
- Suami ke dua Anisa yang cerdas, berwawasan luas, dan menyukai puisi
Kutipan:
Memang, berbeda dengan para pemuda di desa, selain cerdas dan berwawasan luas, lek Khudori memiliki kebiasaan yang agak aneh. Bagaimana tidak, sambil memancing pun, lek Khudori suka berteriak, mengucapkan kata-kata yang belum pernah kudengar sebelumnya. (Khalieqy: 26)
- demokratis dan emansipatoris
“Laki-laki yang demokratis dan emansipatoris seperti suamimu, Nis, boleh dibilang langka, sekalipun menjadi idaman banyak perempuan.” (Khalieqy: 235)
3. Kiai Hanan
- ayah Anisa yang menyayangi anak-anaknya
Kutipan:
Meski masih terlihat sedikit kelelahan di wajahnya, bapak memaksakan diri untuk duduk di antara kami. (Khalieqy: 182)
- bijaksana
Kutipan:
“Coba, Nisa. Sekarang ceritakan kepada kami, bagaimana sesungguhnya pergaulanmu dengan suamimu selama ini. Jika ada yang kau rasa tidak pada tempatnya, ceritakan semua kepada kami, terutama tentang perilaku suami-mu yang menyimpang dan sering menyalahi hukum agama.” (Khalieqy: 182)
- sangat keras dengan aturan
Kutipan:
“Nisa! Hentikan kata-katamu. Kalau tidak, Bapakmu yang akan menanganimu.” (Khalieqy: 160)
4. Hj. Mutma’inah
- arif
Kutipan:
Dengan memamerkan kesabaran dan kearifan hidup yang berusaha di tampakkan kepadaku, tangan ibu mengelus kepalaku sambil berkata lirih. (Khalieqy: 92)
- adil bijaksana
Kutipan:
Suara ibu menyela sambil mendekati kami berdua, memberi keputusan yang adil. (Khalieqy: 7)
- lembut dan penyayang
Kutipan:
Ibu ikut-ikutan tertawa dan mengelus kepalaku dengan sayang. (Khalieqy: 35)
5. Rizal
- kakak laki-laki Anisa yang pemalas
Kutipan:
“ Kau yang pemalas. Kerjanya cuma tidur. Dasar pembohong! Ngomongnya belajar ternyata ngorok!” (Khalieqy: 24)
- agak kasar
Kutipan:
Benar juga, batinku. Tapi tentu ada bedanya. Aku terdiam beberapa saat. Mencari-cari jawaban lain yang lebih kuat dari alasan Rizal. Kuperhatikan tingkahnya yang agak kasar untuk mengejar dan menangkap katak betina dengan jaring ikannya. (Khalieqy: 3)
6. Wildan
- kakak laki-laki Anisa yang pendiam
Kutipan:
Wildan yang pendiam dan banyak merenung, ia hanya mengangguk dan banyak menggerakkan tangannya yang menunjukkan tak setuju. (Khalieqy: 9)
7. Samsudin
- sarjana hukum dan putra anak kiai ternama
Kutipan:
“Ia seorang sarjana hukum dan putra seorang kiai ternama. Apalagi yang kurang dari dirinya. Segalanya ia miliki.” (Khalieqy: 105)
- berperawakan tinggi besar dan badannya dipenuhi gajih
Kutipan:
Beban gajihnya begitu berat menindih tubuhku hingga semuanya menjadi tak tertahankan. (Khalieqy: 97)
- kasar
Kutipan:
Ia membuang puntung rokok dan serta merta, di luar perkiraanku, laki-laki bernama Samsudin itu meraih tubuhku dalam gendongannya. (Khalieqy: 96)
- suka merayu janda
Kutipan:
Namun yang kudengar dari gunjingan pada para tetangga, Samsudin sangat mahir merayu janda. Terutama janda kembang di desanya. (Khalieqy: 116)
8. Kalsum
- janda yang dihamili Samsudin
Kutipan:
Pada suatu saat, seorang janda datang ke rumah dan mengadu padaku atas perilaku Samsudin, yang telah menghamilinya. (Khalieqy: 116)
- anak seorang makelar tanah
Kutipan:
Satu hal yang menjadi pikiran serius bagi Kalsum adalah masalah uang. Ia anak perempuan dari seorang makelar tanah yang selalu bau rupiah. Tembak sana, tembak sini tanpa merasa jengah. (Khalieqy: 123)
- berpikir bebas tanpa batasan hukum agama
Kutipan:
Kalsum lulusan Sekolah Menengah Atas bekasan tahun lalu. Tetapi karena lingkungan sosial dan budayanya berbeda denganku, Kalsum memiliki pemikiran yang serba bebas tanpa batasan hukum agama. (Khalieqy: 122)
- mata duitan
Kutipan:
Satu hal yang menjadi pikiran serius bagi Kalsum adalah masalah uang. (Khalieqy: 123)
- mudah dipengaruhi
Kutipan:
Perbedaan sikap mbak Kalsum terhadapnya lebih revolusioner dibanding aku sendiri, yang telah memberinya inspirasi. Jauh dari pikiran sesungguhnya, pribadi mbak Kalsum mudah digerakkan untuk hal-hal yang bersifat positif dan spiritual. (Khalieqy: 125)
9. Aisyah
- sahabat karib Anisa
Kutipan:
Pagi-pagi sehabis membantu ibu di dapur, kuambil semua uangku yang selama ini kusimpan dalam sebuah kitab yang tidak terjangkau oleh penciuman Rizal. Lalu pergi ke rumah Aisyah sahabatku yan paling akrab. (Khalieqy: 58)
- penakut
Kutipan:
“Enggak, ah! Aku takut.” (Khalieqy: 63)
10. Ustad Ali
- kiai sepuh yang dohormati dan ditaati perintahnya
Kutipan:
Kiai Ali menikmati betul status dan posisinya sebagai seorang kiai sepuh yang dihormati dan ditaati perintahnya, dilaksanakan ajaran dan petuahnya secara membabi buta. (Khalieqy: 85)
- jorok
Kutipan:
Dengan sorban putihnya yang tidak pernah tampak baru, terlihat kumal dan sedikit berbau apek, duduk dengan tenangnya sambil membuka kitab yang telah diletakkan di atas meja kecil di hadapannya. (Khalieqy: 78)
- orang kepercayaan bapak Anisa
Kutipan:
Hanya saja, ada beberapa kompleks yang telah dibangun oleh bapak, yang kemudian dihuni oleh lima puluh santri putri, dengan ustadz yang paling tua dan dipercaya oleh bapak, yaitu ustadz Ali. (Khalieqy: 52)
- orang yang berkeyakinan bahwa derajat laki-laki lebih tinggi daripada wanita
Kutipan:
Terbukti bahwa akal laki-laki melebihi perempuan, kata ustadz Ali yang menjadi badalnya bapak. (Khalieqy: 71)
11. Maimunah
- santri putri kiai Sukri berkulit putih dan halus, tutur katanya halus, berambut panjang, suaranya merdu dan pandai membaca Al-Qur’an.
Kutipan:
Tiga santri putri yang dipercaya untuk membantu ibu, duduk di belakangku. Salah satu di antaranya bernama Maimunah, putri kiai Sukri, teman bapak semasa mondok di pesantren terkenal di Jawa Timur. Aku suka memperhatikan mbak May, begitu ia sering dipanggil oleh teman-temannya. Aku memang suka di dekatnya, di banding dengan santriwati lain. Pertama karena mbak May, memiliki kulit putih yang halus, sehalus kata-katanya. Mbak May juga memiliki rambut panjang yang dikepang dua, dan kalau dilepas jilbabnya seperti para pendekar putri Shaolin. Dan ini yang membuatku tertarik memperhatikan mbak May, suaranya sangat merdu, enak untuk didengar oleh telinga, apalagi ketika membaca Al-Qur’an. (Khalieqy: 16)

12. Mbak Fauziyah
- wanita yang periang, terbuka dan suka ceplas-ceplos. Ia adalah wanita yang cerdas
Kutipan:
Mbak Fauziyah adalah wakil ketua. Berbeda dengan mbak Maryam yang tenang dan keibuan, mbak Fauziyah memiliki kareakter periang, terbuka, dan suka menyerang. Bicaranya ceplas-ceplos dan sulit sekali dibohongi. Ia mahasiswa semester tujuh dan mendapat beasiswa sejak semester tiga. Otaknya cerdas dan memiliki kepedulian begitu besar terhadap masalah perempuan. Satu- satunya hal yang membuatnya jalan beriringan dengan Mbak Maryam. (Khalieqy: 239)
13. Mbak Umi dan mbak Laila
- teman kos Anisa yang iseng
Kutipan:
Dan kami pun dengan akrab hingga malam. Begitu aku masuk ke dapur untuk membikin minuman, Nina, Mbak Umi, Mbak Laila dan beberapa teman indekos menyerbu ke dapur mengerubungiku dan menghujaniku dengan berbagai macam pertanyaan. (Khalieqy: 206)
14. Nina
- teman kos Anisa yang iseng
Kutipan:
Dan kami pun dengan akrab hingga malam. Begitu aku masuk ke dapur untuk membikin minuman, Nina, Mbak Umi, Mbak laila dan beberapa teman indekos menyerbu ke dapur mengerubungiku dan menghujaniku dengan berbagai macam pertanyaan. (Khalieqy: 206)
- suka memperolok
Kutipan:
Trauma Samsudin begitu parah mengendap dalam kesadaranku, hingga beberapa teman mengira aku alergi terhadap laki-laki. Seperti Nina yang memperolokku sebagai perempuan salju. (Khalieqy: 204)
15. Umi Sa’adah
- istri lek Mahmud yang juga merupakan santri pondok bapak Anisa
Kutipan:
Begitu tiba di rumah, kulihat mas Khudori masih di muka televisi bersama bapak dan lek Mahmud yang baru datang dari Surabaya, di mana ia tinggal setelah menikah beberapa tahun lalu dengan seorang santri putri di pondok ini juga. (Khalieqy: 261)
- tidak percaya diri (minder)
Kutipan:
Tetapi karena pendidikan yang ditempuhnya sebatas Tsanawiyah, lek Umi merasa minder dan canggung jika kami telah sampai pada pembicaraan yang lebih dalam mengenai sesuatu, yang membutuhkan pemikiran dan wawasan luas. (Khalieqy: 262)
16. Pak Tasmin
- laki-laki setengah baya, tetangga desa yang pernah menggarap sawah ayah Anisa. Ia adalah seorang pedangan perkakas.
Kutipan:
Seorang laki-laki setengah baya yang kemudian kuingat sebagai tetangga desa yang pernah menggarap sawah bapak, namanya pak Tasmin, mendekat dengan sekeranjang dagangannya, benda-benda tajam seperti belati, arit, bendho, gergaji, dan lain-lain. (Khalieqy: 68)
- penyelamat
Kutipan:
“Hanya lihat-lihat gambarnya, Pak Tasmin. Tadinya cari buku, eh kok nyasar ke sini. Memang sial. Untung ada Pak Tasmin. Kalau tidak, nggak tahu apa yang akan terjadi.” (Khalieqy: 69)
17. Pak Joko
- guru bahasa Indonesia Anisa yang suka menggoda
Kutipan:
Seseorang mencolek pundakku dari belakang. Aku terkejut bukan main sebab dia adalah pak Joko, guru bahasa Indonesia yang baru, yang suka menggoda dengan lirikan mata keranjangnya. (Khalieqy: 56)
18. Mbak Maryam
- berkarakter kuat sebagai pemimpin
Kutipan:
Maryam memiliki karakter yang kuat sebagai pemimpin. Ia mampu memobilisasi massa dan mengelola keuangan sekaligus dengan begitu rapinya. (Khalieqy: 229)
- keibuan
Kutipan:
Pembawaannya yang tenang dan keibuan menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi kalangan yang bermasalah, yang tengah mencari kesejukan dan rasa aman dari berbagai gempuran hidup. (Khalieqy: 238)
19. Germo
- berkulit hitam, bertubuh pendek, dan berperut buncit.
Kutipan:
Seorang lelaki hitam bertubuh pendek dengan perut menonjol sembilan senti ke depan tiba-tiba nyelonong di antara kami. (Khalieqy: 64)
- tidak mudah dibohongi
Kutipan:
Tetapi laki-laki itu tidak gampang dibohongi, ia menangkap tanganku dan berusaha meringkus tubuhku ketika seseorang yang benar-benar dari arah utara memanggil namaku. (Khalieqy: 68)
20. Mahbub
- anak laki-laki Anisa
Kutipan:
Dan kini, setelah aku mendapatkan gelar, sudah memiliki Mahbub, anak semata wayangku, cerita itu sering muncul seturut dengan pengetahuan yang kudapatkan dari lembaran buku kehidupan. (Khalieqy: 1)
- tampan
Kutipan:
“Anakmu cakep sekali, Anis,” (Khalieqy: 302)
21. Loubna el Huraybi
- peserta konferensi perempuan muslim internasioanl dari Yordania
Kutipan:
Di antara para tamu tersebut, aku sempat berbincang-bincang dengan salah seorang peserta dari Yordania bernama Loubna el Huraybi. (Khalieqy: 279)
- teman karib Khudori ketika di Berlin
Kutipan:
Setelah sekian waktu berbincang-bincang, siapa mengira kalau Loubna adalah sahabat mas Khudori saat di Berlin dulu dan ia mengenal mas Khudori dengan baik sekali. (Khalieqy: 279)
22. Lek Mahmud
- suka mengelus kaki santri
Kutipan:
Tidak seperti lek Mahmud, yang suka mengelus-elus kakiku sewaktu mengajariku mengaji, sehingga bapak melarangku untuk belajar bersamanya. (Khalieqy: 37)
- suami yang kurang membantu peran istri di rumah
Kutipan:
“Paling-paling yang dikerjakan mas Mahmud hanya menyuapi Sania kalau pagi. Selebihnya aku semua yang mengerjakan.” (Khalieqy: 265)
23. Kiai Jamaluddin
- pemberi pengajian
Kutipan:
Dan kini, sejak lek Khudori tinggal di sini, aku telah menyelesaikan tiga puluh juz dan ibu menyelenggarakan acara khataman. Bahkan mengundang Kiai Jamaluddin untuk memberi pengajian. (Khalieqy: 40)
24. Mbak Ulfah
- tidak berani bertanya
Kutipan:
Kujawil pinggang mbak May dan menyuruhnya bertanya, apa yang dimaksud dengan buku-buku tak berguna dan film-film kafir itu, tetapi mbak May menggelengkan kepala. Kujawil mbak Ulfah di sebelah kiriku, ia pun menggeleng. (Khalieqy: 82)
25. Kiai Nasiruddin
- mertua Anisa
Kutipan:
“Bapak tak menyangka. Ini benar-benar pelik. Kiai Nasiruddin, bapak mertuamu itu adalah sahabat terbaik dan paling dekat dengan Bapak semasa kami sama-sama mondok di Tebuireng.” (Khalieqy: 183)
- baik, dermawan, tidak suka menyakiti hati orang
Kutipan:
“Beliau itu orangnya baik, dermawan, tidak suka menyakiti hati orang, apalagi istrinya sendiri.” (Khalieqy: 183)
26. Kiai Shaleh
- utusan pihak Samsudin
Kutipan:
Dua hakam itu telah bicara, satunya kiai Mahfud yang lain adalah utusan dari pihak Samsudin bernama kiai Shaleh. (Khalieqy: 188)
27. Kiai Mahfud
- utusan pihak Anisa
Kutipan:
Dengan kepergian kiai Mahfud, sebagai hakam dalam urusanku, aku melihat matahari baru bermunculan dari setiap gerakku. (Khalieqy: 188)
28. Kiai Badawi
- kiai sepuh yang arif
Kutipan:
“Mungkin Bapak bisa mengutus kiai Mahfud atau kiai Badawi yang jauh lebih sepuh dan pastilah lebih arif untuk membincangkan masalah seperti ini.” (Khalieqy: 187)
29. Mas Saipul
- teman Khudori yang juga merupakan kakak Aisyah
Kutipan:
“Ia kan teman mas Saipul, kakakku.” (Khalieqy: 59)
- pandai berbahasa Arab
Kutipan:
“Kudengar ia sering bicara bahasa Arab dengan mas Saipul.” (Khalieqy: 60)
30. Teman SD Anisa
- periang
Kutipan:
Pak guru terpingkal-pingkal, demikian juga teman-temanku. (Khalieqy: 12)

31. Pemuda dan anak-anak pemancing
- ceria
Kutipan:
Di ujung sebelah timur, di atas batu-batu kali yang besar, beberapa pemuda dan anak-anak juga sedang memancing. Tetapi mereka lebih berisik dan tertawa sambil memakan buah mangga yang masih mentah. Salah seorang di antara mereka sedang menerbangkan dua pasang merpati yang telah diberi randa bunyi, lalu teman-temannya menyoraki. (Khalieqy: 28)
32. Santri putri
- sungkan berdebat
Kutipan:
Aku berpikir, agaknya para santri di sini masih dihinggapi rasa sungkan untuk berdebat ataukah kekuatan taklid itu masih begitu mengakar. (Khalieqy: 258)
33. Perwakilan rumah sakit
- taat pada aturan melapor
Kutipan:
“Maaf, Bu. Ini dari rumah sakit. Ingin mengabarkan bahwa polisi mendapatkan suami Anda kecelakaan sekitar satu jam lalu da kini sedang dirawat di ruang ICU.” (Khalieqy: 309)
34. Yu Atemi
- pembantu rumah tangga Anisa
Kutipan:
Kupanggil yu Atemi PRT-ku dengan gusar. (Khalieqy: 309)
35. Fadilah
- anak Samsudin dan Kalsum
Kutipan:
“Apa boleh buat. Anak kami telah lahir dan dia itu bapaknya. Sebrengsek apapun mas Sam, dia tetap menjadi bapaknya Fadilah.” (Khalieqy: 121)
- lugu
Kutipan:
Seperti keledai tanpa pakaian, ia melenggang keluar kamar dengan tenangnya. Melewati Kalsum dan putri mereka, Fadilah. Sampai anak kecil itu terlongong-longong seakan tengah menyaksikan unta budukan di tengah sahara. (Khalieqy: 131)
36. Wa Burit
- rentenir
Kutipan:
Demikian juga wak Burik, blantik sapi yang membuka praktek rentenir itu, sering juga datang dan ngorok dengan mulut berbusa di dalam masjid. (Khalieqy: 74)
37. Wa Tompel
- pemabuk dan suka berjudi
Kutipan:
Padahal wak Tompel, yang setiap malam minum tuak dan berjudi di kedai yu Sri, tidak dilarang untuk tidur menggelosor di dalam masjid dan tak seorang pun berani mengatakan bahwa itu haram. (Khalieqy: 73)
38. Basuni
- protektif
Kutipan:
“Itu urusan dia. Tetap nggak zamannya laki-laki menguasai perempuan. Belum apa-apa sudah melarang ini melarang itu, perintah sana perintah sini, seenaknya.” (Khalieqy: 232)
39. Pak Rahim dan Bu Rahim
- teman dekat Khudori di tempat mengajar
Kutipan:
Malam telah larut saat kudengar beberapa teman menjenguk. Ternyata Nina bersama mbak Fauziyah. Juga pak Rahim dan bu Rahim teman dekat mas Khudori di tempat mengajar. (Khalieqy, 295)
40. Kang Girun
- suka menggunjingkan orang
Kutipan:
“Biasa. Janda kembang kan selalu kesepian. Dan pamannya yang ganteng itu mengambil kesempatan.” (Khalieqy, 192)
41. Lawan bicara kang Girun
- ingin tahu urusan orang lain
Kutipan:
“Setelah itu, apa yang mereka lakukan Kang Girun?” (Khalieqy: 192)
42. Paman Farid
- baik
Kutipan:
Di atas permadani Samirra hadiah dari paman Farid yang belum lama pulang dari Turki, ibuku duduk termangu, menyaksikan hiburan siang dari TVRI. (Khalieqy: 13)
43. Wahid dan Sania
- anak laki-laki dan perempuan lek Mahmud berusia empat tahun dan dua setngah tahun.
Kutipan:
Lek Mahmud telah dikaruniai dua anak laki-laki dan perempuan berusia empat tahun dan dua tahun setengah. (Khalieqy: 261)

6. Sudut Pandang
Pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama dalam gaya penceritaan di dalam novel Perempuan Berkalung Sorban. Pengarang memakai kata “aku” yang merupakan sudut pandang orang pertama sebagai sudut pandang penceritaan novel. Tokoh Anisa sebagai orang yang mengetahui semua cerita dijadikan sebagai tokoh sentral dalam cerita tersebut.



7. Amanat
Di dalam karya sastra, pasti ada amanat atau pesan yang disampaikan penulis kepada pembaca. Begitu juga dengan novel ini. Di dalamnya terdapat berbagai makna dan amanat yang dapat kita ambil untuk dijadikan sebagai penambahan pengetahuan umum dan sebagai bahan referensi dalam kehidupan sehari-hari.
Novel yang berlatar belakang agama ini banyak menampilkan kasus yang dikaitkan dengan hukum agama yang kadang bertentangan dengan kehidupan masyarakat. Maka dari itu, sebaik-baik orang adalah yang mau menerima masukan dan kritik membangun yang bermanfaat untuk kehidupan lingkungan sosialnya.
Setelah menganalisa unsur-unsur intrinsik novel, maka dapat diambil kesimpulan yang sarat akan makna yang di dalamnya berisi amanat yang ingin disampaikan pengarang.
Di dalam novel ini, ditonjolkan perbedaan yang dilakukan terhadap laki-laki dan perempuan. Hal itu menyiratkan kita agar tidak membeda-bedakan laki-laki dengan perempuan karena pada hakikatnya manusia itu sama, yang membedakan hanya tingkah lakunya.
Selain itu, dalam membina rumah tangga, kita juga harus mengadakan suatu kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak, yaitu suami dan istri. Jika tidak adanya suatu kesepakatan yang jelas, akan banyak perbedaan yang timbul dalam keluarga, meskipun perbedaan itu memang selalu ada. Namun jika dapat mengantisipasi perbedaan itu, hendaklah mengusahakan keseragaman berpikir dalam membina keluarga.