Pungguk Merindukan Bulan
Kerapuhan semakin rapuh
Batu karang hancur diterpa ombak segelintir
Tak mengindahkan batu yang tengah tergolek
Merobohkan dinding istana hingga berpuing
Tahta singgasana dalam lagu
Kandas di bawah langit yang bersahabat
Sekelumit darah merontokkan jantung
Mematahkan tangkai bunga yang baru mekar
Tiap malam memetik bintang
Terkumpul satu demi satu hingga tak hanya satu
Mengapa sulit keheningan malam menjadi ramai
Kabut kelam kian menggelapkan mata
Sang puitis menjadi mawar penuh duri
Tak seberapa jika disandingkan dengan kilau yang bercahaya
Namun mawar tak pernah layu oleh teriknya matahari
Tak pernah membeku oleh dinginnya salju
Petir menyalak hendak berteriak
Bila malam tak mampu pertahankan bulan
Biarkanlah bintang berkedip di atas
Walau saat indah kian jauh untuk ditapak
Bisu dan Bicara
Ia melangkah terbahak
Batu kerikil jalan tak terelak
Gertak tajam angin meliuk
Terpesona keelokan sang tari
Panas elapan tangan itu
Menuba kamar berhias ayat hati
Berpadu peluk menyayat
Mata terbelalak meminta jawaban
Kiaskan minuman cinta
Lidah terlunak berkelok
Seirama akan angin yang menembus kulit
Raga melayang bersama putihnya
Tawa masih terpasang di sudut
Bangun tak arti bicara
Diam tak arti bisu
Gundah
Gugur layu panasnya terik
Tangkai kayu putihnya suci
Tiada kabar bernaung diri
Sukma jiwa merengkuh kaki
Di atas langit ada langit
Bukan memerah merah hati
Jangan tanyakan pada mereka
Tak kan ada pernah bersua
Tutup mati jangan pandang
Siku meronta memegang
Kau tetap senyum tenang
Masih Dinda yang Ceria
Jika nafasku tak kuat lagi memanjang
Kirimi aku malaikat penerang
Jika waktuku enggan tuk terus berjalan
Bawa taburan bunga, taruh di atas tanah merah
Berdendanglah dalam alunan doa
Ayah….. Ibu….
Jika Ia memanggilku lebih cepat darimu
Izinkan aku memelukmu
Biarkan raga kita tersentuh
Sebelum jiwa berhenti bersatu
Aku tak mau diiriingi dengan air mata
Senyumlah untuk ketenanganku
Bukan kita yang merancang hidup
Jangan sesali rencana yang akan terjadi
Aku tak minta belas kasih
Yang kuingin hanya asih
Jangan pikir aku tak berdaya
Aku masih Dinda yang ceria
Munafik
Hidup di tengah-tengah orang munafik
Bagai tak hidup di atas dunia
Penuh dengan bohong dan dusta
Banyak termakan omongan sendiri
Bagai hewan menjilat ludahnya sendiri
Tak tahan jika kusudah bercengkerama
Bertemu dengan para setan bermuka dua
Bosan rasanya hati dan mata ini
Lelah menyaksikan mereka mengumbar janji
Lalu… Siapa yang patut disalahkan?
Dengan bermodal mulut dan ucapan durjana
Mereka memperdaya sekitar dengan pandainya
Bertampang alim sok suci
Bedebah !!11
Tak terbersit mengerti perasaan orang lain
Terpikir hanya demi kepuasan sendiri
Hendak apa mereka bertingkah?
Mencari kenyamanan atau perhatian?
Muka-muka munafik itu
Yang bisa tetap sembunyikan tangan
Taubat
Hampir di tiap malam
Dalam kamar tak ada sapaan untuk-Mu
Hawa panas pengap menaungi bilik
Dalam hampa tak ada nyanyian memecah sepi
Ketidakpedulian angkara pada surga
Merajakan hati pada murka
Tangan tak lagi memirit butir-butir kecil yang terkalung
Neraka seolah menjadi barang penghibur
Sekian lama tikar kain bersih tak tergelar
Rindu mendera semak belukar
Selang nista menjelaga dada
Menghempas perih mengutuk yang menggoda
Awan biru menganak sungai
Menengadah, memohon….
Ketulusan cinta-Mu t’lah kuabaikan
Kini dzikir mengalun dalam helaan

Sands Casino Review: Claim your $100 Welcome Bonus
BalasHapusWelcome to our Sands Casino Review. This online casino has been in operation since 2016. It is owned and 바카라사이트 operated kadangpintar by 샌즈카지노 Caesars Entertainment and