IBU, BUKAN UBI
Prak… sore itu terdengar suara gelas kaca pecah seperti dibanting.
“Ima…” mamanya menjerit memanggil.
Sering terjadi keributan di rumah yang tidak terlalu megah itu. Ima, anak ke dua dari pasangan Pak Ibrahim dengan Bu Lis sejak kecil memang dikenal nakal. Ia bertingkah sesuai dengan apa yang ia inginkan. Itulah yang membuat mamanya sering mengelus dada jika Ima mulai mengamuk, berbagai macam sebabnya. Ayah Ima tidak tinggal bersama keluarga, ia berada di luar kota karena sedang tugas dinas.
“Ima, kamu kenapa lagi? Sudah berapa gelas yang kamu pecahkan? Mama bisa mati berdiri kalau kamu terus begini.”
Dari dalam kamar Ima tidak terdengar suara jawaban sedikit pun. Tak berapa lama terdengar kembali suara gelas dibanting sekira tiga buah. Mama hanya bisa mematung di depan pintu kamar putri bungsunya.
“Assalamu’alaikum….” Suara Ami, kakak Ima yang baru pulang dari kantor tempat kerjanya. Tidak ada suara yang menjawabnya. Ami masuk ke rumah sembari mencari-cari mama.
“Ma… Ma… Ami pulang,” tetap tidak ada jawaban sehuruf pun.
Ami seolah tahu apa yang sedang terjadi di rumahnya. Dengan mantap ia melangkahkan kaki. Dari jarak beberapa langkah, Ami melihat mama sedang berdiri diam tak bergerak di depan pintu kamar Ima. Perlahan ia menghampri mama.
“Ma…” mama menoleh, sadar bahwa Ami telah ada di sampingnya.
“Kamu sudah pulang, Mi?”
“Iya. Ada apa, Ma? Ima mengamuk lagi?”
Mama mengangguk, berjalan diikuti Ami menuju ruang depan. Nampak raut mama yang lelah menghadapi kelakuan Ima. Sedangkan di dalam kamar yang terkunci, dengan muka geram Ima sedang berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon.
“Iya, aku akan ke sana secepatnya.”
Mama dan Ami sedang duduk termenung di ruang makan. Lelah dengan keheningan yang terjadi sedari tadi, Ami pun membuka perbincangan.
“Ma, Ami baru putus dengan Dani.”
“Apa mama tidak salah mendengar? Ada masalah apa?”
Ami tidak menjawab. Mama memandang wajah Ami, nampaknya seperti ada suatu masalah yang mungkin canggung untuk Ami mengatakannya.
“Bukannya kamu sudah sangat cocok dengan Dani? Setahu mama kalian saling menyayangi, bukan begitu?”
“Ada satu masalah yang tidak bisa diselesaikan lagi, Ma. Hubungan Ami dengan Dani tidak mungkin bisa diteruskan.”
“Itu adalah hak kamu, Nak. Tapi mama ingin sekali segera menimang cucu. Padahal Dani adalah calon menantu impian mama. Tapi ya sudahlah, mungkin ini memang sudah jalannya."
"Ma, Ima pergi dulu ya…?” tiba-tiba Ima muncul dan langsung pergi setelah pamit pada mama.
“Mau ke mana, Ima? Jangan pulang malam-malam!”
“Tenang saja, Ma, Ima cuma sebentar. Pecahan gelasnya juga sudah Ima beresin,” jawab Ima dengan terus melangkah keluar.
Gelengan kepala mama dan tatapan Ami mengiringi langkah Ima. Baru saja anak itu mengamuk, sekarang sudah kembali normal dan ceria lagi.
ѾѾѾ
Dalam keheningan malam didukung oleh hembusan angin yang menusuk relung, Ami melamun di dekat jendela kamarnya. Matanya menatap ke satu titik di luar, namun tatapan itu kosong. Dalam kesendiriannya itu Ami sedikit menitikkan air mata. Bayangan dirinya dengan Dani terulang kembali dalam ingatannya.
“Kenapa malah jadi seperti ini? Dani, aku sayang kamu. Semua kepercayaan sudah aku berikan untuk kamu. Tapi kenapa penghianatan yang aku terima? Kebohongan yang sangat menyakitkan buat aku. Entah apakah aku kuat menerima kenyataan ini. Pertama kamu bilang cuma aku yang ada di hatimu, tapi semuanya bohong. Ternyata kamu mendua di belakang aku. Tidak mungkin hal ini aku katakan pada mama.”
Ami mengusap air mata di pipi. Sejenak terdiam.
“Begitu juga dengan mama, sudah meyakinkan sepenuhnya bahwa kamu adalah lelaki yang terbaik buat aku. Kamu jahat, Dani… aku benci sama kamu."
“Kak Ami…”
Di sela kesedihan yang begitu mendalam, Ima memanggilnya dengan nada bingung dan setengah menjerit. Ami dibuatnya kaget dan langsung keluar kamar tanpa lupa mengusap air mata yang agak membanjiri pipinya.
Ternyata mama jatuh pingsan di lantai. Ima melihatnya ketika baru membuka pintu rumah. Mama sudah jatuh di lantai sebelum Ima datang. Mama segera dibawa ke rumah sakit terdekat.
Malam itu seakan sunyi bagi Ima dan Ami. Orang yang paling mereka sayangi tengah terbujur tak berdaya di ranjang rumah sakit. Jam di tangan Ima menunjukkan angka 21.15. dokter yang memeriksa Bu Lis belum keluar juga, semakin bertambah khawatir kedua gadis itu.
Beberapa menit kemudian keluar dokter dari kamar Bu Lis diiringi seorang suster. Dokter itu menghampiri Ami dan Ima yang sedang duduk dengan wajah tegang.
“Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?” tanya Ami.
Sejenak dokter terdiam, lalu menjawab.
“Ibu Anda mengidap penyakit jantung tapi masih dalam taraf ringan.”
“Apa? Jantung? Tapi mama saya tidak mempunyai penyakit yang membahayakan seperti itu, Dok,” Ima geram mendengarnya.
“Tapi memang itu kenyataannya. Mungkin ibu Anda sudah mengetahui hal ini, tapi merahasiakannya. Untuk sementara, saya sudah memberi obat untuk pasien dan jangan ganggu istirahatnya. Kalau begitu, saya permisi,” jawab dokter.
“Iya, Dok,” jawab Ami lemas.
“Kak, tidak mungkin sekali mama punya penyakit jantung. Selama ini mama sehat-sehat saja, tidak ada keluhan sedikit pun.”
“Memangnya kamu peduli sama mama? Apa selama ini kamu tahu mama senang atau menangis? Mama sakit karena kamu. Banyak pikiran yang mengganggu mama, makanya jiwa mama terguncang karena tingkah kamu yang sering membuat mama sedih. Mama terlalu banyak memendam perasaan karena kamu. Dasar anak tidak tahu diuntung.”
Kata-kata Ami membuat telinga Ima panas, namun ia hanya bisa diam. Ia tidak bisa membantah orang, apalagi kakak satu-satunya. Ami pergi entah ke mana meninggalkan Ima yang masih duduk di kursi depan kamar mama.
Merenungi kata-kata Ami, Ima seolah sadar dan ikut setuju dengan Ami bahwa penyebab mama sakit adalah dirinya. Tak mau lama-lama melamun, Ima masuk ke kamar mama untuk menemani dan menjaganya. Ia duduk di kursi sebelah ranjang mama, memegang tangan mama dan menatap wajahnya.
“Ima bukan anak yang baik buat mama. Mama sudah baik sama Ima, tapi Ima selalu membuat mama menangis sampai masuk rumah sakit seperti ini. Ima minta maaf, Ma. Ima sayang mama. Ima ingin mama cepat sembuh,” Ima mencium kening mama yang masih tertidur karena pengaruh obat.
Ima memang dikenal nakal oleh keluarganya. Akan tetapi, sebenarnya ia adalah anak yang lembut dan penyayang. Ima anak yang lemah dan mudah terbawa perasaan. Semua kenakalannya itu karena ia tidak bisa mengungkapkan rasa kesal atau kecewanya. Ia memendam semua sendiri, tidak pernah mengatakannya pada orang lain. Aktifitas memecahkan gelas pun hanya untuk perwujudan kekesalannya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Jika sudah puas membanting gelas, Ima akan kembali seperti semula.
Malam itu Ima tak memejamkan mata sekali pun, matanya hanya tertuju pada mama. Sedangkan Ami entah ke mana tak kembali setelah mengatakan Ima penyebab mama sakit. Paginya Ima sudah tak lagi di dekat mama karena hari itu ada ujian salah satu matakuliahnya. Lagipula, Ami sudah pulang ke rumah sakit menunggu mama yang masih belum sadar.
Di kampus Ima tak bisa fokus ke soal ujian. Yang ada dalam bayangannya hanya mama, bagaimana keadaan mama sekarang. Apa mama sudah sadar? Ima mengerjakan soal pun dengan tergesa-gesa agar cepat selesai dan kembali ke rumah sakit.
“Ima, kamu buru-buru sekali. Ada apa?” tanya Rafi ketika keluar kelas. Rafi adalah teman yang paling dekat dengan Ima. Ya, mereka pacaran.
“Mamaku masuk rumah sakit tadi malam. Aku harus segera pulang ke sana.”
“Aku ikut.”
Akhirnya Rafi ikut dengan Ima ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan Ima tidak berbicara sedikit pun, Rafi pun mengerti keadaan Ima. Sekira dua puluh menit perjalanan, sampailah Ima dan Rafi di tempat tujuan.
Ketika masuk kamar mama dirawat, Ima melihat mama sudah sadar dan sedang bercanda dengan Ami. Ia dan Rafi masuk, berdiri di sebelah mama setelah menyalami tangan mama. Mama melihat Rafi, karena selama ini belum tahu Ima punya teman seperti Rafi.
“Selamat siang, Tante!” Rafi menyapa mama.
“Selamat siang. Teman kampus Ima?”
“Em…” Rafi bingung. Ia ingin mengatakan kalau ia adalah pacar Ima, tapi Ima memberi isyarat jangan memberi tahu mama.
“Iya, Tante. Saya teman Ima di kampus. Nama saya Rafi, satu kelas sama Ima.”
“Kamu terlihat santun dan baik. Andai Tante punya anak seperti kamu, pasti Tante sangat bahagia.”
“Makasih, Tante. Saya jadi tersipu mendengarnya. Oh iya, bagaimana keadaan Tante sekarang? Kata Ima, Tante sedang sakit. Makanya saya ikut menjenguk ke sini. Tapi maaf, saya tidak membawa apa- apa buat Tante.”
“Tante sudah mendingan, terimakasih. Oh iya, ini Ami, kakaknya Ima. Ayo kenalan!”
Ami dan Rafi saling berpandangan dan saling menjabat tangan. Pertemuan mereka ternyata membekaskan rona bahagia di hati Ami. Dalam kesan pertamanya terhadap Rafi, ia adalah lelaki yang membuat hatinya bergetar. Tatap mata, senyum, serta perlakuan Rafi yang sopan mampu membius Ami. Dalam hatinya yakin bahwa ia telah mencintai Rafi.
“Ima, kenapa kamu baru mengenalkan Rafi ke mama?” tanya mama ketika Rafi sudah pamit pulang.
“Rafi cuma teman Ima, Ma. Buat apa Ima kenalin ke mama?”
“Loh, bukannya kamu sering membawa teman ke rumah? Lagipula, mama juga ingin kenal teman-teman kamu juga.”
“Iya, Ma.”
Malam itu terasa berbeda buat Ima, suasana hatinya kelam bersama malam yang semakin gelap. Mama dan Ami sedari tadi selalu membicarakan Rafi. Tiba-tiba, mama memanggil Ima yang masih di dekat jendela kamar rawat mama.
“Ima, mama mau tanya. Apa kamu setuju kalau Ami menikah dengan Rafi? Mama sudah ingin sekali menimang cucu, sedangkan mama tidak tahu sampai kapan mama masih kuat. Mama merasa Rafi adalah calon yang baik buat Ami. Bagaimana menurut kamu, Ima? Kamu juga pasti mau punya saudara laki-laki yang baik seperti Rafi, bukan?”
Pertanyaan mama seperti petir di malam hari. Menggelegar, menyambar hati Ima yang semakin kalut. Bola mata Ima terasa memanas ingin mengeluarkan cairan bening yang menghujan, tapi ditahannya demi mama.
Ima masih terdiam, bingung entah jawaban apa yang harus ia katakan pada mama. Di satu sisi, ia sangat menyayangi Rafi, mereka sudah cukup lama pacaran. Tapi di sisi lain, yang meminta adalah mama, berat hati Ima menolaknya memberikannya.
“Ima, kenapa diam? Kamu mau kan mengatakan hal ini pada Rafi? Mama yakin Rafi akan mempertimbangkannya, karena kalian adalah teman. Lagipula, Rafi akan menikah dengan kakak kamu. Jadi, Rafi bisa tetap menjadi teman kamu.”
“Itu yang membuat Ima bimbang, Ma. Rafi akan menikah dengan kak Ami, kakak Ima sendiri. Ima sayang sama mama, apa pun akan Ima kasih buat mama. Tapi Ima juga sangat mencintai Rafi,” Ima berkata dalam hati.
“Iya, Ma. Ima akan mengatakannya pada Rafi besok. Ima akan berusaha,” berat hati Ima mengatakannya. Sakit menyayat hati Ima, manakah yang akan dipilihnya?
ѾѾѾ
“Apa? Itu sangat tidak mungkin. Ima, kamu tahu aku sayang sama kamu. Aku cuma cinta sama kamu. Tidak mungkin aku menjalin hubungan dengan orang lain, apalagi menikah, dan itu dengan kakak kamu. Aku tidak sanggup,” seperti yang dibayangkan Ima, pasti Rafi akan menolak permintaannya.
“Aku tahu itu, aku percaya cinta kamu. Tapi kamu tahu, tidak mungkin juga aku menolak keinginan mama. Mama sedang sakit,” air mata Ima mulai jatuh.
“Tapi itu bukan alasan buat aku untuk menikah dengan Ami.”
“Kalau begitu, anggap saja ini permintaan terakhirku. Aku tidak mau meninggalkan kalian dengan keadaan seperti ini. Aku ingin membahagiakan mama. Mungkin ini adalah jalannya, Fi.”
Rafi diam, menunduk. Ingin juga ia menjerit sekencang-kencangnya. Tak tahan air matanya pun bercucuran.
“Aku ingin kamu yang jadi istri aku.”
“Aku takut tak sampai waktunya. Kalau kamu benar sayang, lakukan dan kabulkan permohonanku.”
“Kenapa tidak kamu katakan saja pada mama atau Ami tentang hubungan kita?”
“Itu sangat tidak mungkin, Rafi. Mama sudah sangat yakin dengan keputusannya.”
“Lalu bagaimana dengan kamu? Aku tidak mau menyakiti hati kamu, malaikatku.”
“Biarkan aku membawa kepahitan di dunia, tapi kebahagiaan mengiringiku ke alam sana. Setiap hari aku akan tersenyum untuk kalian. Aku ingin pergi dengan tenang. Aku ingin menyelesaikan tugasku, yaitu membahagiakan mama.”
Kedua manusia itu terpaku di tempat duduk masing-masing, sibuk dengan pikiran dan kegalauannya. Rafi menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Ima hanya diam dengan air mata yang telah membasahi seluruh lapisan pipinya.
“Aku minta maaf, Fi. Aku tidak bisa mewujudkan keinginan kita membangun istana cinta. Waktuku tidak banyak untuk membangunnya, walau hanya sebatas fondasi.”
“Semua percuma. Istana itu sudah menjadi puing-puing yang tidak bisa lagi diperbaiki. Keindahannya memudar bersama kepergian sang permaisuri. Biarkan reruntuhan itu hanyut disapu air hujan yang datang. Aku menyerah, aku akan dicarikan permaisuri yang lain. Membawanya ke dalam istana yang tak akan seindah dan semegah istana pertamaku dengan belahan jiwa yang singgasananya tidak akan pernah terganti di hatiku.”
Ima dan Rafi saling memandang.
“Mulai detik ini, kamu adalah calon kakak iparku.”
“Benar, calon adik iparku sayang. Aku akan tinggal serumah dengan istri dan adik ipar yang sangat berarti dalam kehidupan pertamaku. Walaupun di kehidupan pertama aku tidak bisa mengarungi samudera bersamanya, tapi aku berharap kami akan dipersatukan lagi di nafas ke dua.”
ѾѾѾ
Hari itu langit tak sejalan dengan Ima. Cuacanya sangat cerah, tak seperti hati Ima yang harus menerima kenyataan pahit. Hari itu rumah Ima tak seperti biasanya, dari halaman depan sampai belakang terlihat ramai. Ima harus meluaskan hatinya melihat Ami dan Rafi duduk bersanding. Mereka kini telah benar menjadi satu keluarga.
Tamu yang datang memberi selamat pada kedua mempelai. Dari jauh Ima tak hentinya memandang kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ami, apalagi mama. Tak ada sesal yang ia rasakan, karena ia merasa telah mengabulkan permintaan mama. Mama sembuh dan kembali tersenyum pun sudah menjadi kebahagiaan yang tak terhingga bagi Ima.
Tak lama kemudian Ami memanggilnya.
“Ima, kenapa kamu di situ terus? Ayo sini, kita foto keluarga bersama.”
Ima menghampiri kursi pengantin yang telah dihias dengan indah itu. Ia berdiri di antara mama dan papa. Namun, sang fotografer menyuruhnya untuk berdiri di samping Rafi. Awalnya Ima menolak, tapi tak ada alasan baginya untuk melakukan hal itu.
“Ima, bukankah kita telah menjadi saudara? Kamu jangan canggung lagi, tak ada alasan kamu menghindari aku. Tidak ada kecanggungan di antara teman.”
“Rafi benar, Ima. Kan di sebelah sini sudah ada mama sama papa. Jadi kamu di sebelah situ saja supaya ada pendamping di samping kanan dan kiri,” mama menambahkan.
“Iya, Ma.”
Rafi hendak menggandeng tangan Ima, tapi ia menolaknya. Karena Ima melihat tangan Ami merangkul tangan Rafi dengan mesra, ia agak menjauh dari posisi Rafi.
“Tidak akan ada wanita lain yang akan mengisi ruang di hatiku. Hanya kamu, dan selalu hanya kamu, Ima. Aku janji. Walaupun bumi sudah tidak lagi mengizinkan kamu bernafas, tapi cinta ini hanya kupersembahkan untuk kamu,” dalam hati Rafi yakin kekuatan cintanya pada Ima, begitu juga sebaliknya.
“Bukan aku menyesalkan keadaan ini yang terjadi. Yang aku sesalkan, kenapa aku tidak bisa menahan air mata? Aku bahagia melihat kebahagiaan semua orang, mama, , papa, Kak Ami, dan kamu. Tapi aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Aku yang menginginkan pernikahan ini, tapi rasanya aku juga ingin menghentikannya. Aku tidak sanggup, Fi. Pangeran berkuda putihku telah bersanding dengan putri pilihanku sendiri,” Ima membatin.
ѾѾѾ
Acara resepsi pernikahan Ami dan Rafi telah berlangsung, papa kembali ke Surabaya untuk tugas dinasnya dan Rafi kini tinggal serumah dengan keluarga Ima. Malam itu Ima sedang termenung di taman depan kamarnya. Melamun, entah apa yang dilamuninya. Pikirannya kosong, tatapan matanya pun kosong.
Dari arah belakang Rafi datang menghampiri. Ia duduk di samping Ima, membuat Ima melepaskan semua lamunannya.
“Kenapa kamu ke sini? Aku takut Kak Ami melihat kita berdua di sini.”
“Memang kenapa kalau Ami melihat kita? Itu yang aku inginkan. Malam-malam begini kamu harusnya di dalam. Angin malam tidak baik untuk kamu.”
“Peduli apa kamu soal itu? Aku baik-baik saja. Harusnya kamu mengurusi kak Ami, bukan aku.”
“Ima, kamu harus memperhatikan kesehatan kamu sendiri.”
“Aku ingin segera meninggalkan dunia ini. Dunia yang menawarkan aku dalam dua pilihan yang sulit buat aku untuk menentukan.”
Rafi sontak kaget mendengar kalimat Ima. Ima yang dikenalnya adalah gadis yang tegar walaupun menanggung beban yang tak ringan. Namun, selama ini Rafi tidak pernah mendengar Ima menyerah dengan penyakit yang dideritanya selama kurang lebih satu tahun itu.
“Apa yang kamu katakan itu, Ima?”
“Entahlah. Kenapa ngomong seperti itu, aku juga tidak tahu. Allah yang menuntunku mengatakan itu.”
Angin malam semakin dingin. Ima sudah melipatkan tangannya ke dada. Mukanya pucat, bibirnya terlihat agak biru. Bibirnya pun bergetar, matanya sayu.
“Ima, kamu masuk saja. Lihat, wajah kamu sudah pucat.”
Bukan jawaban yang terlontar dari Ima, tapi ia malah jatuh pingsan. Rafi segera membopong Ima ke dalam rumah. Mama yang melihatnya kaget dan langsung menyuruh Rafi membawa Ima ke kamar.
“Ima kenapa, Rafi?” tanya mama.
“Entahlah, Ma. Tadi kami sedang mengobrol di halaman depan. Tiba-tiba Ima jatuh pingsan, mungkin karena ia kedinginan.”
“Kalian mengobrol di halaman depan? Kenapa aku tidak tahu?” terlihat kecemburuan pada nada Ami.
“Kami cuma ngobrol biasa. Lagipula, kami sudah biasa bercanda dan menikmati malam….” Rafi kelepasan ngomong, membuat Ami semakin curiga.
“Em… maksud aku, kami sering bercanda di malam hari bareng sama teman-teman yang lain juga. Kami sering praktek kuliah sampai malam. Tadi pun kami sedang membicarakan masalah kuliah,” Rafi berusaha menjelaskannya.
“Sudahlah, Ami, mereka hanya berbincang biasa. Yang penting sekarang adalah kesehatan Ima. Adikmu pingsan, ia pasti sakit. Tidak biasanya Ima sampai jatuh pingsan. Kalau benar-benar sakit atau kelelahan, paling ia istirahat langsung sembuh,” mama mengusap-usap kening Ima, panas badannya tinggi, membuat mama takut.
Sekian lama Ima tak sadar, semua orang di rumah itu menjadi panik. Ima dilarikan ke rumah sakit terdekat, yang merupakan tempat mama pernah dirawat juga. Mama merasa heran sekali, Ima bisa pingsan dan separah itu.
“Boleh saya berbicara empat mata dengan ibu?” tanya dokter ketika keluar setelah memeriksa Ima.
“Iya, Dok.”
Rafi gelisah melihatnya, seolah ia takut sesuatu yang ia rahasiakan akan terungkap sekarang.
Di dalam ruangan dokter, mama sangat gelisah takut terjadi apa-apa terhadap Ima. Bagaimana pun, Ima adalah anaknya, anak yang lahir dari rahim dan dibesarkannya dengan balutan kasih sayang.
“Anak saya kenapa, Dok? Tidak biasanya Ima sakit sampai pingsan seperti ini.”
“Apa ibu tidak tahu penyakit yang diderita anak ibu? Ima menderita penyakit leukemia.”
Bagai tertimbun runtuhan langit, merontokkan tulang dan persendian. Jantung mama serasa ingin lepas dari tempatnya bertengger.
“Leukemia? Apa Dokter yakin? Soalnya, Ima tidak pernah mengeluh sakit pada saya. Ia adalah anak yang kuat, tidak mungkin ia mengidap penyakit yang seganas itu.”
“Karena ia kuat, maka Ima mampu bertahan sampai sekarang. Kalau Ima lemah, mungkin sekarang Ima hanya tinggal nama.”
Mama diam. Air matanya mulai mengucur bak air mancur. Ima yang selama ini tidak pernah mengeluh, bahkan waktu kecil berdarah ketika jatuh pun, ia tidak menangis.
“Ima mengidap penyakit ini sudah lama, mungkin sekira satu tahun lebih. Apa ia tidak mengatakan apa pun pada Ibu?” tanya dokter melanjutkan.
“Lalu bagaimana, Dok? Pasti ada jalan untuk menyembuhkan Ima, bukan?”
“Kemungkinannya kecil, Bu. Penyakit ini sudah lama diderita Ima tanpa pengobatan yang signifikan. Kami hanya bisa melakukan yang terbaik, sedangkan hasilnya hanya Allah yang menentukan.”
Mama keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang terbanjiri air mata, yang dipikirkannya hanya Ima. Mama duduk di antara Ami dan Rafi.
“Mama kenapa? Kenapa mama menangis?” tanya Ami sambil tangannya mengelus-elus pundak mama, menenangkan isak mama.
“Rafi, mama mau tanya sama kamu. Mama minta kamu jawab yang jujur, mama tidak mau ada sesuatu yang ditutupi dari mama lagi.”
Rafi tertunduk. Ia tahu apa yang ingin dibicarakan mama. Rafi pun merasa bersalah. Andai ia tidak menyembunyikan rahasia itu, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Tapi itu adalah permintaan Ima, ia tidak mau membuat orang sekelilingnya menjadi hawatir dan ia menjadi beban buat mereka.
“Apa kamu tahu tentang penyakit Ima? Apa kamu tahu Ima menderita penyakit leukemia? Jawab mama, Rafi. Mama sangat menyayangi Ima, mama tidak mau terjadi hal-hal yang buruk terjadi pada Ima. Kalau perlu, mama akan merelakan nyawa mama untuk menyembuhkan Ima. Jalan Ima masih panjang, mama tidak mau hal buruk itu terjadi. Mama takut…”
“Mama bicara apa? Memangnya tadi dokter bicara apa?” Ami bingung dengan sikap dan pertanyaan mama pada Rafi.
“Maaf, Ma. Ini adalah salahku, aku tidak jujur pada mama. Ima yang meminta untuk tidak mengatakan pada siapa pun, termasuk mama.”
“Tapi saya adalah mamanya, ibu yang satu darah dan pernah menjadi satu tubuh dengan dia. Mama bisa merasakan sakit yang ia rasakan. Sekarang pun, hati mama seperti dicabik-cabik pisau tajam bergerigi. Kamu tidak mengerti perasaan mama.”
“Ima tidak mau merepotkan mama, tidak mau membuat mama sedih.”
“Tapi hal ini lebih menyakitkan buat mama. Kenapa kalian merahsiakan ini pada mama? Ini bukan masalah sepele, ini menyangkut hidup Ima. Mama tidak sanggup kalau harus kehilangan darah daging mama.”
Semua terdiam, sedangkan mama masih menangis. Rasa sesal terlintas dalam benaknya. Selama ini mama lebih fokus pada Ami, melupakan keberadaan Ima yang sesungguhnya lebih memerlukan kasih sayang dan perhatian lebih dari mama.
Tiba-tiba terdengar suara suster yang merawat Ima berteriak memanggil dokter, sedangkan suster lainnya setengah berlari memanggil dokter di ruangannya. Mama, Rafi, dan Ami beranjak lari dan masuk ke kamar Ima. Di dalam kamar Ima terlihat masih tertidur dengan wajah yang berseri. Bibirnya mengulas senyum tipis, seperti sebentar lagi hendak bangun dan menyambut matahari esok pagi.
Dokter segera datang dan memeriksa Ima. Semua jantung di ruangan itu berdebar menanti hasil. Tak terkecuali mama, dalam hatinya tak henti meminta yang terbaik untuk Ima.
Dokter selesai memeriksa Ima. Dari raut wajahnya, dokter ingin meminta maaf karena telah mengalami kegagalan yang juga mengecewakan keluarga pasien. Alat peraga denyut jantung pun menayangkan garis lurus, tanda tak ada lagi denyut jantung dari Ima.
“Ima…..” mama menjerit dan langsung memeluk tubuh Ima yang masih terasa hangat. Pandangan mama terlihat kabur, sekelilingnya gelap dan berputar-putar. Karena tidak kuat menahan kesedihan, mama pun pingsan.
ѾѾѾ
Tiga hari sudah peristiwa kelam itu terjadi. Mama masih dirundung kesedihan yang mendalam. Mama sedih karena tidak bisa menemani Ima di saat ia sangat membutuhkan motivasi dan dukungan dari orang-orang tercinta. Pada hari itu, mama ke kamar Ima karena ingin mengenang putri kecilnya.
Mama mengamati tempat tidur, lemari, boneka, sampai meja Ima. Mama membuka laci meja Ima, di situ mama menemukan dua buah surat. Surat yang satu bertuliskan “to mama”, dan yang satu bertuliskan “to Rafi”. Mama mengamati kedua surat itu. Melihat tulisannya, mama tahu itu adalah tulisan tangan Ima.
Surat yang bertuliskan “to mama” dimasukkan ke dalam saku mama, sedangkan surat satunya diberikan kepada Rafi. Di kamar mama memperhatikan surat tersebut. Perlahan mama membuka dan membacanya.
Dear Mama,
Ima minta maaf, Ma. Mungkin mama kecewa dengan sikap Ima yang pasti sangat menyakitkan mama. Ima tahu, Ima belum bisa menjadi anak yang baik untuk mama dan papa. Tapi, Ima yakin kasih sayang mama tidak akan pernah luntur pada Imadsan Kak Ami.
Ketika mama membaca surat ini, mungkin Ima sudah tidak bisa menatap mata mama, senyum mama, dan semua yang ada di tubuh mama. Di sana Ima pasti akan merindukan mama.
Ma, Ima minta mama jangan sedih. Ima tidak mau mama menangisi takdir yang telah digariskan. Oh iya, Ma. Ima juga minta maaf. Ima mau membuat satu pernyataan. Waktu kelas dua SD, pulang sekolah Ima mengambil ubi mama di atas meja. Ima tidak mau mama menjadi bau karena makan ubi. Ubi kan cuma akan menimbulkan kentut yang bau. Ima mau mama selalu wangi seperti bunga di taman depan kamar Ima.
Ima juga ingin mengucapkan terimakasih yang mungkin tidak sempat Ima ucapkan secara langsung, memeluk mama, bermanja-manja dengan mama. Terimakasih untuk kasih sayang yang tidak ada matinya bagi Ima. Walaupun Ima tidak bisa merasakannya di sini, tapi Ima akan mendapatkan aliran kasih mama di sana. Ima akan merasakannya, Ma.
Waktu itu Ima pulang telat karena Ima main dulu ke rumah teman. Mama menunggu sampai tertidur di ruang depan. Ima kasian sama mama, Ima ambil selimut dan memakaikannya untuk mama. Terimakasih, Ma. Terimakasih untuk cinta yang tak pernah habis ini. Ima bangga menjadi anak mama.
Permintaan terakhir Ima, tolong kubur rambut Ima yang rontok di depan kamar mama agar Ima tetap berada di dekat mama. Ketika bangun pun, Ima akan melihat dan menyapa mama.
Luv U, Mom….
Mama tertegun membaca surat terakhir Ima. Dalam bayangannya, mama tidak menyangka Ima akan mempunyai pikiran seperti itu, apalagi alasan Ima waktu kecil mengambil ubi mama.
Tak beda dari mama, Rafi pun membaca surat terakhir Ima. Di taman tempat ia sering berdua dengan Ima, Rafi mulai membuka dan membacanya.
Pangeranku, cinta dan perhatianmu seperti ujung kuku, selalu tumbuh walaupun sering dipotong. Tapi aku tidak bisa menjadi daging untuk kautumbuhi. Aku yakin Kak Ami adalah yang terbaik untukmu. Ia adalah gadis yang cantik, baik, dan setia. Yang paling penting, Kak Ami sangat mencintai kamu.
Terimakasih kamu telah memenuhi permintaanku, tidak mengatakan pada orang lain tentang penyakitku. Maukah kau mewujudkan satu lagi permintaanku? Jangan katakan pada siapa pun tentang hubungan yang pernah kita jalani. Biarkan kisah itu aku bawa bersama ragaku. Jalani kehidupanmu seperti biasa. Namun, aku juga tidak mau kaulupakan. Walaupun ragamu telah bersama bidadari lain, tapi aku ingin hatimu masih menyimpan cintaku.
“Aku janji, Ima. Aku akan menjaga cinta yang tak mempunyai waktu untuk bersatu ini. Hubungan kita pun tak akan pernah aku katakan pada orang lain, termasuk mama dan Ami. Aku akan belajar mencintai Ami, meski pasti tidak akan sempurna cintaku padanya, tak seperti cintaku padamu.”
Di taman itu banyak kenangan bersama Ima. Bayangan demi bayangan seolah kembali terulang dalam pikiran Rafi. Mulai saat ini, taman itu kehilangan salah seorang pengunjung setianya. Namun, ada satu hal yang tidak melunturkan kenangan Rafi bersama Ima. Di taman itu ada seorang pedagang yang menjual ubi bakar dan rebus. Setiap melihatnya, Ima ingin segera membeli agar mama tak dapat membelinya. Karena ubi adalah makanan kesukaan mama, sedangkan Ima tidak mau mama sama seperti ubi yang memberi aroma tidak sedap. Ima ingin mama menyebarkan keharuman untuk sekelilingnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar