Rabu, 12 Januari 2011

Makna Cinta

BUAT SIAPA CINTA KITA?

Indahnya Punya Cinta
Apa jawabanmu jika ditanya tentang satu kata? Apa yang akan kamu bayangkan jika mendengar kata yang tak asing lagi di telinga? Ya, inilah dunia remaja. Dunia penuh taman dengan semerbak bunga yang menyebarkan wanginya ke seluruh hati dan jiwa para korban yang dilekatinya. Dapatkah disebut sebagai parasit? Parasit yang identik dengan hal-hal yang merugikan. Siapa yang merasa dirugikan dengan kehadirannya? Ialah yang menyalahgunakan satu kata itu tanpa melibatkan hati dan pikiran. Tak ayal mereka yang hanya mendominasi nafsu dalam satu hal ini banyak yang terjerembab dalam akibat yang seharusnya tidak mereka alami jika ingat teori-teori dalam menggunakannya. Satu kata yang bisa menjadikan remaja tersenyum sepanjang waktu, atau sebaliknya. Ia juga dapat membuat mata menjadi bengkak sehingga disebut mata kodok. Kasihan mereka yang tak mengerti penempatan dan penggunaannya.
Cinta. Dapatkah kau menjelaskannya secara pasti? Ada yang mengatakan cinta adalah rasa yang membuat kita senang. Jika ia selalu menyenangkan hati, mengapa banyak yang air matanya kering gara-gara satu marga itu? Jika cinta diartikan sebagai rasa kagum, lalu apabila seorang fans menyukai idolanya, apakah itu bisa disebut sebagai cinta? Mungkin iya, tapi tak sekuat dengan arti “cinta” yang sebenarnya. Rasa kagum itu takberlaku hakiki, hanya bersifat sementara.
Aku pun tak tahu. Yang aku tahu cinta adalah lima huruf yang dirangkai dengan tak terlalu cantik, namun sangat berharga dan tak ternilai bagi yang diberi kesempatan merasakannya. Oh, Siapa yang bisa menerangkan seberapa indahnya bila kita jatuh cinta? Paling yang ditampilkan hanyalah senyum lebar sampai gigi kering, tapi tetap tak keluar sepatah kata pun dari bibir. Kepada siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, kita bisa merasakan adanya cinta itu. Ia memang tak pernah memberitahukan kehadirannya, namun kita dapat mengintip kedatangannya.
Ingatkah kamu ketika sedang jalan dengan sang pujaan hati, sepasang bola matamu menemukan seorang pengemis tua yang menanti keikhlasan hati orang yang melewatinya. Dengan mata yang cekung, pakaian yang ala kadarnya. Sesabar mungkin ia mengharapkan receh demi receh tertumpuk di atas kaleng. Dalam keadaan seperti itu, dapatkah kamu membayangkan kalau yang tengah duduk di pinggir jalan itu bukan orang tua yang lusuh, tapi dirimu yang berjalan tegap dengan pakaian serba modis, make up yang takmau ketinggalan model dan merk. Kau menadahkan tangan ke depan orang yang lewat di depanmu tanpa membungkukkan badan sedikit pun. Alangkah sedihnya hati yang menjerit itu. Namun apalah daya, hanya itu yang dapat dilakukan. Dalam keadaan mata memandang si pengemis, tumbuh dalam hatimu ingin membagi rezeki di saku, mungkin hanya sekedar untuk dia membeli sebutir beras.
Ingin sekali tanganmu menyodorkan uang itu sendiri. Namun ketika melihat keadaan sekitar yang terlanjur banyak orang memperhatikanmu dengan gaya yang aduhai, niat mulia itu pun terkubur dengan langkah kakimu yang meninggalkannya. Kau taktahu setelah langkah kakimu menjauh, ia menghela nafas panjang untuk merangsang kesabarannya. Di manakah perwujudan rasa cinta kasih yang selama ini kau gembor-gemborkan untuk menarik empati orang? Omong kosong belaka.
Cinta… duhai cintaku… di manakah cinta sejatiku? Satu hal yang sering kita lupakan, bahwa cinta yang sebenarnya ada di dalam hati insan yang sungguh-sungguh menjaga kesuciannya karena ia berasal dari yang menciptakan. Tuhan Yang Esa, Maha Adil sehingga menjadikan semua kehidupan makhluk-Nya penuh dengan rasa cinta. Bayangkan jika tidak ada cinta di dunia ini, semua orang akan melakukan sesuatu dengan emosi. Ada seseorang yang tidak menyukai orang lain. Kalau tidak ada cinta di dunia ini, ia akan menghadapinya dengan kepala panas. Karena adanya cinta di hati setiap insan, semua masalah pun dapat terselesaikan dengan baik tanpa memicu timbulnya masalah baru.
Seandainya pemerintah dan pejabat menyelesaikan permasalahan negara dengan kepala dingin dan mengeluarkan jurus cintanya, kemungkinan besar bahkan nilainya cumload tidak akan ada lagi perdebatan di mana-mana. Apalagi pergulatan di arena yang seharusnya tidak ada adu mulut antarpeserta. Siapa yang mau dipersalahkan? Aku rasa tidak ada. Karena itulah sifat manusia, selalu merasa benar dan takmau dipersalahkan, entah dia salah atau tidak.


Cinta ADI
Apa yang ada dalam benak pikiranmu mendengar kata ADI? Ia bukanlah Adi Nugroho si presenter yang muda, cakep, tinggi, dan…. Ia juga bukan Adi NAFF yang melantunkan lagu “Menanti Sebuah Jawaban”. Lalu siapa sia ADI? Ialah Ibu dan Ayah. Orang yang selalu ada dan mendukung segala apa yang dilakukan buah hatinya. Walau kadang ada tingkah mereka yang membuat kita gerah. Apalagi bagi yang tidak pernah merasakan menjadi anak tunggal alias punya saudara, banyak di antaranya akan merasa tidak diperlakukan dengan adil sehingga timbul rasa dan anggapan bahwa orangtuanya tidak memberi kedilan. Padahal, apakah ia pernah berpikir kalau orangtuanya berusaha dengan sepenuh tenaga agar memberi kasih sayangnya yang seadil-adilnya, sama rata dan sama rasa. Pernahkah dalam benaknya ia membayangkan upaya orangtua yang mencari semua kebutuhan anak-anaknya walaupun taksemua keinginan itu dapat dipenuhi.
ADI. Siapakah yang mendapat gelar yang sangat berharga itu? Ingin dalam hati ini mendengar dipanggil “Ibu…”. Jauh hari aku mimpikan hal demikian, tapi mungkin Allah masih membimbingku agar menyelesaikan pendidikan dulu, walaupun pendidikan itu takterbatas oleh apa pun. Bahagianya mereka yang telah memiliki harta dengan panggilan “ibu”, “ayah”, “mama”, “papa”, “umi”, “abi”… tapi sebenarnya sangat mahalnya air mata mereka ketika keluar hanya karena takmenerima kenyataan bahwa buah hati yang selama ini didambakannya malah memungkiri semua yang ia berikan. Istighfar!
Siapakah yang tidak pernah menyakiti hati ibu sedikit pun? Adakah di antara kita? Mungkin di kalangan infotainment hal itu wajar dan sering terjadi. Tahukah kau kenapa? Karena mereka yang berperan sebagai melankolis dalam melakukan acting-nya selalu menghormati orangtuanya. Rasanya sangat sulit. Sekecil apa pun kesalahan itu, pasti kita pernah melakukannya, karena kita hanya sebagai manusia biasa yang penuh dengan kehidupan tanpa bersyukur. Maaf, bagi yang mempunyai seorang ibu yang sudah tua dan takmempunyai harta berlebih. Adakah yang dengan berani mengakui ia adalah ibunya? Ada. Meski hanya beberapa persen dari penduduk Indonesia, namun setidaknya masih ada yang mempunyai hati kecil yang takmau menjadi anak durhaka.
Ada pula yang hari-harinya dipenuhi dengan memikirkan orangtuanya yang sudah tua dan takut jika dipanggil oleh yang menciptakannya. Tahukah kamu, sebenarnya mereka takmau melihat kamu menangis, mereka hanya ingin kamu tersenyum. Tak usah pikirkan kami! Itulah yang sering mereka katakan ketika melihat kita dengan wajah murung saat menatapnya. Dalam hatinya ia harus kuat, untuk melihat kehidupan anak-anaknya lebik lama. Sungguh mulia jasa mereka.
Sekali-sekali lihatlah video tentang proses kelahiran. Dari seorang ibu yang mengerahkan seluruh tenaga untuk menyelamatkan anaknya agar dapat menikmati kehidupan dunia yang semakin maju. Kemudian, kepala bayi keluar dengan diikuti badan yang merah penuh darah. Takterbayang jika ketika bayi keluar sampai leher dan ibu takkuat mengeluarkannya. Namun dengan penuh keyakinan dan kecintaannya terhadap sang buah hati, ibu bekerja keras untuk tetap melahirkan anaknya secara sehat. Itulah bentuk cinta seorang ibu kepada anaknya. Walaupun kita belum memberinya apa pun, tapi ia tetap memberi kasih yang takakan terganti oleh apa jua.
Mata, telinga, hidung, mulut, apa lagi yang takdiberikannya untukmu? Merenunglah sejenak, Kawan, seberapa besar pembalasan kita terhadap perjuangan mereka? Penghargaan apa yang telah kita berikan kepadanya?
Apa kau puas dengan mendapat peringkat tiap semester di sekolah yang hanya enam bulan sekali? Jika dibandingkan dengan terbangunnya ia tiap malam ketika kita masih bayi karena menangis, apalah artinya peringkat dengan angka-angka itu. Ataukah dengan memberikan sebagian uang gajimu yang hanya sebulan sekali untuknya? Lalu, jika dibandingkan dengan dengan terbakarnya kulit yang takterlalu putih itu, tiap hari ia mencari kehidupan, bukan untuk dirinya, tapi buat sesosok anak manusia yang menanti kepulangannya dengan wajah tersenyum.
Sering kita marah dan takmau menerima yang telah diberikan ibu. Menyesal hati ini dulu sering membuatnya mengeluarkan butir-butir bening dari mata. Andai waktu dapat kuulang, aku ingin kembali ke masa itu. Aku akan selalu melakukan apa yang membuatnya tersenyum tanpa adanya pengelusan dada menahan sabar. Ibu… I love you… I’m sorry….
Serasa takada batas bila kita membicarakan kesalahan kepada ADI. Laksana pasir di pantai, butirnya halus tapi jika tertepa angin ia akan menyakitkan mata. Begitu juga dengan kita. Pasti dalam hati semua anak mempunyai rasa sayang kepada orangtua, terutama ibu. Akan tetapi, jika kita sedang tidak pada pendirian, alangkah kejamnya mulut kita membantah dan menggertak ibu yang tanpa sengaja melakukan kesalahan. Kita sendiri takmau disalahkan, tapi…
Sesak rasanya kalau melihat ibu terdiam mendengar hardikan kita. Ia terpukul, dalam hatinya menjerit dan menanyakan salahnya. Tapi mulutnya hanya terkunci rapat, takada sedikit pun kata cercaan balasan teralamatkan untuk kita. Terbuat dari apa hati ibu, aku taktahu. Kacamataku mengatakan hatinya terbuat dari baja. Seberapa pun kita takmenurutinya, dengan tangan yang menengadah ke atas dan berlinang air mata, ibu tetap berdoa untuk anaknya. Malu badan ini hanya membuatnya lelah tanpa memberi secuil cahaya. Kata-kata puisi pun takkan mampu mewakilinya.
Takada batas waktu pula jikalau kita sedang membicarakan ADI. Entah itu kenangan bersamanya, pengabdian kita terhadapnya, atau bahkan pembantahan kita kepadanya, takpernah takmenangis bila kuingat sosok ibu. Seorang wanita tua yang dengan tanpa segan selalu mencari kebahagiaan dan ketenangan untuk anaknya. IBU adalah ciptaan Allah yang paling indah di mataku. Apa pun yang orang katakan tentangnya, dalam benakku selalu ia yang bertahta. Dibandingkan dengan raja yang memakai jubah mewah dan beralaskan permadani, ibuku yang paling menguasai singgasana hatiku.
Percaya atau tidak dengan kata-kata yang kusebut tadi? Bisa kaurasakan jika hatimu masih berfungsi. Jahatnya anak yang takmerasa terhanyut ketika membicarakan ibu. Mendengar namanya saja, hati dan otak ini sudah ingin menyuruh mata untuk mengeluarkan butiran beningnya. Andai kuingat saat aku memaksa untuk keluar dari mulut vaginanya, andai kulihat pertama kali tangannya menggendong tubuh kecilku, andai kudapat rasakan ketika kuminum pertama kali sebagian dari darah yang keluar dari kedua putingnya berupa cairan putih yang amis, tapi itu semua takbermakna bagiku.
Tahukah kau mengapa? Karena aku takdapat ingat semua yang terjadi ketika pertemuan pertamaku dengannya. Karena aku ragu, apakah sudah kuucapkan terimakasih kepadanya atau belum sama sekali hingga saat ini?
Ibu… ibuku… ibu sayang… Maafkanlah anak yang pernah hidup dalam rahimmu, menyatu dengan darahmu, memakan makananmu. Jangan biarkan langkahku terlalu jauh darimu…
Subhanallah. Tanpa dapat kulihat proses terbentuknya aku, tapi dapat kurasa betapa dahsyatnya segala yang terjadi. Dari atas rambut hingga ujung kaki yang kupijakkan di atas tanah, semua sempurna. Ya, Allah… bahagiakan selalu bagi kaum ibu, baik yang sudah dipanggil “ibu” maupun calon-calon yang akan dipanggil “ibu”.


Cinta Sahabat
Kupunya banyak teman, tapi kuhanya mempunyai seorang sahabat. Sahabat yang secara umum dikategorikan sebagai teman yang sungguh-sungguh menjadi tempat kita berbagi di samping keluarga. Sahabat yang termasuk orang pilihan untuk kita menumpahkan segala yang dirasa, entah itu kabar baik atau sebalikya. Seribu teman mudah untuk dicari, namun untuk mencari seorang sahabat sangat sulit untuk ditemukan. Kita dapat mendapat teman di mana saja, namun untuk mencari seorang sahabat taksemudah membalikkan telapak tangan. Di jalan pun kita dapat menemukan teman, tak terhitung jumlahnya. Namun, cinta seorang sahabat belum tentu kaudapat.
Siapakah sahabat itu? Ia adalah orang yang merasa sakit apabila kita sakit, merasa senang apabila kita mendapat kesenangan. Ia bukan orang yang sedih melihat kita tersenyum, bukan orang yang cuek kala kita mengeluarkan air mata. Jika temanmu belum menampakkan seperti itu, berarti ia belum menjadi sahabatmu. Ketika marah, sahabat akan meredamnya dengan kenangan persahabatan yang tidak akan pernah terlupakan. Seberapa hebatnya kamu sayang dan menganggap ia baik, itu hanya analogi yang tidak akurat kebenarannya. Sadarlah Kawan, kita membutuhkan kehadiran sahabat.
Aku ingin berbagi secuil kisahku dengan orang yang selama lebih kurang dua tahun hidup bersamanya. Awalnya aku takmau berkawan dengannya, karena dalam pandanganku ia taksejalan dengan pemikiran dan prinsip-prinsipku yang keras dan takmau digantikan dengan prinsip orang lain. Suaranya yang sangat mengganggu apabila menyanyi, apalagi di malam hari, omongannya yang sering menyakitkan orang, tertawanya yang memekakkan telinga, itu adalah sebagian kecil sifatnya yang tidak kusukai.
Awalnya kita hanya tetangga kamar kost. Tapi karena teman sekamarku pindah dan ia kamarnya sendirian, aku pun pindah ke kamarnya. Dari awal aku takyakin akan kuat dengannya. Aku merasa mentang-mentang ia yang pertama di kamar itu, seolah aku hanya menumpang di kamar. Aku selalu mencoba menguatkan diri, pokoknya aku harus kuat.
Pernah suatu malam penyakit usus buntunya kumat. Ia menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. Aku dan temanku yang satu bingung harus bagaimana. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk mencari makanan apa adanya, setidaknya untuk menjanggal rasa sakit perutnya itu. Kami membelikannya sebungkus soto ayam di pasar malam yang kebetulan di samping kostku. Alhamdulillah, sakitnya mereda walaupun tidak hilang sepenuhnya. Dari saat itulah ia merasa bahwa aku dan temanku yang satu sangat perhatian padanya. Tapi saat itu, jujur aku belum merasa adanya persahabatan yang terjalin antara kami berdua. Namun seiring berjalannya waktu, aku pun menemukan sosok yang mungkin selama ini belum pernah aku temui dalam diri teman-temanku yang lain.
Awalnya aku sakit. Takpernah terbayangkan dia malah ikut sakit. Entah dari mana asalnya kami selalu mengalami kejadian yang sama. Dari kami makan, tidur, pergi sekolah, pulang sekolah, sampai masa-masa perempuan pun kami bareng, hanya berbeda berapa jam. Sungguh di luar dugaan dan sangkaan. Dari mana dan sejak kapan ia menjadi sahabatku, aku pun tidak tahu.
Tulisan ini kuharapkan dibacanya, agar ia tahu bahwa ada seseorang yang telah menganggapnya sebagai sahabat. Tiap aku mengalami sesuatu, pasti ia yang paling tahu tentang aku, melebihi keluargaku yang jauh di rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar