Rabu, 12 Januari 2011

analisis fenomenologis

ANALISIS FENOMENOLOGIS SAJAK TAK SEPADAN
KARYA CHAIRIL ANWAR

Tak Sepadan
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.

Februari 1943
ANALISIS
1. Lapis Bunyi
Sajak “Tak Sepadan” karya Chairil Anwar ini menggunakan bahasa Indonesia dengan pembubuhan nama-nama tokoh asing, seperti Ahasveros dan Eros yang mempunyai makna tersendiri dalam sajak tersebut.
Dalam sajak ini ada kesengauan atau penonjolan fonem-fonem tertentu. Bahasa yang digunakannya seperti sebuah cerita atau prosa karena jarang menggunakan bahasa perumpamaan.
Rima dalam sajak ini tidak mempunyai keunikan, tidak memiliki kekonsistenan dalam pengaturan rima. Akhir sajak pada bait pertama baris ke empat yaitu kata Ahasveros dan pada bait ke dua baris pertama yaitu kata Eros yang menjadi keunikan rimanya. Bait pertama bersajak a-a-a-b, bait ke dua bersajak a-b-b, dan bait ke tiga bersajak a-a-b-b. Namun, pada tiap bait terdapat keselarasan bunyi akhir, yaitu huruf vokal, selain pada kata Ahasveros dan Eros yang merupakan bahasa dan nama Indonesia. Pada bait pertama dan ke dua, kebanyakan sajak berakhir a, tapi pada bait ke tiga dibubuhi dengan sajak akhir i.
Dalam sajak ini fonem yang paling banyak muncul adalah fonem efoni. Dalam tiap baris selalu ada fonem a yang termasuk bunyi efoni, yaitu penggambaran kesedihan. Walaupun ada beberapa fonem yang menunjukkan kakofoni, seperti pada kata aku, kira, nanti, dan lain-lain, yang lebih banyak muncul adalah efoni.
Untuk lebih jelas, asonansi dan aliterasi pada tiap baris sajak Tak Sepadan dapat dilihat sebagai berikut:
a. Bait pertama
baris pertama terdapat asonansi a-a-a dan aliterasi k-k-k
baris ke dua terdapat asonansi i-i-i-i dan aliterasi bunyi sengau n-n-n-n
baris ke tiga terdapat asonansi a-a-a dan berkombinasi dengan aliterasi k-k-k
baris ke empat terdapat asonansi a-a-a-a dan aliterasi s-s-s-s
b. Bait ke dua
baris pertama terdapat asonansi u-u-u dan aliterasi s-s-s dan k-k-k
baris ke dua terdapat asonansi a-a-a-a dan berkombinasi dengan aliterasi k-k-k
baris ke tiga terdapat asonansi u-u-u-u dan aliterasi t-t-t
c. Bait ke tiga
baris pertama terdapat asonansi i-i-i dan aliterasi j-j-j dan d-d-d
baris ke dua terdapat asonansi i-i-i dan aliterasi bunyi sengau n-n-n
baris ke tiga terdapat asonansi a-a-a-a dan berkombinasi dengan aliterasi
k-k-k-k
baris ke empat terdapat asonansi a-a-a-a dan berkombinasi dengan aliterasi bunyi sengau ng-ng-ng dan g-g-g
Selain itu, terdapat pula sajak akhir pada:
a. Bait pertama: ra-nya-a-ros
b. Bait ke dua: ros-ta-ka
c. Bait ke tiga: mi-ni-pa-ka
2. Lapis Arti
Karena kata-kata yang digunakan dalam sajak ini adalah bahasa sederhana, sajak ini menjadi sajak yang mudah dipahami oleh apresiator. Dengan membacanya satu kali, pembaca akan menemukan sebuah inti yang disampaikan pengarang dalam sajak ini, meskipun belum menemukan inti seluruh dari tema sajak ini.
Pada bait pertama tidak ada kata kiasan atau perumpamaan, tapi pada bait ke dua ada beberapa perumpamaan, begitu juga pada bait ke tiga. Bahasa yang dipakai tidak hanya seperti sebuah cerita, tapi juga mengandung unsur kata-kata kiasan.
a. kira: menduga, memprediksi
b. nanti: waktu yang akan datang
c. kau kawin, beranak dan berbahgia: bahagia karena telah menikah dan mempunyai suami yang sepadan serta anak
d. mengembara: pergi mencari sesuatu yang dituju
e. dikutuk: disumpahi akan mengalami suatu kejadian yang tidak menyanangkan, mungkin berupa kejadian buruk
f. merangkaki: berjalan/berusaha mencari jalan keluar dari masalah
g. dinding buta: jalan buntu, sudah mengetahui bahwa tidak akan ada jalan keluar/jalan tengahnya
h. tak satu juga pintu terbuka: tidak ada satu pun jalan keluar dari masalah
i. padami: mengakhiri
j. unggunan api: hubungan terlarang, selingkuh
k. terpanggang: merana karena si kau (wanita) tidak jua kembali kepada si aku
l. rangka: tak berisi, seperti tak mempunyai kehidupan


3. Lapis Dunia Imajinasi Pengarang
Sajak Tak Sepadan ini meceritakan si aku, seorang laki-laki yang menyerah akan kisah percintaanya dengan wanita yang sudah berkeluarga dengan lelaki yang sepadan dengannya, yang sebelumnya sudah ia duga akan terjadi hal demikian. Sebelumnya, wanita itu adalah kekasih yang sangat dicintainya. Wanita itu menikah dengan orang lain dan bahagia dengan suami serta anak-anaknya.
Sedangkan kehidupan si aku seperti mengembara mencari jati diri setelah ditinggal kawin kekasihnya. Dalam pengembaraannya itu, ia sudah seperti orang gila, mungkin karena kekecewaannya yang begitu dalam pada wanita itu. Hal tersebut digambarkan dengan perumpamaan seorang raja Persia, yaitu Ahasveros.
Ahasveros adalah raja yang pergi mencari jati diri. Dalam perjalanannya itu, ia menemukan tumbuhan atau rumput hijau. Kemudian ia selalu memikirkan kenapa ada rumput dan kenapa ada kehidupan di dunia? Akhirnya, ia pun menjadi gila karena mencari sesuatu yang tidak dapat dijangkau pikiran manusia.
Setelah ditinggal kekasihnya, si aku tetap melakukan usaha untuk mengobati rasa sakit hatinya, mungkin dengan tetap merayu dan bertahan untuk setia pada kekasihnya itu. Akihirnya, mereka tetap menjalin hubungan yang terlarang.
Namun, ia merasa sudah tidak ada gunanya lagi ia berusaha. Setelah usahanya terus dilakukan, namun tidak ada kesempatan atau jalan keluar dari masalahnnya. Meskipun si wanita selingkuh dengannya, ia tidak bisa memiliki sepenuhnya. Hal tersebut sebenarnya sudah diduga oleh si aku sendiri, ia tidak akan mendapatkan utuh kekasihnya kembali. Kata “dinding buta” pada bait ke dua mengisyaratkan bahwa ia telah berjalan ke arah yang sebenarnya sama sekali tidak bisa dilihat. Kebenaran pun terbukti, ia tidak dapat merebut kekasihnya kembali.
Pada bait ke dua disiratkan bahwa si aku seperti hilang keberuntungan dalam mencari pasangan hidup. Hal tersebut tersirat dari baris pertama bait ke dua, yaitu “Dikutuk-sumpahi Eros”. Seperti yang diketahui, Eros adalah dewa cinta. Eros juga bisa disamakan dengan dewa Amor, yang juga merupakan dewa cinta. Seolah ia memang ditakdirkan hanya sendiri dalam perjalanan hidupnya. Meski telah menempuh berbagai cara, usahanya tetap tidak berhasil.
Menyerah menjadi pilihan dalam pengembaraannya. Mungkin tokoh aku lelah dengan hubungan gelap itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri kisah dengan kekasih gelapnya. Si wanita tidak akan merasa kehilangan dan terguncang dengan keputusan si aku, karena ia masih mempunyai suami yang mencintainya. Berkebalikan dengan si aku.
Si aku merasa meski ia seperti terpanggang dan hanya tinggal rangka, si wanita tidak mempedulikannya. Itulah akhir kisah perjalanannya sebelum dan sesudah menjadi selingkuhan dari wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu.
4. Lapis Dunia Implisit
Dalam sajak Tak Sepadan ini, si aku adalah kiasan seorang lelaki yang ditinggal kawin kekasihnya. Si kau adalah wanita yang menjadi kekasih si aku yang menikah dengan orang lain, bukan dengan si aku yang menjadi kekasihnya.
Ahasveros adalah seorang raja Persia yang mengembara mencari jati dirinya. Namun, dalam pengembaraanya itu ia menemukan tumbuhan dan berpikir kenapa ada kehidupan, yang akhirnya menjadi gila karena memikirkan hal yang memang jawabannya tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia.
Dalam sajak ini, Ahasveros dijadikan perumpamaan si aku. Si aku yang ditinggal kawin kekasihnya merasa kecewa dan memutuskan untuk mencari jati dirinya sendiri, mungkin dengan pengembaraan menjadi selingkuhan dari mantan kekasihnya yang kini telah menikah itu.
Eros adalah dewa cinta dan nafsu seksual. Ia juga disembah sebagai dewi kesuburan. Eros dalam sajak Tak Sepadan ini memiliki makna kemalangan atau ketidakberuntungan dalam kisah percintaan karena kata Eros ditegaskan dengan kata dikutuk-sumpahi. Apalagi pada baris berikutnya dikuatkan dengan usaha si aku yang tak mendapat hasil yang sesuai dengan keinginannya.
Eros juga disebut dewa Amor (dewa cinta). Dengan kata dikutuk-sumpahi tersebut, pesan yang tersirat adalah kemalangannnya dalam bercinta. Seolah si aku telah dikutuk oleh dewa cinta sehingga ia tidak beruntung mendapatkan kekasih pujaan hatinya dan tetap hidup sendiri.
5. Lapis Metafisika
Sajak Tak Sepadan ini menceritakan sebuah ketragisan tentang kisah cinta seorang lelaki. Setelah menjalani hubungan dengan kekasihnya, ternyata kekasihnya itu meninggalkannya, menikah dengan laki-laki lain yang sepadan. Sedangkan, si aku yang selama ini menjadi kekasih si wanita tidak sepadan, mungkin dari segi ekonomi keluarga atau status sosial.
Karena rasa cintanya begitu kuat, si aku tetap setia dan mau menjalin hubungan gelap dengan kekasihnya yang sejatinya telah berkeluarga. Namun, dalam penantiannya itu si aku tidak juga mendapatkan tanda-tanda akan kembalinya sang pujaan hati sehingga membuatnya menyerah dan mengakhiri hubungan terlarangnya.
Ketragisan yang tampak dalam sajak ini yaitu dengan usaha yang dilakukan si aku untuk mendapatkan kekasihnya kembali, namun tak berhasil yang mengakibatkannya menyerah dalam perjuangannya. Si kau yang merupakan wanita kekasih si aku tetap setia pada suaminya, dan tak pernah berpaling pada kekasih lamanya. Ia tidak mempedulikan usaha yang telah dilakukan si aku.
Ketika memutuskan berpisah pun, si aku merasa merana dan merasa seperti hanya tinggal rangka tanpa penyanggah. Sedangkan si wanita tak merasakan apa-apa, tak peka terhadap perasaan si aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar