Rabu, 12 Januari 2011

unsur-unsur intrinsik novel Perempuan Berkalung Sorban

ANALISIS UNSUR-UNSUR INTRINSIK NOVEL “PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN” KARYA ABIDAH EL KHALIEQY
1. Tema
Novel Perempuan Berkalung Sorban ini mengangkat tema tentang sosial yang menceritakan seorang perempuan yang dibedakan dengan laki-laki dalam kehidupan sosialnya, baik dari segi pendidikan, hak, dan sebagainya. Selain tema sosial, di dalam novel ini pun terdapat nila-nilai religi yang dapat memberi pelajaran dan hikmah bagi para pembacanya.
Nilai sosial yang terdapat dalam novel ini tergambar dari cerita yang menjelaskan kedudukan dan derajat perempuan di bawah laki-laki, sehingga hak dan perlakuan perempuan sangat berbeda dengan laki-laki. Wanita tidak diwajibkan sekolah tinggi, berbeda dengan laki-laki yang terus menuntut ilmu setinggi-tingginya. Prinsip lama masih dianut, yaitu perempuan hanya akan berkutat dengan dapur dan urusan rumah tangga. Jadi, tidak perlu sekolah tinggi dan atau mempunyai gelar.
Dalam berpendapat pun, perempuan dugambarkan lebih lemah dan tidak berani mengungkapkan pendapatnya di muka umum. Hal tersebut mungkin karena menganut prinsip perempuan hanya bersifat sabar dan menunggu.
Novel ini berlatar agama Islam. Nilai-nilai agama yang terkandung di dalamnya, yaitu penceritaan yang menggunakan latar pondok pesantren yang kental dengan aturan-aturan agama. Santri belajar agama dan dididik untuk menjadi muslimah yang berguna.
Banyak juga pelajaran tentang agama yang dapat diambil dari novel ini, seperti ilmu tajwid, kisah-kisah perjuangan wanita pada zaman peperangan dulu, dan bahasa Arab. Di dalam novel ini ada beberapa dialog yang menggunakan bahasa Arab yang bisa dijadikan sebagai bahan belajar.
Perjuangan dan pergolakan yang dilakukan Anisa menggambarkan betapa timpangnya masalah sosial yang terdapat di dalam novel tersebut. Pemberontakan Anisa itu menimbulkan sedikit perubahan pada pola pikir wanita yang tidak mempunyai keberanian dalam menghadapi tantangan hidup.


2. Alur
Alur yang terdapat di dalam novel ini yaitu alur mundur, di mana cerita disampaikan dari waktu yang telah terjadi (lampau). Tokoh Anisa yang merupakan tokoh sentral dalam novel ini berperan sebagai orang yang serba tahu tentang inti cerita yang ia sampaikan kepada pembaca. Di dalam novel, cerita berawal dari kenangan masa lalu Anisa yang kemudian berlangsung sampai suaminya meninggal.
Cerita yang demikian disebut dengan menggunakan alur mundur. Berbeda dengan alur maju. Alur maju adalah cerita yang berjalan mulai dari awal sampai akhir cerita yang waktu dan tempat sedang terjadi, sedangkan alur mundur adalah cerita yang mengulas kembali masa, kenangan, atau cerita yang telah pernah terjadi dan kemudian diceritakan kembali.

3. Sinopsis
Anisa Nuhaiyyah adalah seorang anak kiai dari sebuah pondok pesantren di Jawa Timur. Nama yang memiliki arti perempuan yang berakal, yang berpandangan luas. Sejak kecil Anisa ingin sekali belajar naik kuda. Ia ingin menjadi seperti Hindun binti Athaba yang mahir naik kuda dan menderap kian ke mari di padang pertempuran. Selain Hindun, ia juga ingin menjadi seperti putri Budur yang memimpin pasukan Raja Kamaruzzaman, sedangkan para lelaki perkasa seperti anak ayam di belakang ekor induknya.
Anisa mempunyai paman bernama Khudori. Dengannya Anisa belajar naik kuda dan memperoleh kisah-kisah perjuangan wanita, meskipun ia dilarang belajar naik kuda oleh ayahnya dengan alasan naik kuda hanya boleh dilakukan oleh laki-laki. Diam-diam Anisa mengagumi sosok pamannya itu. Begitu juga dengan Khudori, menyukai Anisa yang terpaut usia jauh dengannya. Setamat mondok di Gontor, Khudori cuti setahun dan melanjutkan beasiswanya di Al-Azhar, Kairo. Kepergian sementara Khudori itu menyisakan kerinduan dan kekosongan hari-hari Anisa. Selama ini Khudori tinggal di rumah Anisa sehingga sangat dekat dengan keluarga itu, terutama Anisa sendiri.
Pondok Pesantren Putri yang didirikan oleh ayah Anisa, KH. Hanan Abdul Malik, memang memiliki cita-cita dan harapan untuk mendidik dan menjadikan para remaja putri agar menjadi kaum muslimah yang berguna bagi negara dan bangsa. Namun, pada prakteknya selalu menekankan pendidikan akhlak bagi perempuan, khususnya akhlak perempuan dalam bermasyarakat dan berumah tangga.
Anisa selalu disuruh berkutat dengan pekerjaan wanita, seperti urusan dapur. Tidak seperti kedua kakaknya, Rizal dan Wildan, yang bebas melakukan hal kesukaan mereka. Hal tersebut membuat Anisa merasa kedua orangtuanya tidak adil dengan perlakuan yang berbeda kepada anak laki-laki dan perempuannya.
Ia mendapatkan materi di pondok yang mengatakan wanita lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki, baik dari segi amal agama, pendidikan, dan sebagainya. Hal tersebut membuat Anisa bertanya-tanya mengapa wanita dibedakan dengan laki-laki, padahal mereka sama-sama makhluk ciptaan Allah dan juga mendorongnya untuk merombak perlakuan yang membedakan wanita dengan laki-laki itu.
Pada suatu waktu ada keluarga yang melamar Anisa untuk anaknya, Samsudin. Awalnya, orangtua Anisa menolak karena Anisa masih terlalu kecil dan belum mengerti apa-apa. Namun, ayah Samsudin yang merupakan teman karib Kiai Hanan ketika mondok mengatakan akan menunggu Nisa sampai waktunya. Sampai pada saat Anisa baligh dan Samsudin diwisuda, pernikahan tanpa cinta itu pun dilangsungkan.
Selama menikah dengan Samsudin, Anisa tidak pernah mendapat kebahagiaan dan perlakuan yang baik, ia mendapat perlakuan kasar yang tidak manusiawi dari suaminya. Malah karena Anisa dianggap mandul, Samsudin menikah lagi dengan seorang janda yang bernama Kalsum dan mempunyai anak yang dinamai Fadilah. Kisah pahitnya itu Anisa ceritakan pada Khudori lewat surat. Ia ingin menceritakan kepada ibunya, tapi takut ibunya tidak akan percaya dan menyuruhnya bersabar karena kodrat wanita adalah tetap bersabar dalam keadaan apapun.
Selang beberapa waktu kemudian Khudori pulang dari Kairo. Dengan bantuan Khudori, Anisa menceritakan kehidupannya selama menikah dengan Samsudin kepada ibunya, Hj. Mutma’inah. Betapa terkejutnya ia mendengar cerita Anisa. Begitu pun dengan ayahnya, hingga terserang darah tinggi saat mendengar kabar tersebut. Meskipun sakit, ayahnya tetap merundingkan dengan keluarga tentang masalah yang tengah dialami Anisa dan bagaimana mencari jalan keluarnya.
Keluarga Anisa mengirim Kiai Shaleh untuk merundingkan masalah dalam pernikahan Anisa dan Samsudin dengan pihak keluarga Kiai Nasiruddin. Setelah melalui beberapa perundingan yang tidak menemui titik temu, akhirnya disepakati perceraian Anisa dengan Samsudin.
Akhirnya Anisa menyandang status janda. Ia menjadi semakin dekat dengan Khudori dan sering pergi berdua mencari angin segar. Orang-orang yang melihatnya meyangka ada hal-hal yang tidak wajar di antara Anisa dan Khudori, sampai pada akhirnya kabar itu terdengar oleh ibu Anisa. Meskipun mereka bersaudara, tapi status Anisa yang janda membuat orang-orang curiga hubungan mereka lebih dari itu. Sejak itu, Khudori pergi dari rumah Anisa dan kembali ke kampung halamannya.
Anisa yang masih menggebu menuntut ilmu, melanjutkan kuliahnya di Jogja dan mengambil jurusan filsafat. Pada suatu waktu, Khudori mengunjunginya di tempat kos dan mengajak Anisa menikah. Kemudian mereka pun direstui dan melangsungkan pernikahan yang membawa kebahagiaan bagi keduanya.
Dalam masa pernikahannya dengan Khudori, Anisa mendapat surat dari Kalsum yang mengatakan Samsudin masih menaruh dendam pada Anisa dan Khudori. Samsudin merasa Anisa telah menipu selama menikah dengannya, Anisa masih menjalin hubungan dengan Khudori. Maka dari itu, Kalsum meminta Anisa untuk berhati-hati.
Selama beberapa tahun menikah, Anisa belum juga dikaruniai momongan. Hal itu membuat berbagai gunjingan menimpa dirinya. Ia mencoba bersabar. Sampai pada suatu hari ia mendengar kabar bahwa Khudori pernah menikah di Berlin dan punya seorang anak. Dan karena Anisa mandul, Khudori berniat untuk rujuk kembali dengan istri pertamanya. Hal itu membuat Anisa dibakar rasa cemburu. Khudori yang memiliki sikap tenang mencoba menjelaskan kebenaran kabar itu, tapi Anisa terlanjur cemburu dan kecewa sehingga menutup penjelasan apa pun dari suaminya.
Pada sebuah acara konferensi perempuan muslim internasional, Anisa bertemu dengan peserta dari Yordania, bernama Loubna el Huraybi yang merupakan teman akrab Khudori ketika di Berlin. Kepadanya Anisa menanyakan perihal kebenaran kabar pernikahan Khudori. Loubna mengaku tidak pernah mengetahui pernikahan itu. Sejak itu Anisa ragu akan kebanaran kabar pernikahan suaminya, sampai ia kembali mengingat pesan Kalsum yang menyuruhnya untuk hati-hati. Ternyata itu adalah tingkah Samsudin yang menebar fitnah untuk merusak rumah tangga Anisa.
Anisa meminta maaf pada Khudori. Hubungan mereka kembali harmonis dan semakin mesra. Tak lama kemudian Anisa hamil dan melahirkan seorang anak yang mereka namai Mahbub.
Anisa dan Khudori dengan membawa Mahbub menghadiri sebuah acara pernikahan teman sekolah. Secara tidak sengaja mereka bertemu dengan Samsudin dan Kalsum yang juga membawa Fadilah. Anisa melihat masih ada dendam dari mata Samsudin. Namun, ketenangan Khudori meredam kecurigaannya.
Sampai pada suatu hari, Anisa mendapat kabar dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa Khudori mengalami kecelakaan dan sedang dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Sardjito. Khudori yang megalami kritis tidak kuat dan akhirnya meninggal dalam keadaan tersenyum dan tenang.
Anisa yang telah memiliki Mahbub awalnya sangat terpukul dan tidak percaya bahwa suaminya meninggal. Tapi kepergian jasad suaminya itu tak memutuskan kebersamaan jiwa mereka. Anisa tetap berjuang memperjuangkan nasib kaumnya yang masih dianggap lemah.

4. Latar
Latar yang terdapat dalam novel ini terdiri atas latar tempat, waktu, dan suasana.
a. Latar Tempat
1) Lereng pegunungan di dusun kecil
Semasa kecil Anisa sering bermain-main di bawah lereng pegunungan di daerah tempat tinggalnya.
Kutipan:
Gemercik air tak henti mengalir, mengisi kolam dan blumbang. Sungai-sungai kecil melengkungkan tubuhnya seperti sabit para petani yang menunggu musim panen. Sawah dan ladang berundak-undak seakan tangga untuk mendaki ke dalam istana para peri. Semilir angin selalu datang dan pergi, tak pernah bosan menghias diri di pucuk-pucuk dedaunan. Bunga-bunga liar mekar tanpa disiram, menawarkan keindahan alam di lereng pegunungan, di dusun kecil yang terpisah dari keramaian, tempat bermain masa kanakku yang tak pernah kulupakan. (Khalieqy: 1)
2) Kelas sekolah Anisa
Ketika di kelas Anisa masih memikirkan perkataan kakaknya, Rizal, ketika sarapan pagi di rumah sebelum berangkat sekolah yang mengatakan urusan laki-laki tidak perlu diketahui perempuan.
Kutipan:
Di dalam kelas, selagi aku masih merenung-renung perkataan Rizal, pak guru bahasa Indonesia menyuruhku mengulang kalimat. (Khalieqy: 10)
3) Semak perdu dan kamar mandi rumah keluarga Anisa
Ketika kecil, Anisa bermain ke blumbang dengan Rizal yang mengakibatkan Rizal pulang dengan basah kuyup. Mereka pulang dan langsung menuju kamar mandi agar tidak diketahui ayah mereka.
Kutipan:
Dengan mengendap, kami melangkah melintasi semak dan perdu. Lalu masuk ke kamar mandi dengan hati-hati. (Khalieqy: 5)
4) Ruang tengah
Di ruang tengah rumah Anisa, ia tertawa dan bercanda dengan Khudori.
Kutipan:
Karuan saja lek Khudori terbahak-bahak membuat ibu dan bapak terkejut, lalu mendatangi kami berdua yang sedang berada di ruang tengah dan menengok apa yang telah terjadi. (Khalieqy: 35)
5) Depan kamar mbak May
Ketika acara khataman, Anisa menyusup dari kerumunan tamu dan pergi menyendiri dengan dunia khayalnya.
Kutipan:
Di depan kamar mbak May, di bawah bungur yang indah, aku duduk di atas batu ceper dan mulai melantunkan beberapa irama yang telah kukuasai dengan bacaan bil-ghaib, terutama surah Nuh dan Maryam. (Khalieqy: 42)
6) Kamar Anisa
Ketika Khudori pergi ke Kairo untuk meneruskan beasiswanya, Anisa hanya merenung di dalam kamar.
Kutipan:
Setelah kepergian lek Khudori, aku sering mengurung diri di dalam kamar. (Khalieqy: 53)
7) Ruang belakang rumah
Anisa dan lek Umi berbincang-bincang membicarakan masalah yang terjadi dalam pernikahan.
Kutipan:
Lalu kami menuju ruangan belakang di mana tamu-tamu perempuan biasa dijamu oleh ibu. (Khalieqy: 262)
8) Serambi masjid
Serambi masjid adalah tempat untuk belajar kitab para santri bersama ustadz Ali.
Kutipan:
Maka, entah malam yang ke berapa ketika udara agak dingin berhembus di balik kerudung kami, ketika jadwal belajar kitab harus dilaksanakan dan bintang di langit mulai bertebaran, para santri mulai bergegas menuju serambi masjid di sebelah kiri. (Khalieqy: 78)
9) Pondok pesantren
Di pondok Anisa belajar tilawah bersama mbak May.
Kutipan:
Maka, dalam kehangatan matahari di lereng pegunungan itu, sehabis makan siang dan mencuci piring yang dipenuhi minyak sambal, kuah sayur, dan sisa makanan yang telah berganti warna, aku begegas menuju ke pondok. (Khalieqy: 19)
10) Perbatasan desa
Anisa belajar naik kuda bersama lek Khudori yang tidak diketahui oleh ayahnya.
Kutipan:
Begitulah, sampai akhrinya aku berhasil naik kuda sampai ke perbatasan desa. (Khalieqy: 25)
11) Rumah Aisyah
Anisa ingin pergi ke toko buku di kota kabupaten diantar oleh Aisyah, teman sepermainannya.
Kutipan:
Pagi-pagi sehabis membantu ibu di dapur, kuambil semua uangku yang selama ini kusimpan dalam sebuah kitab yang tidak terjangkau oleh penciuman Rizal. (Khalieqy: 58)
12) Toko buku Al-Hikmah di kota kabupaten
Anisa dan Aisyah pergi ke kota kabupaten untuk mencari buku.
Kutipan:
Kami turun dan menyeberang jalan, lalu melangkah ke toko buku “Al-Hikmah”, satu-satunya toko buku yang lengkap di kota itu. (Kahlieqy: 62)
13) Bioskop
Anisa dan Aisyah ingin mencoba menonton di bioskop setelah dari toko buku Al-Hikmah.
Kutipan:
Berdua menuju gedung bioskop, berdebar juga perasaanku. (Khalieqy: 64)
14) Indekos Jogja
Khudori mengunjungi tempat indekos Anisa yang tengah kuliah di Jogja.
Kutipan:
Maka, Nina yang kamarnya berseberangan dengan kamarku terheran-heran ketika pada suatu hari, seorang laki-laki mengetuk pintu rumah indekos dan bermaksud mencariku. (Khalieqy: 205)
15) Kafe
Khudori yang menemui Anisa di tempat indekosnya mengajak Anisa makan di sebuah kafe.
Kutipan:
Setelah menyantap kepiting goreng di sebuah kafe antik pinggir jalan, kami ke toko buku mencari terbitan terbaru dan lek Khudori membelikanku beberapa buah jurnal ilmu dan kebudayaan paling gres yang kuketahui kemudian sebagian jurnal paling bergengsi karena kualitasnya di negeri ini. (Khalieqy: 208)
16) Komisariat organisasi
Anisa dan Nina mendatangi komisariat organisasi yang diikutinya.
Kutipan:
Bersama Nina, aku pun berlalu menuju komisariat mencari mbak Maryam, ketua organisasi di mana aku setiap hari nongkrong di dalamnya. (Khalieqy: 229)
17) BKIA
Tempat Anisa melahirkan anaknya, Mahbub.
Kutipan:
Kami pulang ke rumah setelah dua hari menginap di BKIA. (Khalieqy: 297)
18) Rumah Sakit Sardjito
Anisa mendapat kabar bahwa Khudori mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit Sardjito.
Kutipan:
“Maaf, Bu. Ini dari rumah sakit. Ingin mengabarkan bahwa polisi mendapatkan suami Anda kecelakaan sekitar satu jam lalu dan kini sedang dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Sardjito.” (Khalieqy: 309)
19) Kampung
Anisa dan Khudori menghadiri pernikahan teman sekolah di kampung.
Kutipan:
Pada suatu hari di sebuah acara pernikahan serang teman sekolah di kampung, kami membawa serta Mahbub dan tak diduga sama sekali, kami bertemu dengan pasangan mbak Kalsum dan Samsudin serta putri mereka, Fadilah, yang kini berusia sekitar lima tahunan. (Khalieqy: 301)
20) Kedai yu Sri
Tempat wak Tompel berjudi dan mabuk.
Kutipan:
Padahal wak Tompel, yang setiap malam minum tuak dan berjudi di kedai yu Sri, tidak dilarang untuk tidur menggelosor di dalam masjid dan tak seorang pun berani mengatakan bahwa itu haram. (Khalieqy: 73)
b. Latar Waktu
1) Masa kanak-kanak Anisa
Dalam novel ini diceritakan kisah Anisa sejak ia masih kanak-kanak sampai dewasa.
Kutipan:
Meski sudah berlalu, jauh di belakang waktu, masa kanak itu banyak menyimpan cerita. Kadang mengasyikkan, tapi lebih banyak yang menyebalkan. (Khalieqy: 1)
2) Beranjak baligh
Anisa semakin tumbuh dan sampai pada masa balighnya.
Kutipan:
Ketika itu, usiaku telah beranjak baligh. Perutku sering mual-mual, itu tandanya aku mau menstruasi yang pertama, kata mbak May suatu hari. (Khalieqy: 25)
3) Khataman
Anisa yang telah hafal tiga pulih juz mengadakan khataman sebagai pesta kecil untuknya.
Kutipan:
Dan kini, sejak lek Khudori tinggal di sini, aku telah menyelesaikan tiga puluh juz dan ibu menyelenggarakan acara khataman. Bahkan mengundang juga Kiai Jamaluddin untuk memberi pengajian. (Khalieqy: 40)
4) Setelah kepergian Khudori ke Kairo
Setelah cuti setahun setamat mondok di Gontor, Khudori melanjutkan beasiswanya ke Al-Azhar, Kairo.
Kutipan:
Setelah kepergian lek Khudori, aku sering mengurung diri di dalam kamar. Rasanya enggan melihat dunia luar. Matahari tidak lagi menyilaukan pemandangan. Semilir angin pegunungan tak mampu lagi mendatangkan rasa nyaman. (Khalieqy: 53)
5) Penerimaan raport
Anisa menerima raport kelas lima dengan nilai yang baik.
Kutipan:
Waktu berlalu begitu cepat. Kini aku telah menerima raport dari kleas lima tanpa satu angka pun yang berwarna merah. Bahkan, rangkingku paling atas dan itu semua berkat dorongan melalui surat-surat lek Khudori yang menggemuruh penuh cita-cita. (Khalieqy: 56)
6) Hari Minggu yang cerah
Hari Minggu Anisa dan Aisyah pergi ke toko buku kota kabupaten.
Kutipan:
Besoknya, hari Minggu sangat cerah. (Khalieqy: 58)
7) Seminggu setelah ke bioskop
Sifat kebandelan Anisa yang pergi ke bioskop tanpa sepengetahuan orangtuanya akhirnya sampai juga kabar itu pada orangtuanya.
Kutipan:
Tetapi, seminggu kemudian, berita itu telah sampai pada bapak, tanpa kutahu angin puyuh dari mana yang telah mengabarkannya. (Khalieqy: 70)
8) Pelamaran
Anisa dilamar untuk Samsudin di saat ia belum siap dan memang belum saatnya menikah karena masih terlalu kecil dan belum mengerti apa-apa.
Kutipan:
“Kami juga tidak terlalu terburu. Ya, mungkin menunggu si Udin wisuda kelak. Yang penting... kita sepakat untuk saling menjaga. Mengenai kapan di-langsungkannya pernikahan, nanti kan bisa dirembug lagi.” (Khalieqy: 90)
9) Haid
Anisa beranjak ke masa balignya dengan ditandai masa menstruasi.
Kutipan:
“Sejak saat ini, kau bukan lagi anak-anak, Nisa. Darah haid pertama telah menandai batas masa kanak-kanakmu menuju usia dewasa.” (Khalieqy: 92)
10) Pada suatu malam ketika Anisa sudah menikah dengan Samsudin
Sejak menikah dengan Samsudin, Anisa sangat tersiksa dengan perlakuan kasar suaminya sehingga ia tidak pernah merasa bahagia dalam kehidupan rumah tangganya.
Kutipan:
Masih segar dalam ingatanku. Serasa gambar-gambar hitam yang bergerak di layar putih pada suatu malam. Tapi ini bukan malam. (Khalieqy: 95)
11) Kepulangan Khudori ke kampungnya
Karena bapak Anisa mengetahui bahwa Anisa yang sedang dalam masa iddah setelah bercerai dari Samsudin sering keluar dan pergi berdua dengan Khudori, Khudori disuruh pulang kembali ke kampung halamannya.
Kutipan:
Secara tidak langsung, bapakmu juga menginginkan agar aku pulang kembali ke kampung halaman atau pergi dari rumah ini secepatnya. Lebih cepat, lebih baik. (Khalieqy: 198)
12) Suatu sore
Khudori kembali ke kampung halamannya untuk menghindari gunjingan orang mengenai dirinya dengan Anisa.
Kutipan:
Dengan berat hati sore itu, kami sekeluarga, bapak, ibu, dan aku sendiri mengantar kepergian lek Khudori, seolah ia akan pergi selamanya. (Khalieqy: 201)
13) Pagi setengah siang
Anisa dan Nina mengunjungi komisariat dan menemui mbak Maryam yang menjadi tempat konsultasi.
Kutipan:
Bersyukur bahwa kedatanganku pagi setengah siang itu bertepatan dengan waktu luangnya, dan ia biasa membicarakan dagangannya dan motif-motif artistik dari batik-batik yang dijajakannya, dari motif batik klasik maupun kontemporer. (Khalieqy: 230)
14) Pukul sembilan malam
Anisa merasa kesakitan dan mau melahirkan sekitar pukul sembilan malam.
Kutipan:
Sekitar pukul sembilan malam, karena aku sudah tak tahan oleh rasa sakit, mbak Maryam memberi nasehat agar kami segera berangkat ke BKIA. (Khalieqy: 294)
15) Pukul sepuluh malam
Kelahiran anak Anisa tepat pukul sepuluh malam.
Kutipan:
Tepat pukul sepuluh malam, setelah melalui perjuangan yang luar biasa antara jiwa dan janinku, bayi yang kutunggu itu lahir dan melengking menembus kesadaranku akan makna seorang ibu. (Khalieqy: 294)
16) Pada suatu hari
Anisa dan Khudori beserta Mahbub, anaknya, menghadiri sebuah acara pernikahan teman sekolah dan secara tidak sengaja bertemu dengan Samsudin dengan Kalsum.
Kutipan:
Pada suatu hari di sebuah acara pernikahan serang teman sekolah di kampung, kami membawa serta Mahbub dan tak diduga sama sekali, kami bertemu dengan pasangan mbak Kalsum dan Samsudin serta putri mereka, Fadilah, yang kini berusia sekitar lima tahunan” (Khalieqy: 301)
c. Latar Suasana
1) Suasana tenang di pedesaan
Tempat tinggal Anisa yang terletak di bawah lereng gunung yang memberi kesan ketenangan.
Kutipan:
Gemercik air tak henti mengalir, mengisi kolam dan blumbang. Sungai-sungai kecil melengkungkan tubuhnya seperti sabit para petani yang menunggu musim panen. Sawah dan ladang berundak-undak seakan tangga untuk mendaki ke dalam istana para peri. Semilir angin selalu datang dan pergi, tak pernah bosan menghias diri di pucuk-pucuk dedaunan. Bunga-bunga liar mekar tanpa disiram, menawarkan keindahan alam di lereng pegunungan, di dusun kecil yang terpisah dari keramaian, tempat bermain masa kanakku yang tak pernah kulupakan. (Khalieqy: 1)
2) Menegangkan
Ketika pergi bermain ke blumbang dan pulang dengan pakaian kotor, Anisa dan Rizal mengendap dan menghindari ayahnya. Tapi, akhirnya mereka tertangkap basah.
Kutipan:
Ketika telinga kami menangkap suara langkah, pastilah langkah kaki bapak. Spontan kami berbalik, melirik bayangan bapak yang mulai mendekat. Bayangan itu kadang-kadang serupa malaikat, kadang juga seperti hantu yang menakutkan. Tak ada sesuatu pun yang dapat kami perbuat kecuali menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir bapakku. (Khalieqy: 6)
3) Ketakutan
Rizal terjatuh ke dalam blumbang dan Anisa merasa bingung dan takut.
Kutipan:
Mula-mula aku tertawa menyaksikannya. Begitu kuamati wajahnya, ketakutan mencengkeramku. Kuedarkan seluruh pandangan, menyapu ladang dan pematang. Tak ada seorang pun. Kesunyian menggumpal, menambah ketakutan menjadi berganda. (Khalieqy: 4)
4) Ramai, lucu
Anisa yang polos menceritakan ayah temannya ketika membahas peran wanita dan laki-laki di kelas bersama guru dan teman-temannya.
Kutipan:
Pak guru terpingkal-pingkal, demikian juga teman-temanku. Semuanya tertawa mendengar cerita bapak Dita mengucapkan kalimat itu berulang-ulang di telinga burung-burungnya, dan menggosok lidah burung-burungnya itu dengan batu berkilatan seperti beling. (Khalieqy: 12)
5) Hangat
Anisa ke kamar mbak May saat matahari memberi kehangatan.
Kutipan:
Maka, dalam kehangatan matahari di lereng pegunungan itu, sehabis makan siang dan mencuci piring yang dipenuhi minyak sambal, kuah sayur dan sisa makanan yang telah berganti warna, aku bergegas menuju ke pondok, ke kamar nomor enam, kamar mbak May. (Khalieqy: 19)
6) Syahdu
Anisa belajar tajwid dan tilawah dengan mbak May dan mempraktekannya di kamar.
Kutipan:
Dengan teliti kupraktekkan satu persatu mana ‘ikhfa, mana iqlab. Sehabis Shubuh, begitu aku mendengar alunan ustad Abdullah al Matrud, imam besar Masjidil Haram itu menggema dan menembus tebalnya kabut kemalasan, kubuka kembali pedoman tajwid yang telah diajarkan mbak May. (Khalieqy: 23)
7) Keindahan dan kenikmatan
Khudori sering membacakan puisi kepada Anisa.
Kutipan:
Aku menerawang, membayangkan semampuku isi puisi yang baru dibaca lek Khudori. Tetapi tidak juga mengerti, kecuali merasakan keindahan dan kenikmatan untuk mendengarkan atau mengucapkannya. (Khalieqy: 27)
8) Romantis
Khudori bersikap mesra pada Anisa, selalu menyanjung dan memperlakukannya dengan istimewa.
Kutipan:
Kemudian ia menggenggam tanganku dan menciumnya. Itulah kebiasaan yang sering dilakukan olehnya, mencium tanganku dengan sayang. Dan kini pun ia telah menggenggamnya untuk kemudian pelan-pelan diciumnya dengan amat sayang dan penuh perasaan. (Khalieqy: 39)
9) Ceria
Anisa dan Khudori suka bercanda dan tertawa yang membuat suasana menjadi ceria.
Kutipan:
Seolah-olah tertawa telah menjadi bagian dari kehidupan, dari kebebasan yang tidak bisa ditekan. Seperti juga yang terjadi pada malam harinya, seusai mengaji dan belajar nahwu sharaf, kami bercanda, lek Khudori tertawa pelan dan terkesan malu-malu, kontan aku nyeletuk. (Khalieqy: 35)
10) Terancam
Anisa pergi belajar naik kuda bersama lek Khudori dan diketahui oleh ayahnya sehingga mendapat hukuman.
Kutipan:
“Sekarang dengar! Mulai hari ini, kau tidak boleh keluar rumah selain sekolah dan ke pondok. Jika sekali ketahuan membangkang, Bapak akan kunci kamu di dalam kamar selama seminggu.” (Khalieqy: 34)
11) Menghayal
Anisa suka menghayal dan menyatu dengan dunia hayalnya.
Kutipan:
Duduk di atas batu seperti ini, dikitari sunyi dan derai angin, gemericik air, suara belalang dan jangkerik, aku merasa tengah duduk di atas singgasana sendiri yang telah begitu kukenal. Singgasana dalam kerajaan hayal. (Khalieqy: 43)
12) Sedih, empati
Anisa membayangkan kekejaman kaum pada masa dulu yang menguburkan anak perempuannya hidup-hidup.
Kutipan:
Tak sadar aku sesenggukan sendiri. Perasaanku berdenyut-denyut. Alangkah kejamnya mereka. Alangkah biadabnya mereka. Ras apakah namanya yang memproduksi perangai durhaka dan dzalim macam itu? (Khalieqy: 44)
13) Hampa
Setelah kepergian Khudori ke Kairo, Anisa merasa kehilangan dan kehidupannya seolah hampa.
Kutipan:
Setelah kepergian lek Khudori, aku sering mengurung diri di dalam kamar. Rasanya enggan melihat dunia luar. Matahari tidak lagi menyilaukan pemandangan. Semilir angin pegunungan tak mampu lagi mendatangkan rasa nyaman. (Khalieqy: 53)
14) Genting
Anisa dan Aisyah pergi ke bioskop tanpa sepengetahuan orangtua mereka. Kemudian, mereka bertemu dengan seesorang yang menakutkan.
Kutipan:
Sejurus aku terpana. Darah mendesir dan lidahku kelu. Keringat dingin mulai mengalir pelan menjalari tangan dan kakiku. (Khalieqy: 65)
15) Mencekam
Anisa mengatakan kepada Samsudin bahwa hanya lek Khudori yang membuatnya tenang dan hal itu membuat Samsudin geram.
Kutipan:
Ia mencabut gigi taringnya dari tubuhku, seperti harimau lapar tengah berhadapan dengan mangsanya. Lalu menggeram untuk kemudian menekan kuat-kuat wajahku di atas bantal sambil mengeluarkan sumpah serapah tujuh turunan dan kata-kata makian yang diambil dari kamus kebun binatang. (Khalieqy: 103)
16) Haru
Anisa menceritakan kehidupan rumah tangganya bersama Samsudin kepada ibunya.
Kutipan:
Ibu limbung untuk menyadari kenyataan yang terjadi. Lalu menengok ke arahku dan dengan sikap penuh penyesalan, ibu merangkulku, mengusap kepalaku, menghapus titik-titik air mata di pipiku. Kami bertangisan penuh sesal di wal pagi yang membuka pilihan takdirku ini. (Khalieqy: 164)
17) Berkabung
Khudori meninggal karena kecelakaan. Banyak pelayat yang merasa kasihan terhadapnya, karena orang sebaik ia mati dengan begitu cepat. Anisa tetap berusaha sabar dan tidak terlalu terpuruk dalam kesedihan.
Kutipan:
Di mana aku bangkit, berdiri, dan berjalan menuju ruang tengah. Tetapi apa yang kulihat? Tubuh berselimutkan kain panjang itu wajahnya begitu pucat, matanya terpejam dan diam. Aroma kapur barus itu, telah menyentakkan kesadaranku akan makna semua yang diam. Para pelayat yang terus berdatangan dan tatapan mata mereka, semuanya memberitahu arti sebuah peristiwa. (Khalieqy: 313)

5. Tokoh
1. Anisa
- perempuan yang cantik dan cerdas
Kutipan:
“Kau tidak saja cantik, tetapi juga baik dan otakmu sangat cerdas.” (Khalieqy: 38)
- memiliki keinginan yang kuat dan semangat tinggi
Kutipan:
Memangnya mengapa kalau perempuan jadi pahlawan? Tidak boleh. Bukankah Tjut Njak Dhien juga hebat. Aku juga ingin hebat seperti Ratu Balqis atau Hindun Binti Athabah. (Khalieqy: 34)
- berpikir kritis
Kutipan:
Aku ingin membaca, kira-kira apa yang sedang dipikirkan olehnya. Dan aku sebal melihat para santri lain yang menunduk-nundukkan kepala dengan malu-malu kucing, seperti kucing beneran. Menurutku, tak ada sedikit pun hal memalukan di sini. Jadi untuk apa menundukkan kepala? (Khalieqy: 81)
- penyayang
Kutipan:
“Tetapi aku kasihan! Lek Khudori juga bilang, jangan ganggu yang sedang kesulitan, bisa kuwalat!” (Khalieqy: 3)
2. Khudori
- Suami ke dua Anisa yang cerdas, berwawasan luas, dan menyukai puisi
Kutipan:
Memang, berbeda dengan para pemuda di desa, selain cerdas dan berwawasan luas, lek Khudori memiliki kebiasaan yang agak aneh. Bagaimana tidak, sambil memancing pun, lek Khudori suka berteriak, mengucapkan kata-kata yang belum pernah kudengar sebelumnya. (Khalieqy: 26)
- demokratis dan emansipatoris
“Laki-laki yang demokratis dan emansipatoris seperti suamimu, Nis, boleh dibilang langka, sekalipun menjadi idaman banyak perempuan.” (Khalieqy: 235)
3. Kiai Hanan
- ayah Anisa yang menyayangi anak-anaknya
Kutipan:
Meski masih terlihat sedikit kelelahan di wajahnya, bapak memaksakan diri untuk duduk di antara kami. (Khalieqy: 182)
- bijaksana
Kutipan:
“Coba, Nisa. Sekarang ceritakan kepada kami, bagaimana sesungguhnya pergaulanmu dengan suamimu selama ini. Jika ada yang kau rasa tidak pada tempatnya, ceritakan semua kepada kami, terutama tentang perilaku suami-mu yang menyimpang dan sering menyalahi hukum agama.” (Khalieqy: 182)
- sangat keras dengan aturan
Kutipan:
“Nisa! Hentikan kata-katamu. Kalau tidak, Bapakmu yang akan menanganimu.” (Khalieqy: 160)
4. Hj. Mutma’inah
- arif
Kutipan:
Dengan memamerkan kesabaran dan kearifan hidup yang berusaha di tampakkan kepadaku, tangan ibu mengelus kepalaku sambil berkata lirih. (Khalieqy: 92)
- adil bijaksana
Kutipan:
Suara ibu menyela sambil mendekati kami berdua, memberi keputusan yang adil. (Khalieqy: 7)
- lembut dan penyayang
Kutipan:
Ibu ikut-ikutan tertawa dan mengelus kepalaku dengan sayang. (Khalieqy: 35)
5. Rizal
- kakak laki-laki Anisa yang pemalas
Kutipan:
“ Kau yang pemalas. Kerjanya cuma tidur. Dasar pembohong! Ngomongnya belajar ternyata ngorok!” (Khalieqy: 24)
- agak kasar
Kutipan:
Benar juga, batinku. Tapi tentu ada bedanya. Aku terdiam beberapa saat. Mencari-cari jawaban lain yang lebih kuat dari alasan Rizal. Kuperhatikan tingkahnya yang agak kasar untuk mengejar dan menangkap katak betina dengan jaring ikannya. (Khalieqy: 3)
6. Wildan
- kakak laki-laki Anisa yang pendiam
Kutipan:
Wildan yang pendiam dan banyak merenung, ia hanya mengangguk dan banyak menggerakkan tangannya yang menunjukkan tak setuju. (Khalieqy: 9)
7. Samsudin
- sarjana hukum dan putra anak kiai ternama
Kutipan:
“Ia seorang sarjana hukum dan putra seorang kiai ternama. Apalagi yang kurang dari dirinya. Segalanya ia miliki.” (Khalieqy: 105)
- berperawakan tinggi besar dan badannya dipenuhi gajih
Kutipan:
Beban gajihnya begitu berat menindih tubuhku hingga semuanya menjadi tak tertahankan. (Khalieqy: 97)
- kasar
Kutipan:
Ia membuang puntung rokok dan serta merta, di luar perkiraanku, laki-laki bernama Samsudin itu meraih tubuhku dalam gendongannya. (Khalieqy: 96)
- suka merayu janda
Kutipan:
Namun yang kudengar dari gunjingan pada para tetangga, Samsudin sangat mahir merayu janda. Terutama janda kembang di desanya. (Khalieqy: 116)
8. Kalsum
- janda yang dihamili Samsudin
Kutipan:
Pada suatu saat, seorang janda datang ke rumah dan mengadu padaku atas perilaku Samsudin, yang telah menghamilinya. (Khalieqy: 116)
- anak seorang makelar tanah
Kutipan:
Satu hal yang menjadi pikiran serius bagi Kalsum adalah masalah uang. Ia anak perempuan dari seorang makelar tanah yang selalu bau rupiah. Tembak sana, tembak sini tanpa merasa jengah. (Khalieqy: 123)
- berpikir bebas tanpa batasan hukum agama
Kutipan:
Kalsum lulusan Sekolah Menengah Atas bekasan tahun lalu. Tetapi karena lingkungan sosial dan budayanya berbeda denganku, Kalsum memiliki pemikiran yang serba bebas tanpa batasan hukum agama. (Khalieqy: 122)
- mata duitan
Kutipan:
Satu hal yang menjadi pikiran serius bagi Kalsum adalah masalah uang. (Khalieqy: 123)
- mudah dipengaruhi
Kutipan:
Perbedaan sikap mbak Kalsum terhadapnya lebih revolusioner dibanding aku sendiri, yang telah memberinya inspirasi. Jauh dari pikiran sesungguhnya, pribadi mbak Kalsum mudah digerakkan untuk hal-hal yang bersifat positif dan spiritual. (Khalieqy: 125)
9. Aisyah
- sahabat karib Anisa
Kutipan:
Pagi-pagi sehabis membantu ibu di dapur, kuambil semua uangku yang selama ini kusimpan dalam sebuah kitab yang tidak terjangkau oleh penciuman Rizal. Lalu pergi ke rumah Aisyah sahabatku yan paling akrab. (Khalieqy: 58)
- penakut
Kutipan:
“Enggak, ah! Aku takut.” (Khalieqy: 63)
10. Ustad Ali
- kiai sepuh yang dohormati dan ditaati perintahnya
Kutipan:
Kiai Ali menikmati betul status dan posisinya sebagai seorang kiai sepuh yang dihormati dan ditaati perintahnya, dilaksanakan ajaran dan petuahnya secara membabi buta. (Khalieqy: 85)
- jorok
Kutipan:
Dengan sorban putihnya yang tidak pernah tampak baru, terlihat kumal dan sedikit berbau apek, duduk dengan tenangnya sambil membuka kitab yang telah diletakkan di atas meja kecil di hadapannya. (Khalieqy: 78)
- orang kepercayaan bapak Anisa
Kutipan:
Hanya saja, ada beberapa kompleks yang telah dibangun oleh bapak, yang kemudian dihuni oleh lima puluh santri putri, dengan ustadz yang paling tua dan dipercaya oleh bapak, yaitu ustadz Ali. (Khalieqy: 52)
- orang yang berkeyakinan bahwa derajat laki-laki lebih tinggi daripada wanita
Kutipan:
Terbukti bahwa akal laki-laki melebihi perempuan, kata ustadz Ali yang menjadi badalnya bapak. (Khalieqy: 71)
11. Maimunah
- santri putri kiai Sukri berkulit putih dan halus, tutur katanya halus, berambut panjang, suaranya merdu dan pandai membaca Al-Qur’an.
Kutipan:
Tiga santri putri yang dipercaya untuk membantu ibu, duduk di belakangku. Salah satu di antaranya bernama Maimunah, putri kiai Sukri, teman bapak semasa mondok di pesantren terkenal di Jawa Timur. Aku suka memperhatikan mbak May, begitu ia sering dipanggil oleh teman-temannya. Aku memang suka di dekatnya, di banding dengan santriwati lain. Pertama karena mbak May, memiliki kulit putih yang halus, sehalus kata-katanya. Mbak May juga memiliki rambut panjang yang dikepang dua, dan kalau dilepas jilbabnya seperti para pendekar putri Shaolin. Dan ini yang membuatku tertarik memperhatikan mbak May, suaranya sangat merdu, enak untuk didengar oleh telinga, apalagi ketika membaca Al-Qur’an. (Khalieqy: 16)

12. Mbak Fauziyah
- wanita yang periang, terbuka dan suka ceplas-ceplos. Ia adalah wanita yang cerdas
Kutipan:
Mbak Fauziyah adalah wakil ketua. Berbeda dengan mbak Maryam yang tenang dan keibuan, mbak Fauziyah memiliki kareakter periang, terbuka, dan suka menyerang. Bicaranya ceplas-ceplos dan sulit sekali dibohongi. Ia mahasiswa semester tujuh dan mendapat beasiswa sejak semester tiga. Otaknya cerdas dan memiliki kepedulian begitu besar terhadap masalah perempuan. Satu- satunya hal yang membuatnya jalan beriringan dengan Mbak Maryam. (Khalieqy: 239)
13. Mbak Umi dan mbak Laila
- teman kos Anisa yang iseng
Kutipan:
Dan kami pun dengan akrab hingga malam. Begitu aku masuk ke dapur untuk membikin minuman, Nina, Mbak Umi, Mbak Laila dan beberapa teman indekos menyerbu ke dapur mengerubungiku dan menghujaniku dengan berbagai macam pertanyaan. (Khalieqy: 206)
14. Nina
- teman kos Anisa yang iseng
Kutipan:
Dan kami pun dengan akrab hingga malam. Begitu aku masuk ke dapur untuk membikin minuman, Nina, Mbak Umi, Mbak laila dan beberapa teman indekos menyerbu ke dapur mengerubungiku dan menghujaniku dengan berbagai macam pertanyaan. (Khalieqy: 206)
- suka memperolok
Kutipan:
Trauma Samsudin begitu parah mengendap dalam kesadaranku, hingga beberapa teman mengira aku alergi terhadap laki-laki. Seperti Nina yang memperolokku sebagai perempuan salju. (Khalieqy: 204)
15. Umi Sa’adah
- istri lek Mahmud yang juga merupakan santri pondok bapak Anisa
Kutipan:
Begitu tiba di rumah, kulihat mas Khudori masih di muka televisi bersama bapak dan lek Mahmud yang baru datang dari Surabaya, di mana ia tinggal setelah menikah beberapa tahun lalu dengan seorang santri putri di pondok ini juga. (Khalieqy: 261)
- tidak percaya diri (minder)
Kutipan:
Tetapi karena pendidikan yang ditempuhnya sebatas Tsanawiyah, lek Umi merasa minder dan canggung jika kami telah sampai pada pembicaraan yang lebih dalam mengenai sesuatu, yang membutuhkan pemikiran dan wawasan luas. (Khalieqy: 262)
16. Pak Tasmin
- laki-laki setengah baya, tetangga desa yang pernah menggarap sawah ayah Anisa. Ia adalah seorang pedangan perkakas.
Kutipan:
Seorang laki-laki setengah baya yang kemudian kuingat sebagai tetangga desa yang pernah menggarap sawah bapak, namanya pak Tasmin, mendekat dengan sekeranjang dagangannya, benda-benda tajam seperti belati, arit, bendho, gergaji, dan lain-lain. (Khalieqy: 68)
- penyelamat
Kutipan:
“Hanya lihat-lihat gambarnya, Pak Tasmin. Tadinya cari buku, eh kok nyasar ke sini. Memang sial. Untung ada Pak Tasmin. Kalau tidak, nggak tahu apa yang akan terjadi.” (Khalieqy: 69)
17. Pak Joko
- guru bahasa Indonesia Anisa yang suka menggoda
Kutipan:
Seseorang mencolek pundakku dari belakang. Aku terkejut bukan main sebab dia adalah pak Joko, guru bahasa Indonesia yang baru, yang suka menggoda dengan lirikan mata keranjangnya. (Khalieqy: 56)
18. Mbak Maryam
- berkarakter kuat sebagai pemimpin
Kutipan:
Maryam memiliki karakter yang kuat sebagai pemimpin. Ia mampu memobilisasi massa dan mengelola keuangan sekaligus dengan begitu rapinya. (Khalieqy: 229)
- keibuan
Kutipan:
Pembawaannya yang tenang dan keibuan menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi kalangan yang bermasalah, yang tengah mencari kesejukan dan rasa aman dari berbagai gempuran hidup. (Khalieqy: 238)
19. Germo
- berkulit hitam, bertubuh pendek, dan berperut buncit.
Kutipan:
Seorang lelaki hitam bertubuh pendek dengan perut menonjol sembilan senti ke depan tiba-tiba nyelonong di antara kami. (Khalieqy: 64)
- tidak mudah dibohongi
Kutipan:
Tetapi laki-laki itu tidak gampang dibohongi, ia menangkap tanganku dan berusaha meringkus tubuhku ketika seseorang yang benar-benar dari arah utara memanggil namaku. (Khalieqy: 68)
20. Mahbub
- anak laki-laki Anisa
Kutipan:
Dan kini, setelah aku mendapatkan gelar, sudah memiliki Mahbub, anak semata wayangku, cerita itu sering muncul seturut dengan pengetahuan yang kudapatkan dari lembaran buku kehidupan. (Khalieqy: 1)
- tampan
Kutipan:
“Anakmu cakep sekali, Anis,” (Khalieqy: 302)
21. Loubna el Huraybi
- peserta konferensi perempuan muslim internasioanl dari Yordania
Kutipan:
Di antara para tamu tersebut, aku sempat berbincang-bincang dengan salah seorang peserta dari Yordania bernama Loubna el Huraybi. (Khalieqy: 279)
- teman karib Khudori ketika di Berlin
Kutipan:
Setelah sekian waktu berbincang-bincang, siapa mengira kalau Loubna adalah sahabat mas Khudori saat di Berlin dulu dan ia mengenal mas Khudori dengan baik sekali. (Khalieqy: 279)
22. Lek Mahmud
- suka mengelus kaki santri
Kutipan:
Tidak seperti lek Mahmud, yang suka mengelus-elus kakiku sewaktu mengajariku mengaji, sehingga bapak melarangku untuk belajar bersamanya. (Khalieqy: 37)
- suami yang kurang membantu peran istri di rumah
Kutipan:
“Paling-paling yang dikerjakan mas Mahmud hanya menyuapi Sania kalau pagi. Selebihnya aku semua yang mengerjakan.” (Khalieqy: 265)
23. Kiai Jamaluddin
- pemberi pengajian
Kutipan:
Dan kini, sejak lek Khudori tinggal di sini, aku telah menyelesaikan tiga puluh juz dan ibu menyelenggarakan acara khataman. Bahkan mengundang Kiai Jamaluddin untuk memberi pengajian. (Khalieqy: 40)
24. Mbak Ulfah
- tidak berani bertanya
Kutipan:
Kujawil pinggang mbak May dan menyuruhnya bertanya, apa yang dimaksud dengan buku-buku tak berguna dan film-film kafir itu, tetapi mbak May menggelengkan kepala. Kujawil mbak Ulfah di sebelah kiriku, ia pun menggeleng. (Khalieqy: 82)
25. Kiai Nasiruddin
- mertua Anisa
Kutipan:
“Bapak tak menyangka. Ini benar-benar pelik. Kiai Nasiruddin, bapak mertuamu itu adalah sahabat terbaik dan paling dekat dengan Bapak semasa kami sama-sama mondok di Tebuireng.” (Khalieqy: 183)
- baik, dermawan, tidak suka menyakiti hati orang
Kutipan:
“Beliau itu orangnya baik, dermawan, tidak suka menyakiti hati orang, apalagi istrinya sendiri.” (Khalieqy: 183)
26. Kiai Shaleh
- utusan pihak Samsudin
Kutipan:
Dua hakam itu telah bicara, satunya kiai Mahfud yang lain adalah utusan dari pihak Samsudin bernama kiai Shaleh. (Khalieqy: 188)
27. Kiai Mahfud
- utusan pihak Anisa
Kutipan:
Dengan kepergian kiai Mahfud, sebagai hakam dalam urusanku, aku melihat matahari baru bermunculan dari setiap gerakku. (Khalieqy: 188)
28. Kiai Badawi
- kiai sepuh yang arif
Kutipan:
“Mungkin Bapak bisa mengutus kiai Mahfud atau kiai Badawi yang jauh lebih sepuh dan pastilah lebih arif untuk membincangkan masalah seperti ini.” (Khalieqy: 187)
29. Mas Saipul
- teman Khudori yang juga merupakan kakak Aisyah
Kutipan:
“Ia kan teman mas Saipul, kakakku.” (Khalieqy: 59)
- pandai berbahasa Arab
Kutipan:
“Kudengar ia sering bicara bahasa Arab dengan mas Saipul.” (Khalieqy: 60)
30. Teman SD Anisa
- periang
Kutipan:
Pak guru terpingkal-pingkal, demikian juga teman-temanku. (Khalieqy: 12)

31. Pemuda dan anak-anak pemancing
- ceria
Kutipan:
Di ujung sebelah timur, di atas batu-batu kali yang besar, beberapa pemuda dan anak-anak juga sedang memancing. Tetapi mereka lebih berisik dan tertawa sambil memakan buah mangga yang masih mentah. Salah seorang di antara mereka sedang menerbangkan dua pasang merpati yang telah diberi randa bunyi, lalu teman-temannya menyoraki. (Khalieqy: 28)
32. Santri putri
- sungkan berdebat
Kutipan:
Aku berpikir, agaknya para santri di sini masih dihinggapi rasa sungkan untuk berdebat ataukah kekuatan taklid itu masih begitu mengakar. (Khalieqy: 258)
33. Perwakilan rumah sakit
- taat pada aturan melapor
Kutipan:
“Maaf, Bu. Ini dari rumah sakit. Ingin mengabarkan bahwa polisi mendapatkan suami Anda kecelakaan sekitar satu jam lalu da kini sedang dirawat di ruang ICU.” (Khalieqy: 309)
34. Yu Atemi
- pembantu rumah tangga Anisa
Kutipan:
Kupanggil yu Atemi PRT-ku dengan gusar. (Khalieqy: 309)
35. Fadilah
- anak Samsudin dan Kalsum
Kutipan:
“Apa boleh buat. Anak kami telah lahir dan dia itu bapaknya. Sebrengsek apapun mas Sam, dia tetap menjadi bapaknya Fadilah.” (Khalieqy: 121)
- lugu
Kutipan:
Seperti keledai tanpa pakaian, ia melenggang keluar kamar dengan tenangnya. Melewati Kalsum dan putri mereka, Fadilah. Sampai anak kecil itu terlongong-longong seakan tengah menyaksikan unta budukan di tengah sahara. (Khalieqy: 131)
36. Wa Burit
- rentenir
Kutipan:
Demikian juga wak Burik, blantik sapi yang membuka praktek rentenir itu, sering juga datang dan ngorok dengan mulut berbusa di dalam masjid. (Khalieqy: 74)
37. Wa Tompel
- pemabuk dan suka berjudi
Kutipan:
Padahal wak Tompel, yang setiap malam minum tuak dan berjudi di kedai yu Sri, tidak dilarang untuk tidur menggelosor di dalam masjid dan tak seorang pun berani mengatakan bahwa itu haram. (Khalieqy: 73)
38. Basuni
- protektif
Kutipan:
“Itu urusan dia. Tetap nggak zamannya laki-laki menguasai perempuan. Belum apa-apa sudah melarang ini melarang itu, perintah sana perintah sini, seenaknya.” (Khalieqy: 232)
39. Pak Rahim dan Bu Rahim
- teman dekat Khudori di tempat mengajar
Kutipan:
Malam telah larut saat kudengar beberapa teman menjenguk. Ternyata Nina bersama mbak Fauziyah. Juga pak Rahim dan bu Rahim teman dekat mas Khudori di tempat mengajar. (Khalieqy, 295)
40. Kang Girun
- suka menggunjingkan orang
Kutipan:
“Biasa. Janda kembang kan selalu kesepian. Dan pamannya yang ganteng itu mengambil kesempatan.” (Khalieqy, 192)
41. Lawan bicara kang Girun
- ingin tahu urusan orang lain
Kutipan:
“Setelah itu, apa yang mereka lakukan Kang Girun?” (Khalieqy: 192)
42. Paman Farid
- baik
Kutipan:
Di atas permadani Samirra hadiah dari paman Farid yang belum lama pulang dari Turki, ibuku duduk termangu, menyaksikan hiburan siang dari TVRI. (Khalieqy: 13)
43. Wahid dan Sania
- anak laki-laki dan perempuan lek Mahmud berusia empat tahun dan dua setngah tahun.
Kutipan:
Lek Mahmud telah dikaruniai dua anak laki-laki dan perempuan berusia empat tahun dan dua tahun setengah. (Khalieqy: 261)

6. Sudut Pandang
Pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama dalam gaya penceritaan di dalam novel Perempuan Berkalung Sorban. Pengarang memakai kata “aku” yang merupakan sudut pandang orang pertama sebagai sudut pandang penceritaan novel. Tokoh Anisa sebagai orang yang mengetahui semua cerita dijadikan sebagai tokoh sentral dalam cerita tersebut.



7. Amanat
Di dalam karya sastra, pasti ada amanat atau pesan yang disampaikan penulis kepada pembaca. Begitu juga dengan novel ini. Di dalamnya terdapat berbagai makna dan amanat yang dapat kita ambil untuk dijadikan sebagai penambahan pengetahuan umum dan sebagai bahan referensi dalam kehidupan sehari-hari.
Novel yang berlatar belakang agama ini banyak menampilkan kasus yang dikaitkan dengan hukum agama yang kadang bertentangan dengan kehidupan masyarakat. Maka dari itu, sebaik-baik orang adalah yang mau menerima masukan dan kritik membangun yang bermanfaat untuk kehidupan lingkungan sosialnya.
Setelah menganalisa unsur-unsur intrinsik novel, maka dapat diambil kesimpulan yang sarat akan makna yang di dalamnya berisi amanat yang ingin disampaikan pengarang.
Di dalam novel ini, ditonjolkan perbedaan yang dilakukan terhadap laki-laki dan perempuan. Hal itu menyiratkan kita agar tidak membeda-bedakan laki-laki dengan perempuan karena pada hakikatnya manusia itu sama, yang membedakan hanya tingkah lakunya.
Selain itu, dalam membina rumah tangga, kita juga harus mengadakan suatu kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak, yaitu suami dan istri. Jika tidak adanya suatu kesepakatan yang jelas, akan banyak perbedaan yang timbul dalam keluarga, meskipun perbedaan itu memang selalu ada. Namun jika dapat mengantisipasi perbedaan itu, hendaklah mengusahakan keseragaman berpikir dalam membina keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar