Manusia adalah makhluk ciptaan yang paling sempurna daripada makhluk lainnya. Manusia memiliki perasaan dan akal pikiran yang membuatnya dapat memikirkan dan memilih mana yang terbaik atau tidak, baik untuk dirinya maupun orang lain.
Manusia tidak dapat hidup sendiri, karena semua kegiatan dan kebutuhan memerlukan peran orang lain. Tidak ada satu orang pun yang mampu hidup sendiri, kecuali orang yang mengingkari kodratnya sebagai makhluk sosial. Namun, sekarang ini banyak orang yang memiliki kelebihan dari orang lain, sehingga membuatnya merasa tinggi hati dan meng-anggap dirinya dapat melakukan sesuatu hal tanpa bantuan orang lain. Misalnya saja orang yang memiliki kedudukan tinggi, ia akan berpikir mengenai kesenangan dan kebahagiaan dengan kedudukan dan melupakan orang-orang kecil yang juga berperan dalam kesuksesannya itu.
Hal yang demikian itu merupakan salah satu kegiatan egoisasi yang dilakukan kebanyakan orang untuk membanggakan atau menyenangkan dirinya, meskipun melukai dan menyakiti orang lain. Yang saya teliti adalah mengenai sifat keegoisan di kalangan remaja yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bergaul, remaja cenderung akan membentuk sebuah kelompok atau gank, terutama remaja putri yang terbiasa merumpi dan curhat. Di dalam kelompok yang dianggap sebagai tempat berekspresi dan bercurah cerita, kadang terjadi juga beberapa pertengkaran kecil, perbedaan pendapat, atau bahkan salah faham.
Topik yang selalu hangat dan tidak pernah bosan dibicarakan adalah mengenai pacar. Seolah-olah ada kewajiban untuk membicarakan sosok yang bagaikan sempurna tanpa cela itu. Di setiap ada kesempatan, selalu membicarakan hal yang pernah dan sering dibicarakan, sampai pendengar pun seperti hafal dengan teks cerita. Hal yang sama diceritakan berulang-uang kali.
Selama berpredikat sebagai remaja, keegoisan adalah hal yang sering dijumpai dalam pergaulan, baik dilakukan dengan sadar maupun tidak. Di antaranya:
1. Handphone
Alat komunikasi. Siapa remaja yang tidak memegang Hp? Hampir semua orang, terutama remaja, bahkan anak kecil pun pasti memiliki alat komunikasi telepon genggam. Alasan yang paling pertama dan utama yaitu untuk sebagai alat komunikasi agar memudahkan dalam berinteraksi dengan orang yang tak direntangkan jarak dan waktu. Namun, apakah semua orang dapat memanfaatkan benda itu dengan baik?
Selain keluarga, handphone digunakan juga untuk kebutuhan di luar, seperti untuk menghubungi teman dan pacar. Bahkan, waktu untuk keluarga lebih terkurangi de-ngan kehadiran ruang lingkup remaja yang kian meluas dengan pergaulannya.
Segi psikologi remaja pun berbeda dengan jenjang usia lainnya. Remaja lebih cenderung penasaran dengan hal-hal yang belum pernah diketahui dan dirasakan. Remaja adalah usia yang rawan dan sangat perlu pengawasan dari orang-orang terdekat, terutama kedua orangtua. Dengan usia yang semakin beranjak, hal-hal yang sensitif dengan kehidupan remaja merupakan hal yang seharusnya dikontrol agar tidak terjadi kecelakaan-kecelakaan di luar keadaan normal.
Dalam pergaulan remaja, keegoisan yang sering muncul adalah ketika meng-gunakan Hp, ia seolah melupakan keadaan sekitar. Orang yang tengah berbicara dengannya pun bagai angin sepoi yang menyanyikan alunan syair Melayu. Padahal, sebagai pendengar yang baik itu harus memperhatikan dan tidak menyinggung orang yang berbicara.
Kejadian yang seperti itu banyak terjadi, apalagi ketika sedang berkomuniikasi dengan pacar. Dengan alasan pertautan jarak yang begitu jauh, malah mengorbankan perasaan teman yang sedang mengajak berbicara. Bukan perbuatan sopan jika ada orang yang berbicara, ia malah asyik dengan dunia sendiri. Sadar, Kawan! Pacar itu belum pasti akan membahagiakan, ia bukan segala-galanya untuk dijadikan harapan kesetiaan. Sedangkan sahabat adalah orang yang mengerti, meskipun tidak di-tampakkan dengan perbuatan nyata di matamu.
2. Tugas kuliah/sekolah
Remaja yang baik adalah yang memikirkan mengenai kemajuan masa depan, salah satu jalan yang ditempuh adalah lewat pendidikan. Masa sekolah adalah masa perkenalan anak dengan dunia pendidikan yang akan dijadikan sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan nyata yang akan lebih membutuhkan segala kecakapan hidup.
Berbeda dengan masa kuliah. Masa di mana jenjang pendidikan lebih tinggi yang juga lebih membutuhkan kepekaan terhadap hal-hal yang membawa dampak bagi pola pikir remaja, baik pola pikir positif maupun negatif.
Setiap pekerjaan memiliki tugas yang harus diselesaikan dengan penuh tanggung jawab. Kecenderungan orang ingin mendapat nilai keberhasilan akan tinggi ketika mengetahui ada orang yang mendapat nilai lebih tinggi (saingan). Hal itu sudah biasa terjadi dalam kehidupan masyarakat, karena manusia memiliki sifat optimisme yang begitu kuat ketika telah mendapat rangsangan berupa rasa saing, walaupun antara teman.
Begitu juga dengan sekolah dan kuliah, ada tugas yang harus diselesaikan dengan optimal agar mendapat nilai keberhasilan yang sesuai dengan yang ditargetkan. Dalam masalah ini, siswa yang bergank cenderung akan mengerjakan tugas-tugas sekolah/kuliah secara bersama-sama. Pikiran kompak dan akan mendapat nilai sama menggelayut dalam pikiran.
Lain halnya ketika ada anak yang mendapat nilai paling tinggi dan disanjung-sanjung semua orang, anak yang awalnya bergank dan meyakinkan akan kompak dalam hal apa pun, akan merubah pola pikir menjadi keserakahan yang membuat orang lain gerah dengan sikap yang ditampilkan.
Memang bagus iri dengan keberhasilan orang untuk merubah diri menjadi lebih baik. Tapi jika keberhasilannya itu dihasilkan dengan cara menyinggung perasaan orang lain, tidak akan ada artinya semua nilai tinggi dan perjuangannya mencapai keberhasilan. Misalnya, ada teman yang bertanya mengenai tugas (bukan menanyakan jawaban, melainkan mengenai cara mengerjakan), anak yang terlalu ambisius dengan nilai tinggi tidak akan memberikan jawaban dari pertanyaan temannya dengan berbagai macam alasan, padahal yang bertanya itu adalah teman satu gank yang dulu menganut faham kebersamaan.
Keberhasilan orang tidak dilihat dari tingginya nilai yang didapat, tetapi dari perjuangan optimal dengan jalan yang baik untuk menuju nilai kepuasan dengan hasil yang sesuai dengan kemampuan.
3. Kesenangan pribadi
Tidak ada orang yang mau diganggu kesenangannya, ungkapan yang pasti akan menyambungkannya dengan keegoisan yang identik dengan manusia. Sifat egois akan terbawa sampai anak membaur dengan kehidupan yang lebih luas, yaitu kehidupan masyarakat.
Manusia memiliki rasa kesenangan terhadap sesuatu dan menjadikannya sebagai identitas diri. Namun, sangat tidak etis jika kesenangan terhadap sesuatu itu dijadikan sebagai media untuk mengembangkan keegoisan. Egois memiliki makna memen-tingkan diri sendiri, bukan berarti semua tindak keegoisan itu adalah tidak baik (buruk). Ada juga sikap egois yang tidak termasuk perbuatan buruk, seperti ketika terjadi bencana, orang yang lari menyelamatkan diri itu bukan termasuk perbuatan egois, karena secara kodrati manusia memang harus menjaga keselamatan dirinya. Jadi, tidak semua sifat egois itu tidak baik, malinkan tergantung pada keadaan dan situasi yang terjadi.
Berbeda halnya dengan orang yang tidak suka kesenangannya diganggu. Ia akan marah dan akan membela hal pribadi yang merupakan kesenangannya itu. Dengan pembelaan yang berlebih itulah yang membuat ia dikatakan egois.
4. Gangguan dengan tawa
“Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang!”, memang bukan ungkapan yang salah. Tertawa adalah olahraga yang menyehatkan dan paling murah, semua orang bisa melakukannya dengan sesuka hati. Tetapi, hal itu juga perlu melihat keadaan situasi dan tempat di mana aksi tertawa itu akan dilakukan. Mungkin ada orang yang tidak nyaman dengan tawa kita yang berlebih.
Tertawa yang baik bukanlah tawa yang mengeluarkan segala tenaga, apalagi bagi kaum hawa yang harus menjaga kebaikan sikap. Remaja yang masih berada dalam masa transisi akan berekspresi, salah satunya dengan media tawa. Tidak semua orang faham dan bisa menerima keadaan demikian. Maka, etika tertawa pun harus diterapkan dalam pergaulan.
Saya pernah menyaksikan remaja putri yang tertawa lepas sehingga mem-bangunkan orang yang sedang tidur, yang merupakan penghuni dari tempat ia (orang yang tertawa) bertamu. Ternyata keegoisan bisa juga terjadi dalam kegiatan yang menyenagkan, seperti tertawa tersebut. Ironis, remaja yang seharusnya menunjukkan kesopanan malah melakukan hal-hal yang mencoreng image remaja masa kini.
5. Candaan yang berlebihan
Tidak jauh berbeda dengan poin nomor empat, tidak semua orang bisa menerima perlakuan orang yang seenaknya, apalagi perlakuan yang menyakitkan. Tak sedikit orang yang suka bercanda dalam kesehariannya untuk menghilangkan stres atau mengisi waktu luang.
Namun, banyak juga keegoisan yang terjadi dalam candaan yang berlebihan ter-sebut. Sifat egois itu dikarenakan tidak adanya kepekaan yang terhadap keadaan orang. Jika candaan itu terlalu berlebihan dan menyakitkan, akan membuat orang lain merasa tersinggung dan akan memecah hubungan baik antara teman yang satu dan teman yang lainnya.
Orang yang bercanda berlebihan itu tidak memiliki rasa kebersamaan yang hanya memikirkan kesenangannya sendiri, meskipun menyakiti perasaan orang lain. Sifat-sifat keegoisan itulah yang akan membuat persahabatan dan hubungan baik akan hancur sehingga harus menghindari hal-hal yang demikian.
6. Gaya hidup
Remaja lekat sekali dengan gaya hidup yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman (mode). Mulai dari pakaian, gaya rambut, cara berbicara, serta perilaku, kebanyakan remaja akan mengikuti mode yang semakin berkembang. Dengan gaya hidup yang demikian, remaja akan lebih mengutamakan dirinya untuk menjadi pusat perhatian dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru. Tak jarang mereka mencoba sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan. Contohnya seperti akibat kurangnya pendidikan pengetahuan tentang sex dan kurangnya pendekatan agama kepada anak maka anak akan terjerumus ke pergaulan bebas.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar